|
Biodata |Wawancara | In Memoriam SUMITRO DJOJOHADIKUSUMO: BEGAWAN YANG GEMAR MENGKRITIK Perjalanan kariernya sangat panjang dalam dunia akademik dan pemerintahan. Pada usia muda ia meraih gelar doktor. Umur 33 dipercaya jadi menteri. Selain menjadi guru besar UI, ia pernah menduduki pelbagai jabatan kunci di bidang ekonomi dan pemerintahan. Tapi ia pun aktif di berbagai forum internasional memperjuangan nasib republik ini.
Gayanya yang ceplas-ceplos dan blak-blakan menjadi ciri khas. Sebagai
"begawan" ekonomi, Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo memang selalu
kritis. Setelah menjadi besan Presiden Soeharto pun ia tetap melancarkan
kritik tajam terhadap jalannya roda pembangunan. Baginya, perkawinan anak
laki-lakinya Letjen Prabowo Subianto dengan Siti Hediyati (putri Soeharto)
pada Mei 1983 hanyalah historical accident.
Salah satu kritiknya yang tajam ialah pernyataannya tentang kebocoran 30%
dana pembangunan yang dilansir di Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia
(ISEI) ke-12 di Surabaya, November 1993. ISEI sendiri didirikan Sumitro
tahun 1955.
Bila Sumitro - yang pada 1985 menjadi anggota seven eminent persons
dengan tugas menyusun rekomendasi kepada GATT (General Agreement on
Tariffs and Trade) - sudah kelewat keras mengkritik, biasanya menantunya
datang kepadanya untuk menyampaikan pesan Presiden Soeharto.
"Ada apa, Tiek? Ada pesan dari Bapak?" sambut Sumitro.
"Ya, Bapak bilang, 'Tiek, mertuamu sudah priyayi sepuh kok masih
radikal saja'!" ujar Siti Hediyati alias Titiek Prabowo.
"Ya, saya memang sudah terlalu tua untuk mengubah diri!" jawab
Sumitro enteng.
Masih soal sinyalemen kebocoran itu, ketika bertemu Sumitro, Soeharto
langsung berkata, "Kok, Pak Mitro suaranya begitu?"
Sumitro menjelaskan, sejak mahasiswa ia biasa bicara apa adanya, melihat
suatu masalah lalu mencari problemnya kemudian mencari pemecahannya.
"Dalam hal ini problemnya apa? Banyak. Pemborosan. Orang bilang ekonomi
biaya tinggi. Bagaimana ini, lalu saya cari fakta, dan faktanya memang
begitu. Kalau Bapak ingin fakta, tanya pada Biro Pusat Statistik," ucap
Sumitro, penerima Bintang Mahaputra Adipradana II.
Dengan nada agak sinis Sumitro menambahkan, "Saya tidak punya antena ke
angkasa luar, Pak. Ini hitung-hitungan berdasarkan analisis ilmiah."
"Alhasil, ini bukan pat gulipat, angka 30% bukan datang dari
langit, atau dari paranormal Permadi!" tegas Sumitro, yang pada 1953
oleh Sekjen PBB diangkat sebagai anggota lima ahli dunia (group of five
top experts).
Presiden memahami penjelasan itu namun ia menekankan, "Tapi, mbok
ya jangan disiarkan, Pak Mitro."
Ketika krisis ekonomi semakin memukul Indonesia, akhir 1997, Sumitro kembali
membuat pernyataan tajam. Dalam tubuh ekonomi nasional melekat berbagai
macam penyakit, seperti distorsi dalam bentuk monopoli, oligopoli, kartel,
proteksi yang berlebihan, dan subsidi untuk barang-barang tertentu.
Sumitro melukiskan, "Kalau kita hanya bicara ekonomi moneter, obatnya
cukup Aspirin. Tapi kalau institutional disease, sudah perlu
antibiotika. Dan saya yakin bisa diatasi dengan antibiotika, tidak perlu
sampai diamputasi, karena masih ada kesempatan untuk segera bertindak.
Namun, paket untuk mengatasi disease itu harus dilakukan tanpa
pandang bulu dan tak boleh ada intervensi." (Kompas, 11/1/1998).
Dicuekin Bu Tien
Menanggapi soal adanya kolusi antara oknum pejabat dengan oknum konglomerat,
Sumitro menegaskan, "Saya tidak setuju ada kolusi dengan alasan apa
pun. Hal itu harus diberantas!"
Dalam hal ini ia punya pengalaman menarik. Ada pengusaha yang berusaha
"menyogok" dengan mengirim bunga kepada istrinya. Di balik bunga
itu terselip perhiasan emas dan berlian! Sumitro memanggil sekretarisnya,
Babes Sumampouw, "Babes, apa-apaan ini. Kirim kembali, pulangkan!"
Pengusaha itu datang mengeluh, "Pak Mitro, mengapa begitu?"
Sumitro pun menjawab, "Hati-hati kamu, ya, lain kali. Kamu masih untung
saya menteri. Sembrono kamu, kasih perhiasan kepada istri saya. Enggak ada
orang lain yang berhak memberi perhiasan kepada istri saya. Itu 'kan
menghina seorang suami."
Pengalaman lain, usai menyelesaikan tender impor cengkeh, Sumitro dikejutkan
oleh laporan Ali Moertopo bahwa Ibu Tien Soeharto marah-marah kepadanya. Ibu
Tien berharap Sukamdani yang mendapat tender, tapi kenyataannya yang menang
Probosutedjo dan Liem Sioe Liong.
Sejak peristiwa itu, lebih dari setahun Ibu Tien tak mau menegur Sumitro.
Kalau mereka berjumpa, Ibu Negara itu melengos, membuang muka.
Biarpun begitu, terhadap Dora Sigar, istri Sumitro, sikap Ibu Tien tetap
baik dan mau mengajak bicara.
Meski lima kali menjabat menteri di masa Orde Lama dan Orde Baru, toh ia
tetap rendah hati. Seperti yang terjadi ketika ia menghadiri suatu resepsi
pernikahan.
"Monggo ... monggo, Pak, terus lajeng kemawon (Silakan, Pak,
terus saja ke depan)," pinta anggota panitia, mempersilakan Prof. Dr.
Sumitro Djojohadikusumo yang berada dalam antrean para tamu untuk menyalami
mempelai.
"Sampun ... matur nuwun (terima kasih)," tolak Pak Cum,
panggilan akrabnya. Sementara itu para tetamu VIP dan mereka yang merasa
VIP, saling menyalip maju dan sibuk berfoto ria bersama pengantin.
Sikap rendah hati barangkali bawaan sejak lahir. Tetapi sebagai orang tua ia
dikenal keras dan disiplin dalam mendidik keempat anaknya. Buktinya, putri
tertua, Ny. Biantiningsih yang istri mantan Gubernur BI J. Soedrajat
Djiwandono, sampai memiliki dua gelar kesarjanaan. Begitu juga Ny. Marjani
Ekowati, putri kedua yang menikah dengan orang Prancis. Letjen Prabowo
Subianto berhasil meniti karier cemerlang sebagai Danjen Kopassus dan
Pangkostrad. Lalu si bungsu Hashim Sujono menjadi pengusaha sukses.
Namun di usia senjanya, berbagai cobaan menerpa. Karier Prabowo di militer
tamat, Soedradjat Djiwandono sang menantu lengser sebagai Gubernur BI. Tapi
keluarga Sumitro tetap tegar. "I've been through worst. Ini
bukan yang pertama kali!" katanya lantang. "Ujian buat saya dalam
kehidupan jauh lebih dari itu, habis dari menteri lalu tiba-tiba jatuh jadi
buronan, ha-ha-ha!" tutur penyandang gelar doctor honoris causa
dari Erasmus University Rotterdam ini.
Doktor di usia muda
Anak pertama keluarga R.M. Margono Djojohadikusumo dan Siti Katoemi
Wirodihardjo ini mempunyai riwayat hidup yang cukup mengesankan, seperti
tertuang dalam buku Jejak Perlawanan Begawan Pejuang, terbitan
Pustaka Sinar Harapan, 1999.
Setamat Hogere Burger School (HBS), pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, 29
Mei 1917, ini berangkat ke Belanda akhir Mei 1935. Sempat dua bulan
"mampir" di Barcelona, Sumitro akhirnya ke Rotterdam untuk
belajar. Dalam tempo dua tahun tiga bulan, gelar Bachelor of Arts (BA)
diraihnya. Ini rekor waktu tercepat di Netherlands School of Economics. Ia
lalu melanjutkan studinya di Universitas Sorbonne, Paris (1937 - 1938).
Antara 1938 - 1939 di Prancis, Sumitro bergabung dengan kelompok sosialis
dan berkenalan dengan tokoh dunia seperti Andre Malraux, Jawaharlal Nehru,
Henri Bergson, dan Henri Cartier-Bresson. Sempat ikut latihan militer di
Catalonia, tapi gagal masuk Brigade Internasional karena belum 21 tahun
umurnya.
Dari Paris, Sumitro kembali ke Rotterdam, melanjutkan studi ekonomi. Ia
memasuki periode penulisan disertasi saat Nazi Jerman menyerang Belanda, 5
Mei 1940. Pimpinan Nederlandse Economische Hogeschool menunjuk Prof. Dr.
G.L. Gonggrijp sebagai promotornya. Disertasinya mengenai "Kredit
Rakyat (Jawa) di Masa Depresi" diterbitkan oleh Lembaga Penelitian
Ekonomi Nederlands Economische Hogeschool.
Gelar Master of Arts (MA) diraih tahun 1940. Usianya baru menjelang 26 tahun
saat ia menyandang gelar doktor ilmu ekonomi.
Belajar jadi "penyelundup"
Pada masa proklamasi kemerdekaan RI, Sumitro tergolek sakit di pembaringan
hampir setahun lamanya. Ia menjalani operasi tumor usus besar tanpa
antibiotika. Beruntung ia selamat dari ancaman maut.
Pagi, 18 Agustus 1945, Kota Rotterdam dikejutkan oleh berita Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia, di Radio Hilversum. Berita itu memberikan kekuatan
sugestif bagi kesembuhannya.
Saat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa bersidang di Church House,
London, 17 Januari 1946, ia dan Mr. Zairin Zain ikut hadir. Seusai sidang,
Sumitro dan Zairin terbang ke Jakarta. Tiba di rumah orang tuanya, Sumitro
disambut suasana duka: dua adiknya, Subianto (21) dan Sujono (16) gugur
dalam pertempuran melawan Jepang di Tangerang.
Kenyataan ini memperkuat tekadnya untuk melawan Belanda dalam mempertahankan
proklamasi kemerdekaan RI. Bersama Perdana Menteri Sutan Sjahrir, Sumitro
dan Zairin pada 14 Maret 1946 menyusun argumentasi baru untuk menghadapi
diplomasi Belanda.
Dunia internasional menolak Agresi Militer Belanda, 21 Juli 1947. India dan
Australia, 30 Juli 1947, membawa persoalan Indonesia ke Sidang Dewan
Keamanan di Lake Success, AS. Sutan Sjahrir, H. Agus Salim, Charles Tambu,
Sudjatmoko, dan Sumitro Djojohadikusumo ikut hadir.
Sumitro terpaksa meninggalkan Dora, yang baru enam bulan dinikahinya, pada 7
Januari 1947. Ia berjumpa pertama dengan Dora Sigar di Rotterdam tahun 1945.
Ketika itu Dora belajar di Ilmu Perawatan Pascabedah di Utrecht.
Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melakukan Agresi Militer Kedua. Satu hari
kemudian Sumitro bergegas menemui Robert A. Lovett, pejabat sementara
Menteri Luar Negeri AS di Washington D.C. sambil membawa sebuah memorandum.
Ketika Sidang Dewan berlangsung, Sumitro meninggalkan New York untuk
menghadiri Konferensi Asia yang membahas masalah Indonesia di New Delhi, 18
Januari 1949. Ia bergabung dengan delegasi Indonesia yang dipimpin Mr. A.A.
Maramis.
Masa transisi - mulai dari takluknya Jepang, proklamasi kemerdekaan, hingga
usaha-usaha Belanda untuk menjajah kembali - berdampak bagi perekonomian
Indonesia.
Saat itu masih beredar mata uang Jepang, gulden Belanda, dan uang NICA.
Berangsur-angsur dilakukan penggantian dengan Oeang Republik Indonesia
(ORI). Oleh karena kekurangan bahan kimia untuk membuat ORI, Sumitro
mencarinya ke Singapura dan "menyelundupkannya" ke Jawa. Ia
belajar jadi "penyelundup" untuk kepentingan revolusi. Ini tugas
dari Sjahrir dan Bung Hatta.
Pada 12 April 1947, Presiden Soekarno membentuk Panitia Pemikir Siasat
Ekonomi pimpinan Muhammad Hatta. Anggota panitia pemikir berjumlah 98 orang.
Sumitro bertugas memikirkan hal-ihwal keuangan dipimpin Mr. Sjafruddin
Prawiranegara.
Usianya masih sangat muda (33) ketika Sumitro diangkat jadi Menteri
Perdagangan dan Perindustrian, sekitar Mei atau Juni 1950. Pada 20 Maret
1951 Kabinet Natsir roboh.
Ketua Senat FE-UI Suhadi Mangkusuwondo bersama mahasiswa FE-UI meminta
Sumitro menjadi dekan. Waktu itu usianya 34 tahun. Belum lama menjabat
dekan, Dr. Sumitro Djojohadikusumo diangkat menjadi guru besar ilmu ekonomi
di FE-UI. Pada 3 April 1952, Sumitro kembali diangkat menjadi Menteri
Keuangan Kabinet Wilopo. Sejak 3 Juli 1953, Kabinet Wilopo demisioner.
Tanggal 30 Juli 1953 Sumitro kembali menjadi Dekan FE-UI.
Semenjak menjadi Menteri Keuangan pada Kabinet Wilopo-Prawoto (3 April 1952
- 30 Juli 1953), Sumitro merasakan adanya ketimpangan daerah. Terjadi
pergolakan dalam dirinya sebagai politikus dan akademisi!
Tanggal 30 Juli 1953 - 24 Juli 1955 adalah masa Kabinet Ali Sastroamidjojo
I. Kemudian terbentuk Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 - 24
Maret 1956) dan Sumitro kembali dipercaya sebagai Menteri Keuangan.
Bergabung dengan "pemberontak"
Sepanjang tahun 1957, koran komunis dan pers nasional seperti Harian
Rakyat dan Bintang Timur melansir pemberitaan buruk tentang
Sumitro. Ia dituduh melakukan korupsi besar-besaran.
Pada 23 Maret 1957 Sumitro dipanggil Corps Polisi Militer (CPM) Bandung.
Tapi pemeriksa menyatakan, tidak ada alasan untuk menahan Sumitro. Panggilan
kedua oleh CPM terjadi pada tanggal 6 - 7 Mei 1957. Kemudian 8 Mei 1957 ia
dipanggil lagi.
Sumitro semakin tertekan oleh serangan koran prokomunis dan merasa hendak
ditangkap. Atas prinsip "pengabdian dan perlawanan" ia memilih
melawan rezim Soekarno yang dianggap terlalu dekat dengan golongan komunis
dan mengabaikan pembangunan daerah. Mei 1957 ia ke Sumatra, bertemu Letkol
Barlian dan Mayor Nawawi di Palembang. Ia sempat menyamar sebagai Letnan Dua
Rasyidin. Pada 13 Mei 1957 ia tiba di Padang, bertemu Panglima Divisi
Banteng, Letkol Achmad Husein. Malamnya Sumitro menuju ke Pekanbaru, menemui
Kapten Yusuf Baron.
Ultimatum kepada pemerintah pusat akhirnya dikeluarkan pada 10 Februari
1958. Tanggal 15 Februari 1958, Achmad Husein melalui Radio Bukittinggi
mengumumkan proklamasi pemerintahan tandingan, Pemerintahan Revolusioner
Republik Indonesia (PRRI).
Dari Jakarta, Sjahrir menugaskan Djoeir Moehamad dan Djohan Sjahruzah
menghubungi dewan-dewan militer di daerah. Sekaligus menghubungi Sumitro
Djojohadikusumo. Mereka "mengejar" Sumitro hingga ke Padang. Tapi
Sumitro keburu ke Pekanbaru, kemudian ke Bengkalis, sempat menyamar jadi
kelasi kapal menuju Singapura. Lalu ke Saigon juga dengan menyamar sebagai
kelasi kapal sebelum ke Manila dan melakukan kontak dengan Perjuangan
Semesta (Permesta). Menyamar menjadi cargo supervisor atas nama
pemilik kopra, Sumitro masuk ke Bitung. Ia ke Sumatra menggelar pertemuan
dan memperluas hubungan dengan pemimpin militer di Sumatra, juga Sumual di
Sulawesi.
Subadio, utusan Sjahrir, bertemu Sumitro di Singapura. Sumitro berperan
menangani bidang logistik bersama Kolonel Simbolon dan Husein bagi PRRI. Ia
sempat mengecek pengadaan senjata. Sebagian senjata dibeli di Phuket
(Thailand) dan Taiwan. Dua kali ia masuk Taiwan, dan kembali ke Minahasa
dengan pesawat bermuatan amunisi.
Konsep semula, menurut Sumitro, hanya untuk memperbaiki Jakarta. Tidak ada
bayangan membuat suatu pemerintahan tandingan. Tuntutan mereka hanyalah
ingin otonomi dan pengembangan daerah.
Sumitro mempercayai gagasan persatuan Indonesia. Namun, tatkala PRRI hendak
mendirikan Republik Persatuan Indonesia (RPI), dan Pulau Jawa tidak termasuk
di dalamnya, ia menolak tegas, "Kalau demikian, saya tidak bisa ikut,
sebab negara kita satu." Ketidaksepakatan ini mendorong Sumitro
mengungsi ke luar negeri, lantaran belum memungkinkan pulang ke Jakarta.
Selama 10 tahun di pelarian, Sumitro menggunakan banyak nama samaran. Para
mahasiswa di Jepang mengenalnya sebagai Sungkono. Di Jerman dipanggil
Sunarto. Di luar Frankfurt pakai nama Abdul Karim. Di Hongkong orang
mengenalnya Sou Ming Tau (bahasa Kanton) dan Soo Ming Doo (bahasa Mandarin).
Warga Malaysia mengenalnya Abu Bakar. Ia dipanggil Henry Kusumo atau Henry
Tau di Bangkok.
Demi keamanan, Sumitro bersama keluarganya tak mau tinggal di suatu negara
lebih dari dua tahun. Mulai dari Singapura, Hongkong, Kuala Lumpur,
Zurich-Swiss, London, kemudian pindah ke Bangkok.
Untuk menghidupi keluarganya di pelarian, ia terpaksa menjadi saudagar mebel
dan real estate di Malaysia. Juga mendirikan Economic Consultans for
Asia and the Far East (Ecosafe) di Hongkong, dan cabangnya di Kuala Lumpur.
Ia memakai nama Kusumo.
Maret 1967, Soeharto menjabat presiden RI. Suatu kali Ali Moertopo menemui
Sumitro di Bangkok, dan bertanya, "Apakah Pak Mitro bersedia
kembali?"
Sumitro bilang, "You just remain yourself, and I just remain myself."
Menlu Adam Malik, yang berkunjung ke Bangkok, mempertebal keyakinan Sumitro
untuk pulang ke Tanah Air.
Sesudah resmi menjadi presiden, Soeharto menerima Sumitro di Cendana, 29 Mei
1968. Ia meminta kesediaan Sumitro membenahi ekonomi yang ambruk. Inflasi
600% lebih.
Sumitro akhirnya dilantik sebagai Menteri Perdagangan pada 27 Maret 1968.
Tanggal 6 Juni 1968 susunan menteri Kabinet Pembangunan I diumumkan.
Selanjutnya ia diangkat menjadi Menteri Negara Riset Nasional (Menristek)
pada Kabinet Pembangunan II.
Sekeluar dari kabinet tahun 1978, Sumitro menjadi konsultan. Juga menulis
buku. Sejak 1982 ia mengurusi Induk Koperasi Pegawai Negeri (IKPN). Sempat
menjadi komisaris Bank Niaga, Bank Universal, dan Bank Kesejahteraan, pada
18 September 1992 - Desember 1992 Sumitro ditunjuk sebagai preskom Astra. Sumber: http://www.indomedia.com/intisari/2000/juli/sumitro7.htm |
Copyright ©2002 Permesta Information Online™
Silahkan menyalin atau mengutip isi atau sebagiannya dengan mencantumkan sumber
"dikutip dari Permesta Information Online"