Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

In Memoriam Soemitro Djojohadikusumo
    Animasi Welcome
MENU UTAMA
FAKTA PERMESTA
SEJARAH
TOKOH
WAWANCARA
ALBUM FOTO
PUBLIKASI
ARTIKEL
KONTRIBUSI
PRESS RELEASE
REUNI
BUKU TAMU
WEBMASTER
KEBIJAKAN SITUS
LINKS
Permesta Mail:

 


PENGUNJUNG KE: 361
361


Biodata |Wawancara | In Memoriam


Jumat, 09/3/2001

In Memoriam Prof Sumitro: Jenius Ekonomi Indonesia

Oleh: Hidayat Supangkat *)

Profesor DR Sumitro Djojohadikusumo adalah jenius tunggal ekonomi Indonesia. Hampir semua muridnya sukses menjadi ekonom besar, sebagian malah menjadi teknokrat yang membangun kerangka ekonomi Indonesia. Namun, tidak ada yang sebesar Sumitro.

Dalam salah satu dari puluhan karya bukunya, Sumitro menggagas Indonesia menjadi "Bengkel Industri Jepang", gagasann yang kemudian dikecam keras, terutama oleh mereka yang ambisius dan kelompok kiri yang menghendaki Indonesia menjadi negara industri secara langsung.

Menurut pandangan saya, Sumitro adalah llmuwan yang ilmiah, dengan keistimewaan dari pikiran-pikirannya yang antara lain realistis, memiliki gagasan orsinil, berpihak pada memajukan industrialisasi secara bertahap, dan menganggap KKN sebagai praktek-praktek yang dapat mensabotase perekonomian bangsa.

Dari sisi realistis, berbeda jauh dengan para ekonom lainnya, Sumitro selalu mengambil sikap untuk memajukan industrialisasi secara bertahap, tidak sekaligus dan sikap yang sama juga dinyatakannya dalam hal prinsip-prinsip dasar dan aberasi ekonomi.

Sementara gagasan atau wawasannya selalu orisinil, terutama mengenai industrialisasi dan sejumlah aberasi yang dianggapnya dapat menyabot pertumbuhan ekonomi.

Sebagai seorang demokrat, Sumitro bisa disetarakan dengan Bung Hatta, bersedia mengorbankan karirnya, kalau ada yang menabrak prinsip-prinisp ekonominya.

Garis besar dalam gagasannya tentang Indonesia sebagai 'Bengkel Industri Jepang', Sumitro menulis bahwa Indonesia sebaiknya menjadi 'bengkel' industri negara Matahari Terbit itu dalam mencapai sepenuhnya tahap industrialisasi.

Pria kelahiran Kebumen, mantan menteri itu melihat tahap-tahap evolusionis, ketimbang revolusi, untuk mencapai tahap industrialisasi. Realismenya menilai bahwa Indonesia belum mempunyai basis industri seperti Cina, Taiwan, atau India sehingga harus belajar dulu dari Jepang.

Gagasannya ini ditentang keras oleh mereka yang terlalu ambisius tanpa dasar ilmiah dan kelompok kiri yang ingin membangun revolusi ekonomi.

Meskipun demikian, sejarah pun menjawab bahwa Sumitro benar. Setelah, Soeharto dan para teknokrat ekonomnya yang kebanyakan adalah para murid Sumitro itu memaksakan industrialisasi tanpa basis fundamental yang kokoh, hanya dengan satu kali hempasan badai krisis moneter 1997, industri ala Soehartoisme rontok yang akibat-akibatnya hingga kini masih dirasakan rakyat.

Soehartonomics: Gadang Pasak

Sumitro juga tidak setuju dengan prinsip anti-ekonomi "Gadang Pasak Daripada Tiang", ia menganjurkan pinjaman asing harus dibatasi, dengan kemampuan membayar kembali sesuai jangka waktunya. Namun, Soeharto dan para ekonomnya memaksakan industrialisasi justru lebih banyak menyandar pada prinsip-prinsip 'anti-ekonomi', dengan sedikit banyak didukung oleh kekuatan industri Barat melalui Bank Dunia dan negara-negara donor, yaitu 'Gadang Pasak Daripada Tiang', dengan kucuran utang luar negeri pemerintah dan swasta yang seolah tanpa batas. Akibatnya, utang luar negeri Indonesia dari 2,5 milyar dolar AS membengkak dalam waktu cepat menjadi 250 miliar dolar, atau menggelembung 100 kali lipat.

Konon suatu ketika Sumitro sudah pernah membisikkan atau mengimbau halus kepada Soeharto -karena ia tidak berani, juga sebagai "besan"- bahwa KKN sudah harus dihentikan. Kekhawatirannya atas hal yang sama juga disampaikannya kepada para Perwira Tinggi ABRI waktu itu, dengan harapan dapat diteruskan kepada Soeharto yang jadi kiblat militer Indonesia. Sumitro menilai, KKN sudah sampai pada tingkatan yang kritis dan dikhawatirkan akan jadi faktor sabotase terhadap kelangsungan perkembangan ekonomi bangsa.

Namun Soeharto tutup kuping dan tutup mata, hingga akhirnya dilengserkan massa dan mahasiswa menyusul tragedi paling berdarah dalam sejarah Orba di Jakarta pada medio Mei 1998.

Kesandung politik

Sebagai pentolan Partai Sosialis Indonesia, Sumitro bisa jadi memiliki lebih banyak 'musuh' ketimbang sahabat. Ia kerap didiskreditkan antara lain dengan julukan "Soska" (Sosialis Kanan), kiri namun pro-Barat. Baik PKI dan fellow travellers-nya seperti PNI Kiri, maupun klik KKN Soeharto yang merasa terancam ,tidak pernah memberi ampun dalam melontarkan kecaman kecamannya terhadap Guru Besar UI ini.

Sementara kalangan menilai, kendati berfaham kiri, bukan berarti Sumitro 'murni tak terlibat mengambil keuntungan'. Ini merujuk pada kegiatan bisnis anaknya, Hasyim. Kendatipun demikian, banyak yang menilai bahwa berbeda dengan klan Cendana, Sumitro masih ada "kira kira" (kendali keserakahan) tidak sampai 'ruthless' (melewati batas).

Sandungan Sumitro yang paling besar adalah pada keterlibatannya dalam pemberontakan PRRI/ PERMESTA. Namun ia telah menarik hikmah daripadanya. Apalagi setelah dirinya mencapai usia di atas 65 tahun, ia tidak lagi pernah tampak bersikap "vivere pericoloso".

Orang Jawa: cepat ketutugan

Sebagai orang Jawa umumnya, Sumitro cepat merasa ketutugan(complacent), apalagi setelah mengalami pahit getir hidup di pengasingan oleh Sukarno. Seyogianya ia mengajar di universtas-universitas dunia seperti Harvard, Yale, Berkeley, dan Sorbonne sehingga bisa 'keep up with the Jonesses' (updating=mengikuti perkembangan ekonomi dunia kontemporer) secara ilmiah.

Namun sebagai orang Jawa yang sudah ketugugan dan tidak mau mengambil risiko mengarungi empat musim seperti umumnya kita yang lahir di dua musim, Sumitro memilih retirement atau tepatnya, 'ngabhagawan'.

Setelah terjun kembali sebagai menteri kabinet Soeharto, Sumitro mendapatkan praktek-praktek KKN yang berkembang kelewatan. Namun, dirinya tidak berani membisikkan Soeharto yang 'bad temper' (penaik darah). Konon Try Sutrisno selagi masih menjabat Wakil Presiden, pernah dimusuhi Soeharto selama berbulan bulan setelah membisiki KKN-nya yang sudah melewati batas. Belakangan melalui, sejumlah Panglima Tinggi ABRI waktu itu yang dekat dengan Soeharto, masalah KKN itu bisa diteruskan. Hanya saja Soeharto tidak menggubrisnya.

Akhirnya, Sumitro benar: krisis moneter yang menerpa Indonesia pada 1997 dan mencapai puncaknya pada 1998, membongkar kedahsyatan KKN regime Soeharto.

Ekonomi yang dijuluki 'dismal science' (ilmu kemurungan) itu, tidak lalu menyebabkan Sumitro pesimis. Secara ilmiah, ia tetap optimis, tanpa menyepelekan faktor faktor riil. Beberapa kali ia memberikan ulasan yang dianggap terlalu pesimis oleh Soeharto, yang sebagai besan harus memanfaatkan pihak ketiga seperti Try maupun Benny Murdani. (yMo)

*)Wartawan sejak 1950, 30 tahun sebagai koresponden di AS dan PBB, kini tinggal di New York, AS.

 


 


Copyright ©2002 Permesta Information Online™
Silahkan menyalin atau mengutip isi atau sebagiannya dengan mencantumkan sumber "dikutip dari Permesta Information Online"