Kisah penyamaran anggota CIA, Allan Pope di Sulawesi Utara (2/habis)
Pesawat Permesta Tertembak jatuh, Presiden AS Turun Tangan
Banyak yang tahu bahwa perjuangan tokoh Permesta di Sulawesi Utara di era tahun 1957-1958, mendapat dukungan dari pihak Pemerintah Amerika Serikat. Bahkan dalam sebuah buku berjudul 'Feet to the Fire, CIA Covert Operations in Indonesia 1957-1958' yang ditulis Kenneth Conboy dan James Morrison terbitan tahun 1999, mengungkapkan bahwa dukungan AS melalui dinas rahasianya (CIA) bukan hanya dalam bentuk dana, pelatihan dan peralatan tempur. Namun lebih daripada itu, mereka juga mengirim sejumlah agen rahasia terbaiknya. Berikut sekelumit kisahnya dalam gerakan Permesta yang dihimpun Litbag Komentar dari sejumlah sumber.
Dalam tulisan pertama, Allan Pope bersama co-pilotnya Harry Rantung,
sekembalinya dari jisi pengeboman di Ambon, melihat konvoi kapal AL di
perairan Teluk Ambon. Saat itu juga, setelah mengontak Manado dan mendapat
izin menyerang, Pesawat Bomber B-26 yang diawaki Alan Pope dan Harry
Rantung langsung menukik mencari sasaran. Sebuah kapal 'índuk' bernam
Sawega merupakan sasaran yang dipilih Allan Pope untuk dirontokkan.
Pasalnya, di kapal itu penuh dengan pasukan dan tank-tank pendarat. Hanya
saja, sewaktu melakukan manuver mengebom, Allan Pope kurang berhasil. Bom
yang dilepaskan hanya mengenai samping kiri kanan Sawega. Bom-bom itu
meleset, hanya beberapa meter dari buritan kapal. Namun ada juga peluru
yang dihantam di atas geladak, tapi tidak berpengaruh terhadap kapal AL RI
itu. Suatu ketika, selepas menghamburkan peluru, pesawat Pope berputar
untuk bisa naik pada satu ketinggian. Pasalnya, peluru dari arah kapal
yang menembak datang bertubi-tubi.Fatalnya lagi, ketika aksinya belum
berhasil, tiba-tiba sebuah kapal AURI muncul. Pesawat itu jenis Mustang.
Lebih cepat dibanding B-26 milik Pope. Pesawat itupun langsung memburu
pesawat Pope yang bergerak pelan. Diketahui pilot pesawat pemburu itu
adalah Kapten Udara, Ignatius Dewanto. Melihat manuver sebuah pesawat
pembom sedang berusaha menyergap konvoi kapal pemerintah pusat. Nalurinya
sebagai penerbang pemburu berbicara. Dewanto (28) segera mengejar serta
menempatkan pesawatnya persis di belakang pesawat pembom tersebut. Tangannya
menarik picu, dengan beriringan tiga roket meluncur mulus. Sayang,
ketiga-tiganya melenceng dari sasaran. Oleh karena itu dia berganti kepada
senapan mesin, persenjataan standar pesawat Mustang. Dewanto, penerbang
tempur dari Skadron III AURI, langsung menembak ke arah pembom yang sedang
melayang dengan gerak pelan tersebut. Dari serangkaian tembakan, dia
melihat salah satu pelurunya menghantam sayap kakan pesawat lawan.
Bersamaan dengan ini, rentetan peluru dari bawah juga mulai menghajar
perut pesawat Pope. Dalam beberapa menit, dua arah tembakan menghujam
pesawat Pope. Tiba-tiba Pope dan Harry merasakan pesawat mereka
bergoncang keras. "Kita kena tembak, pesawat terbakar, segera lapor
ke Manado," demikian perintah Pope kepada Rantung saat itu. Begitu
ledakan terdengar, dalam waktu sekejap, lidah api mulai menjilati kokpit.
berpacu dengan waktu, lewat interkom Pope meminta Jan Harry Rantung,
satu-satunya rekannya, agar meninggalkan pesawat. Dari balik payung udara
yang membawa tubuh penerbang nahas tersebut turun perlahan ke bumi, dia
masih sempat menyaksikan pesawatnya terbakar dan meluncur cepat, tenggelam
masuk laut. Untunglah keduanya selamat, namun Pope dan Rantung tertawan
pihak pemerintah pusat. Di sinilah terungkap bahwa Pope adalah seorang
anggota CIA. Pasalnya, saat ditemukan pasukan pusat di Pulau Hatala
(tempat parasut Pope mendarat), kartu-kartu Pope digeledah. Identitas dan
semua surat-surat Pope memang dibawa lengkap. Sehingga tidak ada alagi
peluang bagi pemerintah AS dan CIA untuk mengelak. Minggu sore 18 Mei 1958
di markas CIA di Washington DC, sesudah berita hilangnya pesawat
Pope mulai diketahui, James Glerum langsung melapor kepada Direktur CIA
Allen Dulles. "Pope tidak steril, dia membawa catatan nama semua
pilot kita." Mendengar laporan mngejutkan tersebut Allen langsung
menelepon saudaranya, Menlu Dulles, "Foster, begini situasi kita di
sana" Sesaat kemudian mata Allen Dulles menatap Glerum sambil
berkata,"We're pulling the plug, kita harus segera
cabut," katanya. Awal tahun 1960, setelah dua tahun pesawatnya
tertembak jatuh, Pope diajukan ke depan pengadian militer di Jakarta.
Hakim akhirnya menjatuhkan hukuman mati. Oleh karena dia terbukti
melakukan beberapa kali misi pengeboman. Misi tersebut dilaksanakan atas
perintah CIA oleh karena semua dokumen yang dibawa Pope dengan jelas
menunjukkan keterlibatan CIA dan juga pemerintahan Eisenhower. Namun
sebelum eksekusi dilaksanakan, hubungan Indonesia-Amerika kemudian mulai
berubah menjadi baik ketika John Kenedy tampil menggantikan Eisenhower.
Hal itu sangat menolong posisi Pope. Dan itu membuatnya dibebaskan. Denagn
jiwa besar, Bung Karno pada tanggal 22 Agustus 1962 siang mengatakan,
"Just go home, hide yourself, and we'll forget teh whole thing
(pulanglah ke rumah, sembunyikan dirimu, dan kami akan melupakan
segalanya)". Tanpa publikasi, pada amalam itu juga Pope dibebaskan.
Ia langsung terbang kembali ke Miami, Florida, AS tempat
kelahirannya serta melanjutkan karirnya sebagai penerbang. Kali ini dalam
sebuah perusahaan lokal Southern Air Transport. Sesuai dengan janjinya
kepada Bung Karno, dia memang selalu tutup mulut serta menghindar dari
segala macam bentuk publikasi.
Sumber: Harian KOMENTAR Edisi Senin, 5 Agustus 2002
Revised by Permesta Information Online
|
 |