Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web


corner-top-left.gif Welcome to PERMESTA INFORMATION ONLINE ONLINE (PIO)

Cari di PIO Cari di Internet
    Signup / Login E-mail   Sejarah Kronologis |  Tokoh |   Album |   Artikel |   Buku Tamu  
 Menu Utama
· Homepage
· Piagam Permesta
· Fakta Permesta
· Sejarah Kronologis
· Tokoh Permesta
· Wawancara Pelaku
· Organisasi/Slagorde
· Album Foto Permesta
· Publikasi Buku

 Berita Utama


 Artikel
·  Artikel²
· Reuni ex-Permesta
· Press Release
· Kebijakan Situs
· Buku Tamu Situs PIO
· Hubungi Webmaster
· Kontribusi Artikel
· Ucapan Terima Kasih
· Links



Anda Pengunjung ke: 67

67

GMIM Berperan Besar Selesaikan Pergolakan Daerah

MANADO - Sejak pergolakan Permesta bergejolak di daerah ini, Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) terpanggil dan terus berseru dan mengajak kedua kubu (Pusat-Daerah) yang berseteru untuk segera menghentikan pertikaian.

Ketika Pusat mulai membombardir daerah ini, Badan Pekerja Sinode GMIM dalam siudang tanggal 12 Maret 1958 mencetuskan sebuah seruan yang minta agar kedua kubu segera meninggalkan dan mnghentikan kekerasan dengan pemboman dan perang saudara antara kita dengan kita. "Hentikan pemuntahan peluru dan granat di Kota Manado dan kota-kota lainnya yang telah menyebabkan tewasnya orang-orang tak berdosa. Usahakan penyelesaian pergolakan ini, ganti pedang dan tarik pesawat-pesawat pembom serta serangan-serangan yangs eru dan membahana," kata seruan itu.

Dalam seruan yang ditandatangani Ketua Sinode Ds AZR Wenas dan Panitera (Sekretaris Umum) Pdt. PW Sambouw mereka minta: "Sekali lagi kami tegaskan bahwa adalah bertentangan dengan kehendak Tuhan Allah daerah kita Minahasa dan daerah-daerah lain yang sebagian besar penduduknya beragama Kristen akan mengisap darah dari anak-anaknya sendiri dan darah suku-suku yang lain di Indonesia karena perang saudara ini."

Seruan yang dikeluarkan sekitar dua pekan setelah terjadinya pemboman di Manado dan Tomohon, Februari 1958 ini ditujukan kepada sekitar 400.000 jiwa warga GMIM yang tersebar di daratan Minahasa, Bolmong sampai Sulteng saat itu.

Setelah TNI mendarat di kema tanggal 16 Juni 1958, BPS GMIM kembali mnegeluarkan seruan yang ditujukan kepada Pemerintah Pusat, Permesta dan PRRI serta kepada seluruh warga GMIM di mana saja berada. Seruan itu dikeluarkan setelah mendengar dan menyaksikan  bahwa pertempuran dan perang saudara antara anak dan orang tua mulai meluas terutama dari kawasan Kema ke Manado dan Tondano. Dalam seruan yang juga ditandatangani Ketua dan Panitera BPS GMIM diawali nats Mazmur 130:1,2: Bahwa dari tempat yang dalam-dalam dan berteiak kepadaMu, ya Allah, ya Tuhan dengarkanlah  kiranya suaraku! Biarkanlah telingaMu mendengar akan bunyi segala permintaanku.

Dalam seruan itu diungkapkan: Sinode GMIM masih tetap berseru-seru minta dihentikannya perang setelah memperhatikan semakin banyak korban jiwa dan harta benda dan jatuhnya korban jiwa manusia yang besar sekarang ini belum pernah terjadi di Tanah Minahasa sebelumnya.

Bahwa pengorbanandan pembunuhan terhadap prajurit-prajurit resmi, anak-anak muda dan tentara pelajar serta rakyat jelata di desa dan penyingkiran tidak mungkin bisa dipertanggungjawabkan. Ini membangkitkan murka Tuhan Allah kita dalam Jesus Kristus."

Untuk itu sekali lagi Sinode GMIM minta kepada tokoh-tokoh militer dan sipil maupun Pemerintah RI maupun PRRI/Permesta agar perang dan pertumpahan darah ini segera dihentikan dengan jalan perundingan.

Dalam upaya menghentikan perang dan pertikaian yang terus meluas, semakin bertambah juga korban jiwa, harta dan kesengsaraan yang kadang tak terperi Ketua Sinode GMIM terus berupaya mencari jalan penyelesaian.

Tercatat beberapa kali Ds Wenas ke Jakarta melaporkan kepada para pejabat terkait maupun warga Kawanua di sana untuk turut berperan mengatasi hal ini. Beberapa kali juga Ds Wenas menghubungi/menyurat bahkan bertemu langsung dengan Presiden Soekarno guna melaporkan dan mencari penyelesaian.

Pada sisi yang lain ia juga menjadi  perantara untuk bertemu dan membahas permasalahan itu dengan tokoh-tokoh Permesta. Jadilah Ds Wenas sebagai kurir. Suatu waktu ia disuruh menemui Kolonel Joop Warouw di Remboken. Demikian juga dengan Kolonel Kawilarang  di Desa Panglombian ataupun di Desa Tara-Tara. Dalam suasana yang sulit sekalipun Pelayan yang setia ini tetap sedia melaksanakan misinya meski harus  berjalan kaki atau naik kuda sekalipun demi tercapai dan terciptanya perdamaian di daerah ini.

Sedikitnya tiga kali Ds Wenas menyurati Presiden Soekarno yakni tanggal 27 dan 28 Agustus serta tanggal 26 September 1959 guna mencari penyelesaian konflik itu.

Hal senada sebenarnya sudah disampaikan sejak Prsiden Soekarno hadir dan berpidato pada HUT Sinode GMIM, 30 September 1957 di Gereja Sion Tomohon. Ketika itu Permesta baru 6 bulan diproklamirkan.

Alhasil, tanggal 14 April 1961 tokoh-tokoh kedua kubu yang bertikai menghadiri pertemuan yang diistilahkan sebagai "Penyelesaian" di Susupuan, yakni perbatasan Tomohon dengan Desa Woloan. Lagi-lagi GMIM yang bertindak selaku  fasilitator mengerahkan sejumlah pekerjanya mempersiapkan lahan upacara pertemuan itu.

Permesta diwakili Panglima Besar Alex Kawilarang dan Pemerintah Pusat oleh KASAD Jenderal Achmad Yani. "Penyelesaian" ini diawali dengan pertemuan pendahuluan perwakilan kedua kubu di Desa Lopana, Tumpaan pada 2 April 1961, dan kemudian ada pertemuan lagi antara Kawilarang-Nasution di rumah keluarga Hans Tular di Tomohon. (will true)

Oleh: Wellem Turambi, Tabloid MIMBAR No.25/TH.III/10-16 Maret 2003,
Disadur oleh webmaster Permesta Information Online.



Copyright ©2001-2003 oleh Permesta Information Online™
Silahkan menyalin atau mengutip seluruh isi atau sebagiannya dengan mencantumkan sumber "dikutip dari Permesta Information Online"