Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web


corner-top-left.gif Welcome to PERMESTA INFORMATION ONLINE ONLINE (PIO)

Cari di PIO Cari di Internet
    Signup / Login E-mail   Sejarah Kronologis |  Tokoh |   Album |   Artikel |   Buku Tamu  
 Menu Utama
· Homepage
· Piagam Permesta
· Fakta Permesta
· Sejarah Kronologis
· Tokoh Permesta
· Wawancara Pelaku
· Organisasi/Slagorde
· Album Foto Permesta
· Publikasi Buku

 Berita Utama


 Artikel
·  Artikel²
· Reuni ex-Permesta
· Press Release
· Kebijakan Situs
· Buku Tamu Situs PIO
· Hubungi Webmaster
· Kontribusi Artikel
· Ucapan Terima Kasih
· Links



Anda Pengunjung ke: 540

540

Akhirnya A.E. Kawilarang Diakui Secara Resmi

 

JAKARTA- Dalam suatu upacara yang berlangsung hanya satu hari sebelum HUT Komando Pasukan Khusus TNI-AD (Kopassus) pada 16 April 1999, Kolonel (Purnawirawan) Alexander Evert Kawilarang (79 tahun) mendapat pembaretan sebagai anggota kehormatan Korps Baret Merah, 47 tahun sesudah ia memerintahkan dibentuknya Kesatuan Komando TT III yang merupakan cikal bakal Kopassus sekarang.

Nama Kawilarang selalu diucapkan pada setiap ulang tahun Korps Baret Merah diadakan di Cijantung, tetapi selama ini pula hanya disebut-sebut saja; sementara puluhan orang yang dianggap berjasa pada pembentukan dan pengembangan pasukan elite tersebut sudah mendapat penghargaan khusus; antara lain mantan ajudannya Kapten (kemudian Jenderal) M. Jusuf dan paling akhir adalah Jenderal Besar AH Nasution. Malah bekas ajudan yang lain, Kapten Yogie SM menjadi komandan Kopassandha.

Bagaimana pasukan istimewa terbentuk? Secara resmi disebutkan bahwa ide membentuk sebuah pasukan hebat justru didapat oleh Letkol Slamet Riyadi ketika memimpin pasukan melawan RMS di wilayah Maluku. Tetapi yang menjadi pelaksana pembentukannya justru adalah A.E. Kawilarang. ''..untuk melawan gerakan-gerakan gerombolan yang mobil itu, saya perhitungkan, perlu dibentuk suatu kesatuan yang terlatih bertempur secara kesatuan kecil sampai dengan dua orang saja, dan all round. Dan itu harus diciptakan, diadakan...'' demikian tulis dalam biografinya Untuk Sang Merah-Putih (Pustaka Sinar Harapan, 1988).

Sebagai Panglima Tentara dan Teritorium (T&T) III atau Panglima Siliwangi di Jawa Barat yang paling banyak menghadapi gangguan keamanan, tentu saja Kawilarang adalah yang paling concern mengenai kualitas pasukan. Dan secara kebetulan ia mengenal seorang mantan perwira Belanda yang bernama Visser (kemudian namanya jadi M. Ijon Janbi) dan kemudian dijadikan sebagai komandan dan sekalipun pelatih pasukan istimewa itu.

Ketika pasukan tersebut sudah terbentuk dan efektif dalam menghadapi gangguan keamanan; maka kesatuan itu diambilalih oleh markas besar TNI dan namanya berubah menjadi Kesatuan Komando AD (KKAD) dan kini jadi Kopassus.

 

Tenggelam

Meskipun nama AE Kawilarang dianggap identik dengan Korps Baret Merah dan juga Siliwangi, tetapi namanya kemudian tenggelam setelah pada tahun 1958, selaku Atase Militer RI di Washington DC, ia meminta berhenti dari jabatannya dan pergi ke Sulawesi Utara. Dalam istilah pada waktu itu, Kawilarang yang begitu berjasa bagi RI kemudian ''bergabung'' dengan pemberontakan Permesta di Sulawesi Utara. Banyak teman atau anak buahnya tidak setuju dengan perkataan ''bergabung dengan pemberontakan'' tersebut, tetapi suasana politik tidak mendukung, dan PKI yang mulai memperkuat kedudukan terus mengipas-ngipasi masalah itu.

Pada tahun 1961, ketika keamanan mulai pulih kembali; di Sulawesi Utara diaturlah suatu upacara militer resmi untuk ''menerima kembali'' bekas Kol. Kawilarang dan sejumlah besar pengikutnya yang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Yang menerima kembali adalah seorang perwira senior Letjen Hidayat Wakasad yang adalah teman lamanya. Tidak dipakai istilah ''menyerahkan diri'' karena memang dianggap tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.

Meskipun ia diterima kembali di Jakarta, kariernya selesai begitu dan banyak pihak yang menghindar bertemu dengannya. Katanya dalam bukunya, ''...baru sesudah peristiwa Oktober 1965 saya dan teman-teman saya dapat bernapas lebih lega dan mulai kelihatan terang untuk tahun-tahun kemudian. Di tahun 1966 ada seorang yang bertanya, ''apakah sudah direhabilitasi?'' Saya jawab, siapakah yang harus merehabilitasi siapa?'' Ia konon malah tidak tahu apakah ia berkedudukan sebagai ''bekas'' Kolonel atau Kolonel Purnawirawan, suatu kedudukan yang diberikan bila pensiun secara normal.

Jadi dalam status yang tidak jelas, AE Kawilarang hidup dengan tenang dan seolah pasrah dengan apa yang dipunyainya, meskipun ia pernah tidak diundang pada HUT Siliwangi (sesuatu yang pernah dialami pula oleh AH Nasution di masa Orba). Para bekas anak buah serta teman-temannya yang masih mempunyai jalur dan kekuasaan kemudian dengan susah payah mengusahakan agar Bintang Gerilya bisa diberikan kepadanya. Dan penghargaan tersebut disematkan ketika ia terbaring di rumah sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta beberapa tahun lalu. Tetapi sejarah tidak melupakannya, Baret Merah dan anggota kehormatan Kopassus walaupun amat terlambat, merupakan pengakuan jasanya yang amat besar bagi kelahiran Kopassus.

 

BREVET KOMANDO - Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Mayjen TNI Syahrir menyematkan Brevet Komando Kehormatan, Pisau Komando dan Baret Merah kepada Kolonel A.E. Kawilarang yang dikukuhkan sebagai Warga Kehormatan Kopassus, di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Kamis (15/4/99) siang.

(Sumber diadaptasi dari Pembaruan/Atmadji Sumarkidjo Pembaruan/ B Priyowibowo

 


Jumat, 16 April 1999

AE Kawilarang, Warga Kehormatan Kopassus

Jakarta, Kompas

Kolonel Infanteri (Purn) Alexander Evert Kawilarang dikukuhkan menjadi warga kehormatan Korps Baret Merah Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus). Penganugerahan kehormatan bagi perwira yang sempat berpihak pada Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) itu dilakukan Komandan Jenderal Kopassus Mayjen Syahrir MS dengan penyematan wing dan pisau komando serta baret merah.

Dalam upacara militer yang berlangsung di Markas Komando Kopassus di Cijantung Jakarta, Kamis (15/4), Kolonel (Purn) AE Kawilarang (78) datang tanpa keluarga dan kerabat. Bahkan, ia yang sudah membutuhkan dukungan tongkat untuk berjalan, sama sekali tidak mau dibantu oleh para prajurit Kopassus yang bertugas dalam acara itu. Perwira bertubuh jangkung itu tampak masih sehat.

Dalam amanatnya, Mayjen Syahrir MS mengatakan, pemberian anugerah itu merupakan ungkapan rasa terima kasih dan penghargaan yang tinggi dari TNI AD, khususnya Kopassus. Karena, gagasan pembentukan pasukan khusus diawali dengan pengalaman Kolonel AE Kawilarang selaku Panglima Tentara dan Territorium (TT) VII/Indonesia Timur dan Letkol Ign Slamet Riyadi dalam operasi menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan di Maluku.

"Gugurnya Slamet Riyadi saat merebut Fort Victoria di Ambon, membuat gagasan pembentukan itu dilanjutkan oleh Kolonel AE Kawilarang, saat ia menjabat sebagai Panglima TT III/Siliwangi," ucap Syahrir MS.

Dengan berdasarkan instruksi Panglima TT III No 52 Instr/ PDS/52 tanggal 16 April 1952, secara resmi terbentuk satuan komando TT III yang terlebih dahulu diawali dengan pendidikan pembentukan prajurit komando. Dalam perkembangannya, satuan itu menjadi Kopassus.

Belum cukup mengabdi

Usai penyematan kehormatan itu, Kawilarang dengan rendah hati mengatakan dirinya masih merasa jauh dari cukup dalam mengabdi negara. Ia juga menekankan, sebetulnya Kopassus yang semula disebut Kesatuan Komando TT III/Siliwangi dan dibentuk puluhan tahun lalu tersebut, tidak mungkin dibentuk tanpa jasa Letkol Ign Slamet Riyadi.

Perwira lulusan Koninklijk Militaire Academie itu memulai karier sebagai opsir penghubung dengan Pasukan Inggris di Jakarta (1945), lalu menjadi Kepala Staf Resimen Bogor, Komandan Resimen Infanteri Bogor, kemudian Komandan Brigade II Sukabumi (1946).

Pada tahun 1948, putra Manado kelahiran Meestercornelis (Jatinegara) Jakarta, 11 Februari 1920 ini menjabat sebagai Komandan Brigade I/Siliwangi di Yogyakarta, kemudian menjadi Komandan Sub Territorium II Tapanuli. Tahun berikutnya ia menjadi Komandan Territorium Sumatera Utara lalu menjabat Panglima TT I hingga tahun 1950. Tahun 1951, ia menjabat Panglima TT VII/Indonesia Timur dan pada November tahun yang sama menjadi Panglima TT III/Siliwangi.

Sebagai perwira tempur, Kawilarang ikut serta dalam operasi penumpasan Pemberontakan Andi Azis, Republik Maluku Selatan, Kahar Muzakar, dan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia. Hasratnya sebagai militer profesional serta kejemuan melihat politisi yang mencampuri urusan internal militer waktu itu membuat Kawilarang berdiri di pihak kelompok pro-Peristiwa 17 Oktober 1952 dan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta). (gg)

Sumber: Kompas Cyber Media  - Jumat, 16 April 1999



Copyright ©2002 oleh Permesta Information Online™
Silahkan menyalin atau mengutip seluruh isi atau sebagiannya dengan mencantumkan sumber "dikutip dari Permesta Information Online"