Biodata | Biografi Singkat | Kopassus | Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
In Memoriam [1] | In Memoriam [2] | In Memoriam [3]
Akhirnya A.E. Kawilarang Diakui Secara Resmi
JAKARTA- Dalam suatu upacara yang berlangsung hanya satu hari sebelum
HUT Komando Pasukan Khusus TNI-AD (Kopassus) pada 16 April 1999, Kolonel (Purnawirawan)
Alexander Evert Kawilarang (79 tahun) mendapat pembaretan sebagai anggota
kehormatan Korps Baret Merah, 47 tahun sesudah ia memerintahkan dibentuknya
Kesatuan Komando TT III yang merupakan cikal bakal Kopassus sekarang.
Nama Kawilarang selalu diucapkan pada setiap ulang tahun Korps Baret Merah
diadakan di Cijantung, tetapi selama ini pula hanya disebut-sebut saja;
sementara puluhan orang yang dianggap berjasa pada pembentukan dan pengembangan
pasukan elite tersebut sudah mendapat penghargaan khusus; antara lain mantan
ajudannya Kapten (kemudian Jenderal) M. Jusuf dan paling akhir adalah Jenderal
Besar AH Nasution. Malah bekas ajudan yang lain, Kapten Yogie SM menjadi
komandan Kopassandha.
Bagaimana pasukan istimewa terbentuk? Secara resmi disebutkan bahwa ide
membentuk sebuah pasukan hebat justru didapat oleh Letkol Slamet Riyadi ketika
memimpin pasukan melawan RMS di wilayah Maluku. Tetapi yang menjadi
pelaksana pembentukannya justru adalah A.E. Kawilarang. ''..untuk melawan
gerakan-gerakan gerombolan yang mobil itu, saya perhitungkan, perlu dibentuk
suatu kesatuan yang terlatih bertempur secara kesatuan kecil sampai dengan dua
orang saja, dan all round. Dan itu harus diciptakan, diadakan...''
demikian tulis dalam biografinya Untuk Sang Merah-Putih (Pustaka Sinar
Harapan, 1988).
Sebagai Panglima Tentara dan Teritorium (T&T) III atau Panglima Siliwangi
di Jawa Barat yang paling banyak menghadapi gangguan keamanan, tentu saja
Kawilarang adalah yang paling concern mengenai kualitas pasukan. Dan
secara kebetulan ia mengenal seorang mantan perwira Belanda yang bernama Visser
(kemudian namanya jadi M. Ijon Janbi) dan kemudian dijadikan sebagai komandan
dan sekalipun pelatih pasukan istimewa itu.
Ketika pasukan tersebut sudah terbentuk dan efektif dalam menghadapi gangguan
keamanan; maka kesatuan itu diambilalih oleh markas besar TNI dan namanya
berubah menjadi Kesatuan Komando AD (KKAD) dan kini jadi Kopassus.
Tenggelam
Meskipun nama AE Kawilarang dianggap identik dengan Korps Baret Merah dan
juga Siliwangi, tetapi namanya kemudian tenggelam setelah pada tahun 1958,
selaku Atase Militer RI di Washington DC, ia meminta berhenti dari jabatannya
dan pergi ke Sulawesi Utara. Dalam istilah pada waktu itu, Kawilarang yang
begitu berjasa bagi RI kemudian ''bergabung'' dengan pemberontakan Permesta di
Sulawesi Utara. Banyak teman atau anak buahnya tidak setuju dengan perkataan ''bergabung
dengan pemberontakan'' tersebut, tetapi suasana politik tidak mendukung, dan PKI
yang mulai memperkuat kedudukan terus mengipas-ngipasi masalah itu.
Pada tahun 1961, ketika keamanan mulai pulih kembali; di Sulawesi Utara
diaturlah suatu upacara militer resmi untuk ''menerima kembali'' bekas Kol.
Kawilarang dan sejumlah besar pengikutnya yang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Yang menerima kembali adalah seorang perwira senior Letjen Hidayat Wakasad yang
adalah teman lamanya. Tidak dipakai istilah ''menyerahkan diri'' karena memang
dianggap tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.
Meskipun ia diterima kembali di Jakarta, kariernya selesai begitu dan banyak
pihak yang menghindar bertemu dengannya. Katanya dalam bukunya, ''...baru
sesudah peristiwa Oktober 1965 saya dan teman-teman saya dapat bernapas lebih
lega dan mulai kelihatan terang untuk tahun-tahun kemudian. Di tahun 1966 ada
seorang yang bertanya, ''apakah sudah direhabilitasi?'' Saya jawab, siapakah
yang harus merehabilitasi siapa?'' Ia konon malah tidak tahu apakah ia
berkedudukan sebagai ''bekas'' Kolonel atau Kolonel Purnawirawan, suatu
kedudukan yang diberikan bila pensiun secara normal.
Jadi dalam status yang tidak jelas, AE Kawilarang hidup dengan tenang dan
seolah pasrah dengan apa yang dipunyainya, meskipun ia pernah tidak diundang
pada HUT Siliwangi (sesuatu yang pernah dialami pula oleh AH Nasution di masa
Orba). Para bekas anak buah serta teman-temannya yang masih mempunyai jalur dan
kekuasaan kemudian dengan susah payah mengusahakan agar Bintang Gerilya bisa
diberikan kepadanya. Dan penghargaan tersebut disematkan ketika ia terbaring di
rumah sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta beberapa tahun lalu. Tetapi sejarah
tidak melupakannya, Baret Merah dan anggota kehormatan Kopassus walaupun amat
terlambat, merupakan pengakuan jasanya yang amat besar bagi kelahiran Kopassus.
BREVET KOMANDO - Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus)
Mayjen TNI Syahrir menyematkan Brevet Komando Kehormatan, Pisau Komando dan
Baret Merah kepada Kolonel A.E. Kawilarang yang dikukuhkan sebagai Warga
Kehormatan Kopassus, di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Kamis (15/4/99)
siang.
(Sumber
diadaptasi dari: Pembaruan/Atmadji Sumarkidjo Pembaruan/ B Priyowibowo) |