Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web


corner-top-left.gif Welcome to PERMESTA INFORMATION ONLINE ONLINE (PIO)

Cari di PIO Cari di Internet
    Signup / Login E-mail   Sejarah Kronologis |  Tokoh |   Album |   Artikel |   Buku Tamu  
 Menu Utama
· Homepage
· Piagam Permesta
· Fakta Permesta
· Sejarah Kronologis
· Tokoh Permesta
· Wawancara Pelaku
· Organisasi/Slagorde
· Album Foto Permesta
· Publikasi Buku

 Berita Utama


 Artikel
·  Artikel²
· Reuni ex-Permesta
· Press Release
· Kebijakan Situs
· Buku Tamu Situs PIO
· Hubungi Webmaster
· Kontribusi Artikel
· Ucapan Terima Kasih
· Links



Anda Pengunjung ke: 132

132

Kisah penyamaran anggota CIA, Allan Pope di Sulawesi Utara (2/habis)
Pesawat Permesta Tertembak jatuh, Presiden AS Turun Tangan

Banyak yang tahu bahwa perjuangan tokoh Permesta di Sulawesi Utara di era tahun 1957-1958, mendapat dukungan dari pihak Pemerintah Amerika Serikat. Bahkan dalam sebuah buku berjudul 'Feet to the Fire, CIA Covert Operations in Indonesia 1957-1958' yang ditulis Kenneth Conboy dan James Morrison terbitan tahun 1999, mengungkapkan bahwa dukungan AS melalui dinas rahasianya (CIA) bukan hanya dalam bentuk dana, pelatihan dan peralatan tempur. Namun lebih daripada itu, mereka juga mengirim sejumlah agen rahasia terbaiknya. Berikut sekelumit kisahnya dalam gerakan Permesta yang dihimpun Litbag Komentar dari sejumlah sumber.

Dalam tulisan pertama, Allan Pope bersama co-pilotnya Harry Rantung, sekembalinya dari jisi pengeboman di Ambon, melihat konvoi kapal AL di perairan Teluk Ambon. Saat itu juga, setelah mengontak Manado dan mendapat izin menyerang, Pesawat  Bomber B-26 yang diawaki Alan Pope dan Harry Rantung langsung menukik mencari sasaran.

Sebuah kapal 'índuk' bernam Sawega merupakan sasaran yang dipilih Allan Pope untuk dirontokkan. Pasalnya, di kapal itu penuh dengan pasukan dan tank-tank pendarat. Hanya saja, sewaktu melakukan manuver mengebom, Allan Pope kurang berhasil. Bom yang dilepaskan hanya mengenai samping kiri kanan Sawega.

Bom-bom itu meleset, hanya beberapa meter dari buritan kapal. Namun ada juga peluru yang dihantam di atas geladak, tapi tidak berpengaruh terhadap kapal AL RI itu. Suatu ketika, selepas menghamburkan peluru, pesawat Pope berputar untuk bisa naik pada satu ketinggian. Pasalnya, peluru dari arah kapal yang menembak datang bertubi-tubi.Fatalnya lagi, ketika aksinya belum berhasil, tiba-tiba sebuah kapal AURI muncul. Pesawat itu jenis Mustang. Lebih cepat dibanding B-26 milik Pope. Pesawat itupun langsung memburu pesawat Pope yang bergerak pelan. Diketahui pilot pesawat pemburu itu adalah Kapten Udara, Ignatius Dewanto. Melihat manuver sebuah pesawat pembom sedang berusaha menyergap konvoi kapal pemerintah pusat. Nalurinya sebagai penerbang pemburu berbicara. Dewanto (28) segera mengejar serta menempatkan pesawatnya persis di belakang pesawat pembom tersebut.

Tangannya menarik picu, dengan beriringan tiga roket meluncur mulus. Sayang, ketiga-tiganya melenceng dari sasaran. Oleh karena itu dia berganti kepada senapan mesin, persenjataan standar pesawat Mustang.

Dewanto, penerbang tempur dari Skadron III AURI, langsung menembak ke arah pembom yang sedang melayang dengan gerak pelan tersebut. Dari serangkaian tembakan, dia melihat salah satu pelurunya menghantam sayap kakan pesawat lawan. Bersamaan dengan ini, rentetan peluru dari bawah juga mulai menghajar perut pesawat Pope. Dalam beberapa menit, dua arah tembakan menghujam pesawat Pope.

Tiba-tiba Pope dan Harry merasakan pesawat mereka bergoncang keras. "Kita kena tembak, pesawat terbakar, segera lapor ke Manado," demikian perintah Pope kepada Rantung saat itu.

Begitu ledakan terdengar, dalam waktu sekejap, lidah api mulai menjilati kokpit. berpacu dengan waktu, lewat interkom Pope meminta Jan Harry Rantung, satu-satunya rekannya, agar meninggalkan pesawat. Dari balik payung udara yang membawa tubuh penerbang nahas tersebut turun perlahan ke bumi, dia masih sempat menyaksikan pesawatnya terbakar dan meluncur cepat, tenggelam masuk laut.

Untunglah keduanya selamat, namun Pope dan Rantung tertawan pihak pemerintah pusat. Di sinilah terungkap bahwa Pope adalah seorang anggota CIA. Pasalnya, saat ditemukan pasukan pusat di Pulau Hatala (tempat parasut Pope mendarat), kartu-kartu Pope digeledah. Identitas dan semua surat-surat Pope memang dibawa lengkap.

Sehingga tidak ada alagi peluang bagi pemerintah AS dan CIA untuk mengelak. Minggu sore 18 Mei 1958 di markas CIA di Washington DC, sesudah berita hilangnya  pesawat Pope mulai diketahui, James Glerum langsung melapor kepada Direktur CIA Allen Dulles. "Pope tidak steril, dia membawa catatan nama semua pilot kita."

Mendengar laporan mngejutkan tersebut Allen langsung menelepon saudaranya, Menlu Dulles, "Foster, begini situasi kita di sana" Sesaat kemudian mata Allen Dulles menatap Glerum sambil berkata,"We're pulling the plug, kita harus segera cabut," katanya.

Awal tahun 1960, setelah dua tahun pesawatnya tertembak jatuh, Pope diajukan ke depan pengadian militer di Jakarta. Hakim akhirnya menjatuhkan hukuman mati. Oleh karena dia terbukti melakukan beberapa kali misi pengeboman. Misi tersebut dilaksanakan atas perintah CIA oleh karena semua dokumen yang dibawa Pope dengan jelas menunjukkan keterlibatan CIA dan juga pemerintahan Eisenhower.

 Namun sebelum eksekusi dilaksanakan, hubungan Indonesia-Amerika kemudian mulai berubah menjadi baik ketika John Kenedy tampil menggantikan Eisenhower. Hal itu sangat menolong posisi Pope. Dan itu membuatnya dibebaskan.

Denagn jiwa besar, Bung Karno pada tanggal 22 Agustus 1962 siang mengatakan, "Just go home, hide yourself, and we'll forget teh whole thing (pulanglah ke rumah, sembunyikan dirimu, dan kami akan melupakan segalanya)".

Tanpa publikasi, pada amalam itu juga Pope dibebaskan. Ia langsung  terbang kembali ke Miami, Florida, AS tempat kelahirannya serta melanjutkan karirnya sebagai penerbang. Kali ini dalam sebuah perusahaan lokal Southern Air Transport. Sesuai dengan janjinya kepada Bung Karno, dia memang selalu tutup mulut serta menghindar dari segala macam bentuk publikasi.

Sumber: Harian KOMENTAR Edisi Senin, 5 Agustus 2002
Revised by Permesta Information Online



Copyright ©2001-2003 oleh Permesta Information Online™
Silahkan menyalin atau mengutip seluruh isi atau sebagiannya dengan mencantumkan sumber "dikutip dari Permesta Information Online"