Misi Mapanget, Excited! (Bag.1)
Santer AS akan mengerahkan B-29
Superfortress, AURI buru-buru menggelar operasi udara di Indonesia Timur. Satu unit
penggempur terdiri dari pembom dan pesawat pemburu disiapkan untuk memecah konsentrasi
kekuatan udara Permesta
di Mapanget.
Namanya "Operasi Merdeka". Letkol Rukminto Hendraningrat ditunjuk sebagai
"panglimanya" dibantu Letkol KKO Hunholz dan Mayor Udara Leo Wattimena.
Padahal beberapa hari sebelumnya, sebagian besar kekuatan tempur udara AURI masih berada
di Sumatera untuk membungkam gerakan sejenis yang bernama PRRI. Namun karena informasi
intelijen menyebutkan bahwa CIA yang bercokol di belakang gerakan PRRI/Permesta disebut-sebut
tengah menyiapkan sebuah operasi pemboman menggunakan pembom raksasa
B-29, tidak ada pilihan bagi APRI untuk segera memerintahkan kekuatan AURI untuk segera
digeser ke Timur.
Kekhawatiran di antara para penerbang saat itu yang dirasakan Marsdya (Pur) Sri Muljono
Herlambang sangat mencekam. Apalagi setelah pangkalan udara Morotai yang mampu didarati
pesawat berbadan besar sudah dikuasai, serangan-serangan mendadak oleh
P-51 Mustang dan B-26 Invader Permesta di beberapa wilayah di Indoneisa Timur,
dari hari ke hari semakin memperbesar keprihatinan mereka akan pecahnya perlawanan sengit
dari Timur. Dalam satu kesempatan terpisah pernah Mayor (Pur) Petit Muharto mantan
Komandan AU Permesta mengatakan bahwa Pulau Natuna termasuk incaran Permesta sebelum
menggempur Jakarta.
Perasaan itu sebaliknya tidak dirasakan para crew ketika menggelar "Operasi
Tegas" di Sumatera. "Karena kita tahu pasti PRRI tidak diperkuat kekuatan
udara," jelas Sri Muljono. Namun begitu, bukan berarti AURI menyepelekan kekuatan
PRRI. Buktinya, puluhan pesawat tetap digelar di Pangkalan Tanjung Pinang pada bulan Maret
1958. Yaitu empat B-25, 10 P-51, 6 AT-16
Harvard, 20 C-47 Dakota, serta satu Batalion Pasukan Gerak Tjepat (PGT).
Penggelaran kekuatan udara AURI di Tanjung Pinang ini, dari segi jumlah,
belum terpecahkan hingga saat ini.
Empat B-25 yang ditugaskan saat itu masing-masing diawaki oleh Mayor Udara Soetopo dan
Kapten Udara Sri Muljono Herlambang
(leader), serta LU I Soewoto Sukendar dan LU I Pedet Soedarman sebagai
wingman. Sebelum penggelaran pesawat ini,
seluruh penerbang, para komandan PGT dan RPKAD telah
di-brief langsung oleh Jenderal AH Nasution agar tidak terjadi kesalahan dalam
bertindak. Seperti, jangan sampai melukai apalagi membunuh orang asing yang saat itu
banyak bekerja di kilang-kilang minyak di
Pekanbaru dan Palembang. Kalaulah sampai terjadi, ancaman besar akan bergulir dari Hawaii
(Armada VII). Sebagai catatan kecil, kilang minyak BPM (Shell) dan Standard Vacuum Oil
(Stanvac) di Palembang menghasilkan 63,5 persen ekspor minyak Indonesia dan 36 persen dari
total ekspor pada 1956.
Sebelum Pekanbaru dan Padang diduduki, kekuatan APRI bergerak dari Tanjung Pinang untuk
memasuki Sumatera. Namun sebelum melakukan operasi militer secara penuh, APRI berusaha
melakukan pendekatan secara persuasif seperti menyebarkan pamflet
lewat udara. Upaya ini dilakukan beberapa saat setelah "Dewan Banteng" yang dipimpin
Letkol Ahmad Hussein diproklamirkan di Bukittinggi 20 Desember 1956. Dua pesawat B-25 yang
salah satunya diterbangkan Sri Muljono, diterbangkan dari Lanud Halim
Perdanakusuma untuk menebarkan pamflet di Padang, Padang Panjang, dan Buktitinggi.
Diceritakan Sri Muljono, kedatangan dua pesawat B-25 dengan tiba-tiba dari arah selatan
Kota Padang itu, mengagetkan segenap warga kota yang pagi itu dalam perjalanan ke kantor dan
sekolah. Tidak sekadar itu saja, pernah pula Sri Muljono terbang di atas
Kota Padang untuk mendrop vaksin penyakit anjing gila yang tengah mewabah di Padang kala itu.
"Tugas B-25 itu bisa beragam, tidak sekadar tempur saja," jelasnya.
CIA
Perintah untuk melakukan operasi militer secara terbuka bergulir dari Jakarta pada tanggal
20 Februari 1958. Keputusan ini diambil Jakarta sehubungan berakhirnya ultimatum pemerintah
pusat kepada PRRI untuk menyerah. Maka hari itu, dua pesawat B-25
dengan penerbang Kapten Sri Muljono dan Mayor Soetopo mendapat perintah menyebarkan pamflet
yang berisi himbauan agar PRRI menyerah. Sebelum menuju daerah tujuan, kedua pesawat mendarat
di Astra Setra, Lampung agar tidak diketahui Letkol Barlian,
Komandan Sumatera Selatan. Barulah esok paginya kedua pesawat terbang menyusuri pantai barat
Sumatera. Setelah terbang sekitar hampir dua jam, mereka mulai memasuki pantai Padang. Satu
pesawat lalu meninggi, sementara pesawat kedua terbang lebih rendah. Berarti
pesawat inilah yang akan menebarkan pamflet. Tugas ini mereka lakukan secara bergantian.
"Yang di atas tugasnya mengamati kalau ada tembakan dari bawah," jelas Sri Muljono
lagi.
Dalam merampungkan persiapan operasinya, Pangkalan Udara Tanjung Pinang ditunjuk sebagai
pangkalan induk. Di pangkalan ini segala persiapan dilakukan untuk merebut Pekanbaru dan
pangkalan udaranya. Menduduki pangkalan udara Pekanbaru
menjadi prioritas utama APRI, sebelum memutuskan untuk menduduki Padang, Medan dan Palembang.
Sambil menunggu kesiapan APRI, aparat intelijen mulai bergerak baik lewat darat maupun dari
udara. Pengintaian-pengintaian dari udara dilakukan hampir tiap hari. Tidak itu
saja, untuk memperlancar serangan dan pendudukan nantinya dengan meminimalkan kekuatan musuh
sedari dini, jalur-jalur perhubungan penting seperti jembatan sudah dihancurkan dan diputuskan.
Persiapan telah rampung, tanggal 10 Maret diputuskan sebagai D-day. Namun karena suatu
alasan lain, rencana ini ditunda dan operasi diundur selama 48 jam. Alhasil dua hari kemudian
baru dilaksanakan. Khusus selama Operasi Tegas di Sumatera, semua
pesawat B-25 diakui Sri Muljono tidak dimuati bom. Karena memang sangat jelas PRRI tidak
mendapat bantuan pesawat dari CIA. Setidaknya empat B-25 dan enam P-51 mengudara pagi itu.
Tugasnya adalah membersihkan daerah penerjunan (DZ) bagi satu Batalion PGT dan
satu Kompi RPKAD dari tentara PRRI. Untuk itu, kesepuluh pesawat akan melakukan penembakan
ke kubu-kubu PRRI.
Beberapa jam sebelumnya, pada pukul 01.30 dini hari, sebuah pesawat PBY-5A
Catalina mendahului operasi subuh itu untuk memantau situasi sekaligus melaporkan keadaan
cuaca di daerah operasi. Sekitar pukul 4, pesawat Catalina sudah berputar-putar di
atas Pangkalan Udara Simpang Tiga, Pekanbaru. Kalau diperhatikan secara cermat, beberapa orang
di pagi buta itu terlihat berkeliaran di sekitar landasan. Mereka tidak sedikitpun curiga ketika
mendengar suara pesawat menderu-deru di kegelapan malam.
Begitu juga dengan penerbang Catalina, tidak menyadari adanya kegiatan di bawah. Barulah
ketika tiba-tiba banyak lampu menyala, di sisi lain terlihat api-api unggun dihidupkan.
Sepertinya isyarat. Apa yang sesungguhnya terjadi? Ternyata saat bersamaan,
orang-orang PRRI tengah menunggu pasokan senjata dari CIA. Pada waktu yang bersamaan, nun
di Tanjung Pinang, satu persatu pesawat AURI mulai mengudara. Sesuai dengan
flight plan, pada pukul 06.00 ditentukan semua pesawat sudah harus berada di
atas Pangkalan Simpang Tiga.
Awan tebal hampir menutupi pandangan mata. Gumpalannya berarak-arakan di ketinggian 150 meter.
Di bawah sana, beberapa orang yang dini hari ditemui awak Catalina masih menunggu pasokan senjata.
Mereka tidak sadar, bahwa di balik awan yang terlihat
indah itu, bahaya mengancam. Memang betul, sekonyong-konyong pesawat P-51 disusul B-25 bergantian
menyeruak dari balik awan. Rentetan senapan mesin kaliber 12,7 berhamburan seperti hujan mengguyur
dari langit. Kadang diselingi meluncur derasnya roket-roket dari
P-51. Para penerbang B-25 dan P-51 secara silih berganti saling mendukung kesuksesan operasi.
Kesibukan para penerbang bisa dilihat dari rekaman percakapan di radio sebagaimana ditulis
Kapten Sri Muljono Herlambang di
Angkasa (1958).
"Perangko Satu, Merak Satu," suara penerbang B-25 memanggil penerbang P-51.
"Roger Merak, ada apa?"
"Ada sasaran, dekat persimpangan landasan di depan rumah, sebuah Landrover mau keluar
landasan," kata penerbang B-25 yang melihat sasaran memang lebih dekat ke P-51.
"Oke, coba saya sikat saja. Memang sasaran baik untuk roket," katanya yang tak lama
kemudian terlihat roket melesat kencang dari bawah sayapnya. Sedetik kemudian Landrover tersebut
yang diincar terguling dihantam roket. Tidak lama kemudian, suara
lainnya kembali terdengar.
"Perangko Satu, Perangko Dua. Ada sebuah jeep meluncur kencang arah kota. Boleh saya
tembak?"
"Hei Bung, jangan tembak dulu," sela suara lainnya.
"Kenapa," tanya si penerbang.
"Coba dilihat dulu, jangan-jangan orang kulit putih."
Karena ingat pesan Jenderal Nasution, penerbang P-51 itu kemudian terbang merendah agar bisa
melihat dengan jelas siapa di dalam jeep itu. Ternyata, bukan berkulit putih.
"Oke, kalau begitu diamkan saja, kami awasi dari atas," perintah Perangko Satu.
Butuh beberapa kali running, sebelum akhirnya perlawanan dari PRRI dapat dibungkam.
Tidak lama kemudian, pesawat Dakota mengambil posisi. Suara penerbangnya
mulai meramaikan radio. Mereka tengah membuat formasi untuk mempersiapkan penerjunan. Tidak
lama kemudian, ratusan pasukan mulai berhamburan keluar pesawat. Dengan tidak mendapat perlawanan
berarti, Pangkalan Udara Simpang Tiga dapat dikuasai. Akan halnya
orang-orang PRRI yang tengah menunggu datangnya bantuan senjata, tidak mampu berbuat banyak selain
menyerah. Kapal-kapal ALRI juga sudah menguasai pantai dan menutup pintu masuk lewat laut.
Empat hari setelah menduduki Pekanbaru, dua B-25 dengan penerbang Mayor Soetopo dan Kapten
Sri Muljono serta sebuah P-51 yang diterbangkan Kapten Udara Rusmin Nurjadin dikerahkan ke Medan
untuk mengendalikan kekacauan yang didalangi Mayor
Boy Nainggolan dan pasukannya. Peristiwa yang terkenal dengan "Peristiwa Nainggolan"
itu dapat dibungkam setelah serangan udara disusul penerjunan prajurit PGT, RPKAD, dan Batalion
332 Siliwangi. Sebagian lainnya melarikan diri ke Aceh dan Tapanuli.
Dalam aksi hari itu, Sri Muljono menembakan beberapa roket menghantam tidak hanya mobil-mobil
yang digunakan untuk melarikan diri, tapi juga stasiun RRI yang dikuasai Nainggolan. Kolonel
Djatikusumo juga mendaratkan pasukannya di Pelabuhan Belawan untuk kemudian bergerak masuk ke kota.
"Kami belum bisa mendarat, karena landasan dipenuhi barikade dari drum-drum, pasukan musuh
yang tersisa dikejar Mustang," jelas Sri Muljono.
Lambat laun situasi mulai bisa dikuasai APRI. Pesawat pun sudah didaratkan di Pekanbaru, Medan
dan Palembang. Perkembangan ini tentu menggembirakan karena memberikan jaminan keamanan dan
kelancaran operasi. Langkah terakhir tinggal menguasai
Padang. Kelompok tentara PRRI di Padang yang mengetahui bahwa Pangkalan Udara Tabing lambat laun
tentu akan "dikunjungi" APRI, memasangi ranjau-ranjau dan bambu runcing di sekitar landasan.
Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Sumber:http://www.angkasa-online.com/11/07/kisah/kisah1.htm
Revised by
Permesta Information Online
|
 |