|
Minggu, 13 Januari 2002
Cara CIA Menggoyang Pemerintah Indonesia
Judul : Feet to the Fire-CIA Covert Operations in Indonesia 1957-1958,
Penulis : Kenneth Conboy & James Morrison, Penerbit : Naval
Institute Press, Annapolis, Maryland, USA (1999), Tebal : 218 halaman.
DERETAN pulau-pulau yang kini dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik
Indonesia, sejak dulu memang strategis. Situasi tersebut semakin bermakna
ketika dunia dilanda Perang Dingin antara Blok Barat melawan Blok Timur
sesudah Perang Dunia II berakhir. Blok Barat, dipimpin Amerika Serikat,
pada setiap kesempatan berusaha membendung kemajuan pengaruh Blok Timur
(termasuk juga paham komunisme) yang berada dalam kendali Uni Soviet.
Kebijakan itu dilakukan AS, setelah mereka kecolongan, karena sesudah
AS dan Uni Soviet bersekutu dalam menggempur Jerman dan Jepang, justru
pihak komunis yang memetik keuntungan, menguasai Eropa Timur, separo
Jerman serta seluruh Cina daratan.
Dwight Eisenhower, pensiunan jenderal bintang lima, mantan Panglima
Besar Sekutu di Eropa, tahun 1953 terpilih sebagai Presiden AS. Sejak hari
pertama berkantor di Gedung Putih, Eisenhower yang lebih dikenal dengan
panggilan Ike, merasa punya tugas menghancurkan komunisme.
Sedangkan untuk membendung pengaruh Cina komunis di Asia Tenggara, Ike
dihadapkan kepada dilema. Apakah dia harus membiarkan Indonesia tetap
bersatu, tetapi di bawah pengaruh komunis? Ataukah, memecah-belah negara
tersebut, namun sebagian mungkin bisa dia tempatkan dalam kekuasaan
nonkomunis?
Tentu saja, analisa di atas sekadar spekulasi.
Komunis belum berkuasa dan Indonesia masih berada di bawah pemerintahan
Presiden Soekarno. Tetapi, melihat meluasnya pengikut PKI setelah Pemilu
1955, ditambah munculnya ajakan Bung Karno kepada PKI masuk dalam
pemerintahan, dilengkapi kenyataan AS tidak bisa menjadikan Bung Karno
sebagai bonekanya, Ike lebih suka merancang skenario memecah-belah
Indonesia.
Bung Karno yang dinilai akan segera jatuh ke kubu pengaruh komunis,
harus digoyang dan kalau mungkin dilengserkan. Kebijakan yang digariskan
Ike tersebut segera dilaksanakan dengan bersemangat oleh dua bersaudara
Dulles: Menteri Luar Negeri John Foster Dulles bersama Allen Dulles,
Direktur CIA, dinas rahasia AS.
Maka, mulailah kebijakan meng-obok-obok Indonesia. Antara lain
dengan mengalirkan dana, personel, berikut peralatan militer, menunjang
pemberontakan PRRI/Permesta.
***
BUKU Feet of the Fire karya bersama Kenneth Conboy & James
Morrison dengan rinci mengungkapkan operasi rahasia CIA dalam menggoyang
kekuasaan Bung Karno tahun 1957-1958. Operasi militer itu berupaya
menyingkirkan rezim yang sedang tidak disukai AS dan menggantikannya
dengan penguasa boneka.
Ada dalil terkenal dari Menlu Dulles, "...jika Anda bukan
rekan, pasti musuh." Dalam prespektif ini, dinas rahasia AS CIA
pada khususnya dan juga pemerintahan Eisenhower pada umumnya, tanpa sadar
justru meminjam taktik komunis, menghalalkan segala macam cara. Hal itu
diperburuk oleh batasan luas tentang apa yang mereka sebut komunis. Ke
dalam batasan itu kemudian tercakup semua kelompok kiri, gerakan
revolusioner, dan juga kaum nasionalis yang tidak mau diajaknya.
Pada sisi lain harus dipahami, mengapa meletus pemberontakan
PRRI/Permesta?
Isu yang dipakai untuk memulai pemberontakan adalah kurangnya perhatian
pemerintah pusat di Jakarta kepada persoalan daerah. Arus besar pemikiran
menentang Jakarta ini dilengkapi sejumlah sentimen pribadi, dan juga
kekalahan politik pada Pemilu 1955.
Adalah sangat menarik untuk mengkaji Pemilu 1955. Sampai hari ini para
pengamat tetap menyebutkan, itulah pemilu paling demokratis yang pernah
terselenggara di Indonesia.
Perlu diingat, pada pemilu tersebut, untuk pertama kalinya PKI tampil
sebagai partai terbesar keempat. Sementara kita tidak bisa melupakan, CIA
sudah pernah memberikan dana rahasia sebesar satu juta dollar AS kepada
salah satu partai peserta pemilu, sebagai upaya membendung kemenangan PKI.
Maka pertanyaannya, apakah dana rahasia dari CIA telah dikorup oleh
para elite parpol bersangkutan? Ataukah, PKI lebih pandai dalam menjual
gagasan, menawarkan ide serta memberikan impian, sehingga berhasil merebut
massa dalam jumlah di luar dugaan?
Kemenangan dalam pemilu yang demokratis ini ternyata dijawab dengan
aksi nondemokratis. Dengan dalih Indonesia tidak boleh dibiarkan jatuh ke
kubu komunis, CIA segera melancarkan operasi rahasia dengan memanfaatkan
munculnya pergolakan di daerah dan tampilnya sejumlah kolonel pembangkang
yang kebetulan panglima militer di daerah bergolak.
Akhirnya, sesudah menelan korban ribuan orang tewas, baik pada rakyat
biasa, para pemberontak dan juga tentara pusat, operasi rahasia CIA untuk
mendukung pemberontakan PRRI/ Permesta mengalami kegagalan memalukan.
***
OPERASI tersebut mengerahkan sejumlah tenaga ahli CIA untuk memberikan
latihan perang dan mendampingi pertempuran di Sumatera Barat dan Sulawesi
Utara. Menyelenggarakan pelatihan di Saipan, mengalirkan perbekalan
militer, menebar uang rupiah palsu, mengirim kapal selam, pesawat terbang
dan juga para penerbang tempur. Bahkan, CIA merekrut para veteran perang
asal Polandia, Taiwan, dan Filipina, untuk membantu memenangkan perang
kotor mereka.
Dengan melakukan wawancara kepada para pelaku dari kedua sisi serta
memanfaatkan beragam dokumen yang selama ini dirahasiakan, kisah
petualangan CIA di Indonesia tampil lebih jernih. Buku ini juga menyoroti
kemampuan tempur para pemberontak yang segera kedodoran meski memiliki
persenjataan jauh lebih baik daripada pasukan pusat.
Terjadilah perpecahan antara para politisi sipil dan kaum militer di
kubu pemberontak. Para politisi mencoba meneruskan perjuangan lewat
aliansi dengan gerakan Darul Islam (DI) di Aceh dan Sulawesi Selatan
dengan membentuk Republik Persatuan Indonesia (RPI). Sementara para
pemberontak eks militer menolak kerja sama semacam ini, sebab beberapa
tahun sebelumnya, mereka adalah penumpas gerakan separatis.
Secara plastis buku ini melukiskan AH Nasution yang sedang kekurangan
pasukan, Ahmad Yani tidak punya peta pendaratan, dan Benny Moerdani yang
belum pernah mengikuti latihan terjun payung. Dengan segala keterbatasan,
mereka itu nekat menumpas pemberontakan.
Diulas juga tentang nasib tragis Kawilarang. Teman satu kelas Nasution
ini tidak pernah berniat memberontak dan tak mau menerima bantuan CIA,
tetapi di sisi lain dia tidak rela tanah leluhurnya dihancurkan.
Bahwa CIA berminat menggoyang Bung Karno memang bukan sekadar analisa.
Tetapi, bagaimana mereka bisa leluasa campur tangan di Indonesia?
Jawabannya mungkin dilihat dari perundingan Ahmad Husein dan Ventje
Sumual dengan Foster Collins, agen CIA di Singapura.
Sayang, buku ini tidak banyak menyinggung peran para politisi sipil
pendukung pemberontakan. Satu-satunya yang dikisahkan agak rinci hanya
peran Sumitro Djojohadikusumo. Tokoh ini bukan hanya ikut dalam pertemuan
di Sungai Dareh (ketika para pemberontak merancang pembangkangan), tetapi
dia juga yang aktif melakukan shopping persenjataan sejak dari
Eropa Barat sampai Taiwan.
Kini, semua peristiwa dalam buku ini, tinggal menjadi sebuah catatan
sejarah. Hikmah yang bisa dipetik adalah pelajaran bahwa setiap boneka,
hanya akan bisa berkiprah kalau sedang dimainkan oleh sang dalang. Begitu
pihak dalang, CIA dan Pemerintah AS menarik dukungannya, maka hari-hari
akhir pemberontakan PRRI/Permesta tinggal dihitung dengan jari.
Tragisnya, kebijakan AS ternyata bisa berubah dengan mendadak.
(Julius Pour)
Sumber: Kompas Cyber Media
|