Oom Ben Sondakh (60),
ketika secara tidak sengaja bertemu Permesta57 pada
tanggal 6 dan 7 Maret 2002 dalam perjalanan dari Papua ke Manado di atas
KM Ciremai menuturkan pengalamannya selama pergolakan sebagai berikut:
Tahun
1958 saya ketika itu berumur 17 tahun, pasukan-pasukan Permesta mulai
mundur ke selatan. Sebagian besar masyarakat mendukung Permesta. Mereka
turut mengungsi. Saya ikut mengungsi ke lereng gunung Soputan. Di sana,
saya secara sukarela bergabung dengan Batalyon 999 yang pimpinannya adalah
Jan Timbuleng. Adapula teman-teman kami yang ikut bergabung dengan
Permesta saat berumur 15 atau 16 tahun, jadi masih di SMP atau SMA. Kami
tidak menerima latihan militer terlebih dahulu seperti pasukan inti
Permesta sebelumnya, waktu itu saya tidak sempat menerima pangkat.
Akibatnya saya dan teman-teman yang bergabung belakangan tidak memiliki
pengetahuan tempur.
Tahun
1959, seorang perwira militer Taiwan datang dan memberikan latihan militer
kepada kami. Sebelumnya beliau telah memberikan latihan kepada pasukan
Permesta yang lain. Namanya Mr. Tan. Ia seorang veteran perang dunia II
dan lancar berbahasa Melayu. Mula-mula kami diajarkan baris-berbaris,
kemudian teknik-teknik melakukan serangan. Kalau kami berhadapan dengan
musuh di daerah terbuka maka kami diharuskan menggunakan kamuflase,
seperti rumput-rumput di kepala dan sekujur punggung. Hal ini dimaksudkan
untuk mengelabui lawan. Perlengkapan senjata Permesta yang kami pakai
antara lain, senjata laras panjang Taiwan, mortir, granat, bazooka anti
tank, bar brand, brand, mauser, pistol dan senapan mesin berat 12,7.
Ketika
ditanya tentang pengalaman tempur yang paling mengesankan, ayah beranak 4
ini masih ingat pengalaman serangan umum di Amurang. Permesta melakukan
serangan umum mendadak yang sama sekali tidak diduga oleh tentara pusat.
Pohon-pohon kelapa yang di atas pasukan pusat itu sudah banyak ofunya
(lebah), kami tembak sarang ofu, sehingga ofu tersebut menyerang pasukan
pusat yang sementara berada di bawah pohon. Mereka lari terbirit-birit,
teman kami yang memakai 12,7 kemudian berhasil memukul mundur panser
tentara pusat. Kota Amurang berhasil kami duduki kembali beberapa jam.
Tapi kami terpaksa harus mundur lagi ke hutan untuk melanjutkan
perjuangan. Dalam pertempuran banyak tentara pusat yang tewas, ada juga
tentara Permesta yang tertembak mati, kami sedih kalau melihat teman kami
tertembak, ingin sekali kami menarik mereka ke hutan tetapi nyawa kami
turut pula terancam, jadi kami membiarkannya, Ada pula teman-teman kami
yang ceroboh, mereka pikir tentara pusat sudah mundur semua, jadi mereka
tidak hati-hati lagi, kemudian mereka mencari makanan, saat makanan
dipikul mereka akhirnya kena tembak.
Selama
tiga tahun bertempur, di hutan kami makan makanan seadanya seperti kasbi
bakar, tombong kelapa dan sayur-sayur di hutan. Pengalaman susah itu kami
hadapi dengan tabah.
Pasukan
pusat itu jumlahnya banyak sekali, tetapi Permesta lebih menguasai
medan tempur, sehingga dalam berbagai pertempuran banyak pasukan pusat
yang tewas. Di setiap ibu kota kecamatan waktu itu ada taman makam
pahlawannya.
Tahun
1961, dilakukan penyelesaian dengan pusat. Kami dikirim ke Jawa guna
menerima rehabilitasi, saya dengan teman-teman naik kapal angkut pasukan
ADRI yang namanya Aronda dan tiba di Tanjung Perak Surabaya tanggal 1
September 1961, kami ditampung di Dinoyo. Di sana selama masa rehabilitasi
kami diperlakukan dengan baik. Kami menerima sabun mandi, rokok dan
sedikit uang saku. Setelah selesai masa rehabilitasi kami diberikan 3
pilihan yaitu kembali ke bangku sekolah, kembali ke masyarakat dan masuk
TNI. Setelah dites ternyata hanya sedikit yang tembus. Sedangkan sebagian
besar kembali ke masyarakat.
Untuk
menyekolahkan anak-anaknya, Oom Ben Sondakh bekerja sebagi OPSI (pedagang
antar pulau). Ia biasa menjual sayur, gula merah dan telur ke Irian Jaya
dengan kapal penumpang. Menurut pengakuannya, pengalaman hidup semasa
Permesta pernah pula terbawa dalam mimpi. Walaupun tidak sering, saat
tidur Oom Ben Sondakh pernah bermimpi berada di tengah-tengah pertempuran.
Oom Ben berpesan agar jangan lagi ada pertempuran seperti itu, karena yang
paling menderita sengsara adalah rakyat.
Oom
Ben Sondakh adalah salah satu dari ribuan pejuang Permesta yang masih
hidup, dan di usia senjanya beliau masih segar dan tetap bekerja keras
menghidupi keluarga. Ketika ditanya Permesta57 tentang bagaimana memajukan
masyarakat SULUT, Oom Ben Sondakh berpesan "Kalo mo maju, torang
orang Minahasa nimbole gengsi dalam bekerja"Oom Ben, terima kasih neh
atas cerita tadi, semoga torang bertemu dalam trip-trip kapal selanjutnya.
(by
Permesta webmaster, Manado, 8 Maret 2002)