Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web


corner-top-left.gif Welcome to PERMESTA INFORMATION ONLINE ONLINE (PIO)

Cari di PIO Cari di Internet
    Signup / Login E-mail   Sejarah Kronologis |  Tokoh |   Album |   Artikel |   Buku Tamu  
 Menu Utama
· Homepage
· Piagam Permesta
· Fakta Permesta
· Sejarah Kronologis
· Tokoh Permesta
· Wawancara Pelaku
· Organisasi/Slagorde
· Album Foto Permesta
· Publikasi Buku

 Berita Utama


 Artikel
·  Artikel²
· Reuni ex-Permesta
· Press Release
· Kebijakan Situs
· Buku Tamu Situs PIO
· Hubungi Webmaster
· Kontribusi Artikel
· Ucapan Terima Kasih
· Links



Anda Pengunjung ke: 536

536

SUARA PEMBARUAN DAILY

Kegagalan Pemberontakan Permesta Beri Pelajaran Pemerintah AS


JAKARTA - Kegagalan pemberontakan PRRI/Permesta, di Sumatera dan Sulawesi, memberi pelajaran kepada pemerintah AS bahwa intervensi dalam urusan dalam negeri negara lain untuk melakukan suatu perubahan terbukti counter productive dan lebih baik membantu mengembangkan institusi demokrasi dengan harapan perubahan bisa terjadi dari dalam.
Kesimpulan itu dibuat oleh Dr Barbara Harvey, penulis buku ''PRRI/Permesta: Pemberontakan Setengah Hati'' yang juga mantan wakil duta besar AS di Jakarta. Dia baru meninggalkan posnya tahun lalu.
Hal itu terungkap dalam seminar sehari ''50 Tahun Hubungan Indonesia-Amerika'' dengan sub tema ''Pemberontakan PRRI/Permesta'' yang berlangsung di Kampur UI Depok Selasa lalu.
Menurut Barbara pemerintah AS menghentikan keterlibatannya dalam pemberontakan PRRI-Permesta (1958-1961) sejak pesawat pembom yang dipiloti Allan Pope, seorang agen CIA, ditembak jatuh pada bulan Mei 1958.
Keterlibatan AS sendiri bermula sejak September 1957 melalui sebuah panitia inter-departemen yang menyusun rencana membendung komunisme di Indonesia.

Anti-komunis
Menurut rencana itu dengan mendukung PRRI/Permesta maka akan terbentuk negara-negara kepulauan dimulai dengan ''Negara Sumatera'' yang bersifat anti-komunis, sehingga apabila PKI dapat merebut kekuasaan di Jawa maka kekuasaannya terbatas di pulau itu saja.
Orang yang banyak berperan dalam operasi itu adalah Menlu AS John Foster Dulles dan Direktur CIA W Allen Dulles.
Bantuan AS waktu itu berupa senjata, latihan dan uang yang diberikan melalui suatu operasi rahasia (covert action).
Dan itu semua dihentikan ketika pesawat yang diterbangkan Allan Pope jatuh di seputar Maluku. Insiden ini secara langsung menyingkap keterlibatan AS dengan kelompok PRRI/Permesta.
''AS gagal dalam melakukan campur tangan di luar negeri karena masyarakatnya terbuka sehingga bisa langsung diketahui bahwa pemerintah ternyata mendukung pemberontak,'' katanya.
Itu sebabnya operasi itu disebut setengah hati karena dukungan itu dilakukan secara rahasia.
Namun dia juga tidak menutup kenyataan bahwa dukungan AS yang sangat terbuka dalam perang Vietnam ternyata juga tidak berhasil membendung gerak maju komunis di Vietnam Utara dan malah menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi pihak AS sendiri.
Sementara itu pembicara lain dalam seminar itu, Vence Sumual, salah seorang tokoh pemberontakan PRRI/Permesta dan kala itu menjabat sebagai KSAD PRRI, mengatakan bantuan AS pada waktu itu sebenarnya bukanlah untuk kelompok pemberontak melainkan untuk kepentingan AS sendiri karena mereka mempunyai kepentingan sendiri.

Bertemu
Menurut Vence tahun 1957, ketika dia berpangkat kolonel dan menjadi Panglima Teriterium Tentara VII (Indonesia Timur), dia pernah bertemu dengan Kol. Ahmad Yani dan Kol. AH Nasution dan mengatakan kepada mereka kalau bapak-bapak mau digantung komunis silahkan, saya tidak.
Dan pemberontakan PRRI memang salah satu tujuannya adalah melawan komunis yang mulai menyusup ke tubuh pemerintah pusat.
''Kalau kami akhirnya memilih kembali ke pangkuan ibu pertiwi itu karena kita sama-sama anti komunis, dan kalau kami tetap bertempur melawan pasukan pemerintah pusat sama saja kami membantu PKI,'' kata Vence, yang mengaku pasukannya setelah terpukul oleh satuan-satuan ABRI sebenarnya telah siap melancarkan perang gerilya.
Pembicara lain pada seminar yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Wilayah Amerika, Fakultas Sastra-UI adalah Dr Saafroedin Bahar, staf pada kantor Menteri Sekretariat Negara, Prof Dr RZ Leirissa, guru besar sejarah FS-UI, dan Retno Sukardan Mamoto, PhD. (K-6)

The CyberNews was brought to You by the OnLine Staff
Last modified: 4/24/98
Sumber:http://www.suarapembaruan.com/News/1998/04/240498/LuarNegr/ln04/ln04.html
Revised by Permesta Information Online


Copyright ©2002 oleh Permesta Information Online™
Silahkan menyalin atau mengutip seluruh isi atau sebagiannya dengan mencantumkan sumber "dikutip dari Permesta Information Online"