Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web


corner-top-left.gif Welcome to PERMESTA INFORMATION ONLINE ONLINE (PIO)

Cari di PIO Cari di Internet
    Signup / Login E-mail   Sejarah Kronologis |  Tokoh |   Album |   Artikel |   Buku Tamu  
 Menu Utama
· Homepage
· Piagam Permesta
· Fakta Permesta
· Sejarah Kronologis
· Tokoh Permesta
· Wawancara Pelaku
· Organisasi/Slagorde
· Album Foto Permesta
· Publikasi Buku

 Berita Utama


 Artikel
·  Artikel²
· Reuni ex-Permesta
· Press Release
· Kebijakan Situs
· Buku Tamu Situs PIO
· Hubungi Webmaster
· Kontribusi Artikel
· Ucapan Terima Kasih
· Links



Anda Pengunjung ke: 245

245

"TIGA TAHUN BERGERILYA BERSAMA BRIGADE MANGUNI"

Oom Ben Sondakh (60), ketika secara tidak sengaja bertemu Permesta57 pada tanggal 6 dan 7 Maret 2002 dalam perjalanan dari Papua ke Manado di atas KM Ciremai menuturkan pengalamannya selama pergolakan sebagai berikut:

Tahun 1958 saya ketika itu berumur 17 tahun, pasukan-pasukan Permesta mulai mundur ke selatan. Sebagian besar masyarakat mendukung Permesta. Mereka turut mengungsi. Saya ikut mengungsi ke lereng gunung Soputan. Di sana, saya secara sukarela bergabung dengan Batalyon 999 yang pimpinannya adalah Jan Timbuleng. Adapula teman-teman kami yang ikut bergabung dengan Permesta saat berumur 15 atau 16 tahun, jadi masih di SMP atau SMA. Kami tidak menerima latihan militer terlebih dahulu seperti pasukan inti Permesta sebelumnya, waktu itu saya tidak sempat menerima pangkat. Akibatnya saya dan teman-teman yang bergabung belakangan tidak memiliki pengetahuan tempur.

Tahun 1959, seorang perwira militer Taiwan datang dan memberikan latihan militer kepada kami. Sebelumnya beliau telah memberikan latihan kepada pasukan Permesta yang lain. Namanya Mr. Tan. Ia seorang veteran perang dunia II dan lancar berbahasa Melayu. Mula-mula kami diajarkan baris-berbaris, kemudian teknik-teknik melakukan serangan. Kalau kami berhadapan dengan musuh di daerah terbuka maka kami diharuskan menggunakan kamuflase, seperti rumput-rumput di kepala dan sekujur punggung. Hal ini dimaksudkan untuk mengelabui lawan. Perlengkapan senjata Permesta yang kami pakai antara lain, senjata laras panjang Taiwan, mortir, granat, bazooka anti tank, bar brand, brand, mauser, pistol dan senapan mesin berat 12,7.

Ketika ditanya tentang pengalaman tempur yang paling mengesankan, ayah beranak 4 ini masih ingat pengalaman serangan umum di Amurang. Permesta melakukan serangan umum mendadak yang sama sekali tidak diduga oleh tentara pusat. Pohon-pohon kelapa yang di atas pasukan pusat itu sudah banyak ofunya (lebah), kami tembak sarang ofu, sehingga ofu tersebut menyerang pasukan pusat yang sementara berada di bawah pohon. Mereka lari terbirit-birit, teman kami yang memakai 12,7 kemudian berhasil memukul mundur panser tentara pusat. Kota Amurang berhasil kami duduki kembali beberapa jam. Tapi kami terpaksa harus mundur lagi ke hutan untuk melanjutkan perjuangan. Dalam pertempuran banyak tentara pusat yang tewas, ada juga tentara Permesta yang tertembak mati, kami sedih kalau melihat teman kami tertembak, ingin sekali kami menarik mereka ke hutan tetapi nyawa kami turut pula terancam, jadi kami membiarkannya, Ada pula teman-teman kami yang ceroboh, mereka pikir tentara pusat sudah mundur semua, jadi mereka tidak hati-hati lagi, kemudian mereka mencari makanan, saat makanan dipikul mereka akhirnya kena tembak.

Selama tiga tahun bertempur, di hutan kami makan makanan seadanya seperti kasbi bakar, tombong kelapa dan sayur-sayur di hutan. Pengalaman susah itu kami hadapi dengan tabah.

Pasukan pusat itu jumlahnya banyak sekali, tetapi Permesta lebih menguasai  medan tempur, sehingga dalam berbagai pertempuran banyak pasukan pusat yang tewas. Di setiap ibu kota kecamatan waktu itu ada taman makam pahlawannya.

Tahun 1961, dilakukan penyelesaian dengan pusat. Kami dikirim ke Jawa guna menerima rehabilitasi, saya dengan teman-teman naik kapal angkut pasukan ADRI yang namanya Aronda dan tiba di Tanjung Perak Surabaya tanggal 1 September 1961, kami ditampung di Dinoyo. Di sana selama masa rehabilitasi kami diperlakukan dengan baik. Kami menerima sabun mandi, rokok dan sedikit uang saku. Setelah selesai masa rehabilitasi kami diberikan 3 pilihan yaitu kembali ke bangku sekolah, kembali ke masyarakat dan masuk TNI. Setelah dites ternyata hanya sedikit yang tembus. Sedangkan sebagian besar kembali ke masyarakat.

Untuk menyekolahkan anak-anaknya, Oom Ben Sondakh bekerja sebagi OPSI (pedagang antar pulau). Ia biasa menjual sayur, gula merah dan telur ke Irian Jaya dengan kapal penumpang. Menurut pengakuannya, pengalaman hidup semasa Permesta pernah pula terbawa dalam mimpi. Walaupun tidak sering, saat tidur Oom Ben Sondakh pernah bermimpi berada di tengah-tengah pertempuran. Oom Ben berpesan agar jangan lagi ada pertempuran seperti itu, karena yang paling menderita sengsara adalah rakyat.

Oom Ben Sondakh adalah salah satu dari ribuan pejuang Permesta yang masih hidup, dan di usia senjanya beliau masih segar dan tetap bekerja keras menghidupi keluarga. Ketika ditanya Permesta57 tentang bagaimana memajukan  masyarakat SULUT, Oom Ben Sondakh berpesan "Kalo mo maju, torang orang Minahasa nimbole gengsi dalam bekerja"Oom Ben, terima kasih neh atas cerita tadi, semoga torang bertemu dalam trip-trip kapal selanjutnya.

(by Permesta webmaster, Manado, 8 Maret 2002)



Copyright ©2003 oleh Permesta Information Online™
Silahkan menyalin atau mengutip seluruh isi atau sebagiannya dengan mencantumkan sumber "dikutip dari Permesta Information Online"