|
|
|
|
|
Permesta Mail:
|
|
|
|
|
|
PENGUNJUNG KE: 1558
  
|
|
Letkol M. Saleh Lahade
"Dwitunggal Permesta"
yang dipimpin oleh Letkol H.N (Ventje) Sumual dan Letkol M. Saleh Lahade
merupakan dua tokoh paling menentukan dalam melahirkan gerakan pembangunan
semesta Indonesia Timur. Di antara keduanya, Saleh Lahade yang paling lama dan
kontinu berada di Sulawesi. Setelah menyelesaikan tugas sebagai kepala staf
Komisi Militer di Ujungpandang, awal 1948, Saleh Lahade memegang berbagai
jabatan tinggi dalam staf pimpinan Wirabuana. Mula-mula sebagai PMT (Perwira
Menengah Teritorial) yang menangani masalah-masalah wilayah dan masyarakat,
pemerintahan lokal, dan sebagainya. Waktu Kolonel A.E. Kawilarang dimutasikan
menjadi Panglima Siliwangi, pada bulan September 1951, Kepala Staf Letkol R.A.
Kosasih mengambil oper Komando TT VII Wirabuana sebagai pejabat panglima
sambil menunggu kedatangan Kolonel Gatot Subroto. Untuk menjalankan pekerjaan
sehari-hari, Letkol Kosasih menunjuk perwira tertua, Mayor Saleh Lahade, sebagai
pejabat kepala staf merangkap PMT. Hal itu berlangsung selama tiga setengah
bulan di tengah-tengah operasi terhadap Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan dan
Tenggara, dan RMS di Maluku Tengah. Januari 1952, Kolonel Gatot Soebroto tiba di
Ujungpandang dan mengukuhkan Mayour Saleh Lahade menjadi Staf V Teritorial
merangkap "juru bicara" Panglima. Tugas teritorial sebenarnya telah
ditanganinya sejak Komisi Militer itu melekat pada dirinya pada masa-masa
berikutnya sampai 1956. Ketika itu kontra aksi Presiden Soekarno atas Perwira 17
Oktober 1952 menjalar ke Ujungpandang, M.Saleh Lahade termasuk di antara
beberapa perwira yang bersama Kolonel Gatot Soebroto dikenakan tahanan rumah.
Pada bulan Januari 1953, Panglima Warouw, yang mendaulat pimpinan TT VII
Wirabuana dari Gatot Soebroto itu, menugaskannya sebagai perwira yang mengurus
masalah transmigrasi. Pada Februari, Saleh Lahade mendapat tugas penting sebagai
Perwira OPI (Opsir Pekerjaan Istimewa) X TT VII. Dalam
melaksanakan tugas-tugas tersebut, Saleh Lahade banyak berhubungan dengan
berbagai masalah yang biasanya ditangani pihak-pihak sipil. Landasan kerja yang
diberikan Panglima bersama Gubernur Sulawesi. Dalam kedudukan ini, Saleh Lahade
sangat menyadari, betapa berkaitannya masalah militer dengan masyarakat luas,
seperti misalnya, pembangunan. Ini tampak, umpamanya dalam kegiatan suatu badan
yang diciptakan bersama antara Panglima dan Gubernur yaitu Panitia Pembentuk
Dana Keamanan dan Pembangunan Propinsi Sulawesi, yang dipimpin Andi Burhanuddin
(Residen diperbantukan pada Gubernur) dan Saleh Lahade sebagai salah seorang
anggotanya. Dalam kedudukan itu, Saleh
Lahade berhubungan luas dengan berbagai tokoh politik dalam masyarakat. Ketika
pemilihan umum pertama 1955, ia dicalonkan Partai Kedaulatan Rakyat (PKR)
sebagai anggota parlemen. PKR berdiri sejak 1947, sebuah partai lokal yang
revolusioner dalam perjuangan di Sulawesi. Para pemimpinnya adalah kader-kader
Gubernur Sulawesi pertama, Sam Ratulangi (1945). Partai yang dipimpin Henk
Rondonuwu dan Andi Burhanuddin itu mendambakan modernisasi (pembangunan)
menyeluruh Sulawesi. Sekalipun kalah dalam Pemilu, peranan partai ini tidak
kurang penting setelah itu. Dalam
kedudukannya sebagai perwira dengan tugas-tugas khusus tersebut, Saleh Lahade
pun mengenal permasalahan yang berkisar pada perdagangan kopra. Sejak 1954,
wilayah Sulawesi Utara (Minahasa, Sangir Talaud, Bolaang Mongondow, dan
Gorontalo) telah mengambil alih peranan Yayasan Kopra yang dikelola Kementerian
Perekonomian di wilayah-wilayah itu dan membentuk Yayasan Kelapa yang terlepas
dari pusat. Yayasan Kopra di Jakarta. Perkembangan serupa terjadi pula di
Ujungpandang sejak April 1955. Saleh Lahade mendapat kepercayaan Pejabat
Gubernur untuk menanganinya. Yayasan Kelapa Sulawesi, yang dibentuknya di
Ujungpandang, berusaha mengkoordinasi seluruh perdagangan kopra di pulau itu.
Namun usahanya untuk mendapat izin pemerintah pusat, awal 1959, untuk
perdagangan barter bagi Yayasan Kopra Sulawesi (YKS) dengan pembagian hasil 30%
untuk pusat dan 70% untuk daerah ternyata tidak ditanggapi secara memuaskan. Tidak
disangsikan lagi, pengalaman bertahun-tahun dalam permasalahan pembangunan dan
ekonomi itu menyebabkan M.Saleh Lahade menjadi salah seorang tokoh di TT VII
Wirabuana yang memahami benar persoalan pembangunan serta berbagai aspeknya. (Sumber:
R.Z. Leirissa; PRRI PERMESTA Strategi Membangun
Indonesia Tanpa Komunis) | |
|