Pada mulanya sebelum Permesta bergolak dengan perang bersenjata, Batalyon 719 telah ada di Sulawesi Tengah.
Batalyon ini terdiri dari 4 kompi. Pada waktu Permesta meletus, pasukan Batalyon 719 turut membantu
Operasi Djakarta II dipimpin Letkol D.J. Somba, yang akan memukul dan menyerbu Jakarta dari arah
Indonesia Timur. Satu kompi yang menyeleweng adalah kompi pimpinan Kapten Frans Karangan. ketiga kompi
lainnya ikut Permesta.
Memang sebelumnya, Bn. 719 berada di bawah garis komando Sektor II/Resimen Team Pertempuran (RTP) "Anoa"
yang mencakup daerah Sulawesi Tengah, bermarkas di Palu sejak November 1957, dengan Komandan Resimen
adalah Mayor Jan Wellem (Dee) Gerungan. Inti pasukan RTP "Anoa" adalah Batalyon 719 di bawah komando
Mayor Lukas J. Palar. RTP ini dilantik oleh Komandan RTP Ular Hitam Mayor Dolf Runturambi di Palu
atas nama Panglima KDM-SUT.
Bn. 719 di bawah komando Mayor Lukas J. Palar di Sulawesi Tengah yang terdiri dari
2 kompi yang dipimpin Mayor Palar sendiri serta sebuah kompi pimpinan Kapten Frans Karangan
asal Toraja tidak begitu pasti kedudukannya di bawah KDM-SUT. Batalyon 719 dipecah menjadi
Batalyon "Q" dan "R" dari kedua kompi tersebut, kemudian disusul Bn. "N" & "U".
Batalyon Q dipimpin Mayor Lukas J. Palar/Frans Karepouan, sedangkan Batalyon R
dimpimpin Kapten Frans Karangan. Namun Kapten Karangan ini membelot dan tidak ikut PRRI/Permesta.
Komandan Batalyon Palar, Mayor Lukas Palar bersama pasukan pengawalnya gugur di perairan Poso
dalam pertempuran "Operasi Djakarta II", ketika sedang menyeberangi teluk dengan motorboat,
disergap dan ditenggelamkan pesawat tempur AURI. Setelah pasukan Palar terpencar-pencar,
sebagian mengikuti pasukan Dee Gerungan masuk hutan Sulteng, & sebagian lagi menggabungkan diri
dengan satuan-satuan Resimen Ular Hitam. Serta Bn. Q sendiri sebagai pasukan cadangan KSAD.
Sisa-sisa Bn. 719 datang mendarat darurat di Belang tanggal 7/9 Agustus 1958 dengan membajak
MV Norse Lady yang memuat bahan suplai/logistik untuk Tentara Pusat tanggal 17 Agustus 1958.
Itulah kisah seorang pahlawan KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) di Jawa,
satu-satunya perwira Permesta (setingkat batalyon) yang tewas di tangan pasukan Tentara Pusat.
Selamat jalan Mayor Lukas J. Palar.
Namamu akan selalu diingat!