|
Permesta Membangun
Dampak Likuidasi TT VII/ Wirabuana
Pembubaran
TT VII/Wirabuana dan pembentukan empat KDM yang terpisah di Indonesia
Timur, merupakan pukulan berat bagi Permesta. Hal ini menyebabkan
perkembangan kegiatan Permesta di berbagai daerah, kecuali Sulawesi Utara,
mengalami kemunduran. Para Panglima KDM yang sebelumnya menyetujui gagasan
Permesta, telah mengubah haluan, kecuali Somba dan Minggu. "Operasi
Intelijen" Sukendro ternyata berhasil; selain itu, para Panglima KDM
juga mendapat kenaikan pangkat menjadi Letnan Kolonel.
Ada
beberapa hal yang menyebabkan Sulawesi Utara tetap berdiri di belakang
Permesta. Pertama masyarakat Minahasa dan sekitarnya merasakan benar
kemajuan yang dicapai Permesta. Kedua, para pemimpin militer di wilayah
ini tidak mudah digoyahkan dalam masalah likuidasi TT VII Wirabuana.
Sumual
tetap pada pendiriannya, bahwa langkah yang diambilnya pada 2 Maret 1957
adalah benar. Maksudnya semata-mata menghindari kekacauan di wilayah
Indonesia Timur, khususnya Sulawesi, sehubungan dengan pergolakan di
berbagai daerah di pulau itu. Ia yakin, tanpa suatu komando, pertentangan
akan meletus, dan akhirnya akan timbul perang saudara. Penyelesaian yang
diambil KSAD hanya menunda penyelesaian masalah pokok. Selain itu,
penanganan bidang militer saja seperti yang dijalankan KSAD, tanpa
menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan lainnya, pasti tidak akan
menghasilkan apa-apa. Masalah militer jalin-menjalin dengan masalah
kemasyarakatan umum.
Tempat yang
dipilih Sumual adalah desa Kinilow, tidak jauh dari Kota Manado. Di tempat
itu terdapat suatu kompleks peristirahatan tentara dengan suatu bangunan
yang terbagi atas sejumlah kamar dan sebuah aula besar yang digunakan
untuk rapat. Staf yang pernah mendampinginya di Ujungpandang ikut pindah
ke tempat ini. Sejumlah pasukan asal Minahasa yang tidak bisa menerima
pembubaran Komando TT VII pun pindah ke Sulawesi Utara dan bergabung dalam
komando Somba. Kekompakan para perwira asal Minahasa ini merupakan sebab
lain mengapa gerakan Permesta tetap bertahan di wilayah itu.
Kecuali
PKI, PNI dan ormas-ormasnya, semua organisasi politik dan massa di
Minahasa ketika itu berdiri di belakang Permesta. Sedemikian besarnya
pengaruh Letkol Sumual, sehingga ia diminta mempertahankan predikat
Panglima TT VII Wirabuana. Dalam suatu rapat di Kinilow, 23 Juni 1957, ia
mengumumkan kesediaan memenuhi keinginan masyarakat itu. Namun ia
menandaskan, gerakan Permesta bukanlah gerakan separatisme. Penyelesaian
yang wajar dengan pemerintah pusat, tetap tujuannya. Sepanjang sejarah
Permesa, lambang-lambang kebangsaan Indonesia seperti benderah Merah
Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, lambang Bhineka Tunggal Ika, serta
hari Proklamasi, tetap dijunjung tinggi dan bermakna seperti
wilayah-wilayah lain di Indonesia. Perayaan hari Proklamasi 1957,
umpamanya tidak kurang meriah daripada tahun-tahun sebelumnya. Rapat umum
yang diselenggarakan di lapangan Sario (Manado), dihadiri sekitar 40.000
orang, dilanjutkan dengan resepsi di Gubernuran. Gubernur Manoppo,
Panglima Sumual dan Mayor Somba memberi sambutan yang meyakinkan.
Pembangunan
memang berjalan sangat lancar di daerah ini. Hasil kopra yang demikian
banyak ternyata bisa membiayai berbagai proyek pembangunan sampai ke
desa-desa. Untuk melancarkan perdagangan kora serta impor bahan-bahan
kebutuhan rakyat, Pemerintah Militer membentuk suatu tim yang dipimpin
J.M.J. Pantow. Tim inilah yang mengurus pengiriman kopra ke luar negeri
tanpa melalui prosedur biasa, sehingga sering dinamakan barter. Suatu agen
perdagangan dibentuk pula di Singapura untuk memperlancar perdagangan.
Kopra yang dikirim dengan kapal-kapal asing, ditukarkan dengan
barang-barang kebutuhan seperti minyak, bahan makanan, peralatan bangunan,
kendaraan, peralatan kantor, serta bahan-bahan kebutuhan masyarakat dan
pemerintah lainnya. Tersedialah bahan-bahan yang diperlukan pembangunan.
Pemerintah daerah tingkat lebih rendah pun mendapat alokasi dana untuk
berbagai proyek di wilayahnya.
Kongres
Pemuda Indonesia Timur
Salah satu
kemajuan yang dicapai para pemuda adalah penyelenggaraan Kongres Pemuda
Indonesia Timur. Ide Kongres itu lahir setelah Bhinneka Tungga Ika di
Ujungpandang, Mei 1957. Ketika itu, Ketua Badan Musyawarah Dewan Pemuda
Indonesia Timur, R.A. Daud, mengusulkan para pemuda harus juga mengadakan
kongresnya sendiri.
Pelaksanaannya
diserahkan kepada Komando Pemuda Sulawesi Utara oleh tokoh-tokoh yang
pernah bergabung dalam Dewan Manguni di Manado sebelum 2 Maret 1957.
Kongres
Pemuda Indonesia Timur dilangsungkan di Tondano, 5-9 Juli 1957, dengan Jan
Torar sebagai Ketua Panitia. Berbagai organisasi pemuda pelajar dan
mahasiswa seluruh Indonesia Timur mengirimkan wakil-wakilnya ke Tondano,
malah wakil-wakil tersebut diambil dari wilayah tingkat II dan mendapat
bantuan pemerintah setempat.
Salah satu
keputusan penting dalam Kongres Pemuda Indonesia Timur in adalh
pembentukan suatu wadah tunggal yang dinamakan Komando Pemuda Permesta
(KoP2) dengan suatu pimpinan utama dan beberapa departemen, seperti
Departemen Pengerahan Tenaga, Pertahanan, Pendidikan dan Kebudayaan,
Ekonomi dan Sosial, Keuangan, Agama dan Umum. Untuk periode pertama
Kongres memilih Jan Torar yang memimpin Departemen Pengerahan Tenaga untuk
menjadi Pemimpin Umum KoP2. Pimpinan lainnya adalah P.M. Tos (Departemen
Pertahanan), Badar Alkatiri (Departemen Agama), Assegaf (Departemen Sosial
Ekonomi), Abdul Chalil (Departemen Umum). Ketika timbul konflik senjata
pada 1958, sejumlah besar anggota KoP2 di wilayah Sulawesi Utara dan
Tengah dengan sukarela mendaftarkan diri menjadi anggota pasukan Permesta.
Sebagian lagi, khususnya pelajar dan mahasiswa, disusun dalam satuan
Permesta dengan nama CTP (Corps Tentara Pelajar) dipimpin Jimmy Noya,
seorang pemuda asal Ambon (Maluku). Sebelum itu, kegiatan KoP2 adalah
membantu pemerintah daerah masing-masing mengerahkan tenaga dan dana untuk
melancarkan pembangunan di daerah-daerah. Hasil yang dicapai organisasi
pemuda ini secara swadaya, misanya seperti pembangunan berbagai
gedung-gedung yang dijadikan kantor Gubernur Daerah Sulawesi Utara sampai
sekarang 80 buah - dan jalan cukup membanggakan.
Selain itu di Sulawesi
Selatan terbentuk Parlemen Pemuda Permesta Wirabuana dengan pimpinan
Matulada. Pada 11 November 1957, Letkol Sumual, sebagai pimpinan tertinggi
Permesta, menggabungkan organisasi-organisasi pemuda itu menjadi Dewan
Tertinggi Pemuda Permesta dengan kedudukan di Ujungpandang.
Dukungan Rakyat Dalam
Pembangunan
Pada tanggal 7 Desember 1957, terbentuk
pula Persatuan Wanita Permesta Wirabuana dengan Ny. Towoliu Hermanses
sebagai ketua. Anggota pengurus lainnya, antara lain, Ny. E.Sigar, Ny.
Fachruddin, Ny. Sam Kesaulya, Ny. Saleh Lahade, dengan Ny. Andi
Burhanuddin, Ny. R.Warouw, dan Ny. Depu sebagai penasihat.
Suatu wadah yang lebih umum, Bara Permesta
(singkatan dari Badan Aksi Rakyat Pendukung Permesta) dibentuk pula oleh
pimpinan Permesta. Organisasi ini terdiri atas anggota partai-partai,
organisasi massa dan tokoh-tokoh fungsional, dengan tujuan mempertahankan
fungsional itu terorganisir sejajar dengan organisasi pemerintah daerah di
seluruh Indonesia Timur.
Seluruh organisasi pemerintahan, pers,
pemuda, wanita dan mahasiswa yang dibentuk Permesta itu mengakui Letkol
H.N. Sumual sebagai pimpinan tertinggi. Kepemimpinan Permesta terwujud
dalam Dewan Tertinggi Permesta yang dipimpin H.N. Sumual dengan M. Saleh
Lahade sebagai wakil, dan Bing Latumahina sekretaris. Hubungan dengan
seluruh daerah di wilayah Wirabuana (Indonesia Timur) tetap terpelihara,
sekalipun menjelang pertengahan 1957, beberapa daerah telah dipengaruhi
oleh pemerintah pusat serta MBAD. Melalui jaringan pemerintah daerah serta
organisasi pemuda, wanita, mahasiswa dan pers, Permesta merencanakan
pembangunan mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Pembangunan yang diprakarsai Permesta
sebenarnya sudah berlangsung sejak Maret 1957. Pada bulan itu, Panglima
Suual meminjam uang sebanyak 100 juta rupiah dari Bank Indonesia untuk
digunakan sebagai dana pembangunan. Setiap kabupaten di Indonesia Timur
menerima 2 juta rupiah untuk proyek-proyek pembangunan yang direncanakan
daerah-daerah bersangkutan. Misalnya Sulawesi Selatan PLTD (Pusat Listrik
Tenaga Diesel) Makale, Tana Toraja, dibangun dengan dana Permesta.
Demikian pula pasar-pasar seperti di Matoangin (Ujungpandang), Markas
Resimen 23 di Pare-pare, pusat latihan infanteri di Bilibili, depot
batalion di Malino, dan Markas Resimen Hasanuddin di Jalan Lanto Daeng
Pasewang. Kemudian, setiap propinsi diwajibkan menyusun rencana
pembangunan lima tahun sesuai dengan ketetapan dalam Piagam Permesta dan
keputusan Kongres Bhinneka Tunggal Ika. Dana pembangunan diperoleh melalui
ekspor kopra wilayah Sulawesi Utara, Malaku Utara dan beberapa tempat
lain. Seperti ditentukan dalam Piagam, daerah-daerah yang tidak memiliki
komoditi ekspor, ditunjang daerah-daerah lainnya, sehingga pembangunan
bisa dilaksanakan secara merata.
Dari seluruh daerah di Indonesia Timur,
wilayah Sulawesi Utaralah yang paling giat membangun. Ini terutama berkat
hasil kopra yang demikian besar di daerah ini. Penanganan ekspor kopra di
wilayah ini dikendalikan suatu badan koordinasi yang dipimpin J.M.J.
Pantow.
Dari dana yang terkumpul itu, setiap bupati
kepala daerah mendapat sejumlah dana untuk melaksanakan pelbagai proyek
menyangkut pembuatan jalan, jembatan, sekolah-sekolah dan sebagainya.
Sudah sejak Juni 1957, rakyat
berbondong-bondong melaksanakan pelbagai proyek dengan semangat mapalus
(gotong royong). Lebih dari 100 orang desa Tompaso, Amurang, Radey, Sapa,
Tengah, Pakuweru dan Pakuure berhasil membangun jalan 6 km yang
menghubungkan desa-desa itu. Jalan antara Manado dan Tomohon sepanjang 25
km pun mulai ditingkatkan dan diperlebar. Dengan bantuan TNI, rakyat
berhasil membangun jalan yang menghubungkan Kinalawiran dan Tompaso Baru
di Minahasa Selatan. Desa-desa Liningaan, Kinaweruan dan Tumani berhasil
membangun sebuah bendungan di Sungai Ranoyapo untuk mengairi sekitar 100
hektar lahan pertanian. Rakyat Tonsea dengan pimpinan Bupati juga berhasil
merehabilitasi jalan di wilayah itu sepanjang 120 km. Di Tombasian, rakyat
bermapalus membangun pelbagai proyek seperti rumah sakit umum, gedung SMP,
gedung SD, saluran air, serta jalan-jalan baru yang menghubungkan desa itu
dengan desa-desa sekitarnya. Di desa Pinangsungkulan, sebuah bank desa
berhasil dibangun. Dan masih banyak lagi proyek-proyek yang tidak
seluruhnya dapat dilaporkan dalam pers setempat.
Tidak saja Kabupaten Minahasa mendapat
alokasi dana untuk pembangunan. juga Kabupaten Bolaang Mongondow
memperlihatkan kegairahan yang luar biasa pada 1957. Demikian pula
Kabupaten Sangir Talaud. Setiap distrik mendapat kesempatan membangun
jalan baru atau merehab jalan-jalan lama, serta membangun dan merehab
gedung-gedung sekolah, poliklinik dan lainnya. di Sulawesi Tengah,
pembangunan berjalan lancar di sekitar kota Poso, Banggai sampai Kabupaten
Makale, Rentepao di Tanah Toraja.
Salah satu proyek yang penting adalah
pembentukan Universitas Permesta di Kota Manado. Pada mulanya, digunakan
sebuah bangunan di Kawasan Sario. Rektor pertamanya, Mayor Runturambi,
yang memegang jabatan Kepala Staf Gubernur Militer Sulawesi Utara Tengah.
Juga PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru) di Tondano, mendapat
perhatian istimewa. Gedung-gedung baru serta perpustakaan dibangun di
sini. Para mahasiswa pun mendapat tunjangan pendidikan yang memuaskan.
Sulawesi Utara mampu mengerahkan sekitar
10.000 tenaga kerja untuk pembangunan. Terutama pembangunan jalan arteri
yang menghubungkan Manado dan Bitung. Jalan antara Manado dan Gorontalo
lewat Kotamobagu mulai dirintis Permesta dengan menggunakan tenaga-tenaga
pemuda yang tergabung dalam KoP2 itu. Pemerintah Militer senantiasa
menyediakan pelbagai peralatan seperti truk, buldoser, semen, aspal, dan
lain-lainnya untuk pelbagai proyek yang spontan direncanakan penduduk
desa.
Di pelbagai daerah lain pun pembangunan
diselenggarakan. Setelah terbentuknya KoP2 di Tondano, para pemuda, yang
berasal dari pelbagai daerah, kembali ke tempat masing-masing untuk
menyampaikan misi yang terkandung dalam Permesta.
Permesta di Nusa
Tenggara
Barnabas banggur, seorang mahasiswa
Fakultas Hukum di Makassar (kemudian menjadi Pengacara di Jakarta) -
kembali ke kampung halamannya, Flores, untuk mengkoordinasikan para pemuda
setempat. Dengan dana yang disediakan Permesta, mereka berhasil membangun
sebuah gedung Pemuda Permesta yang digunakan pertama kalinya untuk
menyelenggarakan suatu Kongres Pemuda setempat pada Desember 1957. Gedung
ini berdiri dengan megah di pinggir pantai Kota Ende, ibu kota Kabupaten
Ende (Flores Tengah), dan digunakan sebagai gedung pemerintahan daerah.
Juga dibangun dermaga di Larantuka yang digunakan pihak Misi Katolik untuk
menyimpan/menyandarkan kapal-kapal motor mereka. Untuk pembangunan Flores
bagian Barat yang dikenal sebagai Daerah Swapraja dengan ibu kota Ruteng,
Permesta menyumbangkan beberapa ribu sak semen untuk membantu pembangunan
rumah pegawai, pegawai negeri, guru-guru yang berpenghasilan rendah
yang bertempat tinggal di Kota Ruteng. Penyerahan ribuan sak semen itu
disaksikan Penguasa Militer setempat (Flores) Fredy Lumanauw, Kepala
Pemerintahan Swapraja Manggarai (KPS), P. Salasa dan Barnabas
Banggur yang saat itu masih mahasiswa. Permesta mempersiapkan pula
pembentukan provinsi Nusa Tenggara Timur dengan singkatan NTT.
Pembentukkannya direalisasikan Pemerintah Pusat, Desember 1958, dengan
Gubernur pertamanya Lalamentik, dan pemekaran kabupaten menjadi 12 buah.
Bersamaan dengan persiapan pembentukan
Provinsi NTT, Permesta juga mempersiapkan pemekaran pembentukan daerah
tingkat II/Kabupaten, antara lain, Daerah Flores yang sebelumnya hanya
satu Kabupaten, direncanakan dan direalisasikan menjadi 5 Kabupaten,
yaitu:
- Kabupaten Manggarai dengan Ibu kota Ruteng
- Kabupaten Ngada dengan Ibu kota Bajawa
- Kabupaten Ende-Lio dengan Ibu kota Ende
- Kabupaten Sika dengan Ibu kota Maumere
- Kabupaten Flores Timur dengan Ibu kota
Larantuka
(Sumber: R.Z. Leirissa; PRRI PERMESTA
Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis)
Revised by
Permesta Information Online
|
 |