|
IPPHOS & 17 Agustus '45
Foto pertama yang dibuat seorang warga negara Indonesia terjadi pada detik
ketika bangsa ini berhasil melepaskan rantai-rantai yang membelenggu dirinya.
Kisah itu dimulai selepas Subuh, ketika dua orang fotografer yang bersaudara atas niat sendiri-sendiri
meninggalkan rumah mereka menuju jalan Pegangsaan Timur nomor 56.
Alex Mendur (1907-1984) yang bekerja sebagai kepala foto kantor berita Jepang Domei mengetahui bahwa
akan ada peristiwa penting di kediaman Soekarno itu. Demikian pula halnya dengan sang adik,
Frans Soemarto Mendur (1913-1971), yang mendapatkan keterangan serupa dari sumbernya
di harian Jepang Asia Raya.
Rute yang masing-masing mereka ambil pagi itu sunyi-senyap tapi bukan tanpa marabahaya.
Kendati beberapa hari yang lalu negeri Matahari Terbit menyatakan kalah dalam Perang Pasifik,
baru sedikit orang di kepulauan Indonesia yang mengetahui hal ini. Radio tetap di segel.
Bendera Hinomaru terus berkibar di mana-mana. Patroli Jepang masih berkeliaran dengan
senjata lengkap dan perangai yang lebih galak lagi dibanding biasanya.
Sepanjang jalan keduanya pun terpaksa melangkah dengan mengendap-endap.
Saat mereka tiba di tujuan, sekitar 5 pagi, suasana di rumah Soekarno "tidak ribut, tidak meriah.
Sopan dan tenang. Menunggu kemungkinan tindakan représailles (pembalasan) dari tentara Jepang."
Demikian kenang seorang pelajar putri yang hadir hari itu. Di sana telah berkumpul pula tokoh
seperti Mohamad Hatta dan S.K. trimurti, selain beberapa anggota Pembela Tanah Air (PETA)
dan masyarakat biasa. Jumlahnya tidak banyak, karena kejadian yang akan bergulir pada hari itu
memang tidak disebarluaskan. Kakak-beradik Mendur yang baru bertemu saat itu malah merupakan
satu-satunya juru foto yang hadir. Semua menanti.
Ketika matahari bergerak naik, Soekarno di dampingi Hatta akhirnya menampakkan diri
untuk membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Alex dan Frans Mendur pun segera menjalankan profesinya,
mengabadikan peristiwa bersejarah tersebut dengan kamera Leica mereka.
Pada saat itulah, di Jakarta, pada pukul 10 pagi, tanggal 17 Agustus 1945,
sang fotojurnalis Indonesia lahir.
IPPHOS & Restorasi Sejarah
Pameran dan penerbitan buku
Tahun-Tahun Mukjizat: Karya Foto IPPHOS dari Zaman Kemerdekaan 1945-1950
bertujuan menelusuri dan menguak riwayat sekelompok wartawan foto Indonesia yang sejauh ini terabaikan
oleh arus besar penulisan sejarah kita. Padahal selama setengah abad lebih, semua buku tentang peristiwa
kemerdekaan menggunakan karya-karya yang dibuat oleh kantor berita foto Antara, Berita Film Indonesia (BFI),
dan Indonesia Press Photo Service (IPPHOS).
Di antara ketiganya, IPPHOS yang didirikan oleh Alex dan Frans Mendur bersama kakak-beradik
Justus dan Frans "Nyong" Umbas merupakan yang paling penting. Kendati IPPHOS secara resmi baru
berdiri pada tanggal 2 Oktober 1946, tapi pergulatan politik dan profesional mereka sudah berlangsung
sejak tahun 1920-an, pada awal-awal pergerakan nasionalisme Indonesia.
Lantas, ketika tiba saatnya rakyat Indonesia mengambil keputusan untuk menjadi bangsa yang merdeka
para fotografer IPPHOS bersikap untuk berada di pihak Republik, sebuah pilihan yang tidak semudah
yang kita duga. Sebagai profesional yang sudah memiliki karir sebagai fotografer di media-media cetak
paling utama di zaman Hindia-Belanda dan Jepang, sebenarnya jauh lebih gampang bagi mereka
untuk terus bekerja pada kekuatan asing. Ditambah lagi, sebagai etnis Minahasa yang dianggap dekat
dengan bangsa Belanda baik dari segi historis, budaya maupun agama, mereka harus berjuang lebih keras
untuk membuktikan komitmennya dibanding suku-suku yang lain di Indonesia.
Yang menarik, keberpihakan Alex Mendur dan kawan-kawan pada perjuangan kemerdekaan tidak serta-merta
menjadikan mereka alat pemerintah RI. Berbeda dari Antara dan BFI yang bermula sebagai lembaga swasta
tapi kemudian menempatkan dirinya dibawah naungan Kementerian Penerangan RI,
IPPHOS sejak pertama didirikan hingga detik ini terus bertahan sebagai kantor berita yang independen.
Di satu sisi, ini menyangkut risiko yang tidak kecil dari segi ekonomi dan politik.
Alex dan kawan-kawan, misalnya, tidak menerima gaji tetap dari pemerintah sebagaimana
halnya Antara dan BFI. IPPHOS juga harus berjuang sendirian di Jakarta ketika
Antara dan BFI turut hijrah mengikuti pemerintah RI ke Yogyakarta selama kurun waktu 1946-1949.
Di sisi lain, strategi IPPHOS untuk memiliki dua perwakilan --satu di kota diplomasi Jakarta,
satunya lagi di kota perjuangan Yogyakarta-- memperlihatkan kematangan pribadi dan profesionalisme
para pendirinya yang mendapat gemblengan di penerbitan besar macam harian Java Bode dan majalah
Wereld Nieuws en Sport in Beeld di tahun 1920-1930-an.
Di Yogyakarta, IPPHOS dijalankan oleh Frans Mendur yang terkenal gesit, pemberani dan bergaya kerakyatan.
Foto-fotonya, yang memperlihatkan berbagai pertempuran dan kehidupan sehari-hari di wilayah Republik yang
dikepung Belanda, menjadi salah satu senjata yang paling ampuh bagi perjuangan RI di dunia internasional.
Sementara itu, Alex Mendur bersama "Nyong" Umbas yang luwes berbahasa dan bertata-krama a la Belanda
bukan cuma bergaul dan meliput tokoh-tokoh Republik di Jakarta seperti Bung Sjahrir, tapi juga politikus,
perwira militer, wartawan dan masyarakat awam di pihak lawan.
Dengan pilihan ini, sekali lagi IPPHOS mengambil risiko yang lebih besar dibanding kantor berita lainnya,
karena Alex Mendur dan kawan-kawan lantas juga harus menghadapi berbagai tudingan sebagai
wartawan yang "bermuka dua" dan "komersil" dari rekan-rekannya sesama juru kamera "kiblik" (Republik).
Tapi, yang dilupakan banyak pejuang Indonesia ialah bahwa strategi IPPHOS itu justru sesuai dengan
yang diterapkan oleh pemerintah RI sendiri. Seperti yang disinyalir sejarawan Robert Cribb,
"ciri yang paling penting dari kampanye Republik di Jawa Barat adalah tidak adanya tuntutan yang nyata
bagi para pengikutnya, selain loyalitas pribadi secara diam-diam. Tiap tindakan yang mengganggu kekuasaan
Belanda merupakan suatu sumbangan yang diterima dengan senang hati.
Bersikap tidak aktif berarti menyebabkan Belanda terus menduga-duga;
bekerja untuk Belanda berarti mengifiltrasi musuh."
Harus diakui bahwa di tengah-tengah embargo politik dan ekonomi yang dilakukan Belanda
terhadap kita saat itu, Mendur dan Umbas bersaudara justru bukan cuma memperlihatkan
kedewasaan politik di atas wartawan foto Republik lainnya, tapi juga telah memilih
taktik jitu yang terbukti menjamin kelangsungan hidupnya. Dengan cara ini,
mereka bisa mengirim materi foto ke kantong-kantong perjuangan,
sekaligus menyelamatkan foto-fotonya dari sensor Belanda.
IPPHOS menjadi satu-satunya kantor berita Indonesia yang berhasil menyelamatkan
nyaris seluruh koleksinya, walaupun kantor mereka, seperti halnya Antara dan BFI,
beberapa kali diserbu tentara Belanda.
Alhasil, tidak ada satupun lembaga di Indonesia yang bisa mendekati keunikan,
kekayaan dan orisinalitas foto-foto Alex Mendur dan kawan-kawan;
koleksi IPPHOS merupakan satu-satunya karya visual yang paling penting
yang kita miliki di Indonesia sekarang.
Sementara sejak tahun 1950 foto-foto Antara dan BFI sudah tinggal debu,
IPPHOS masih beroperasi dan menyimpan seperempat juta negatif asli.
Setengah abad kemudian, keberadaan koleksi itu menjadi semakin penting.
Pertama karena sepanjang lima puluh tahun terakhir ini sangat sedikit sekali
foto-foto zaman kemerdekaan yang bisa dilihat umum. Faktanya, karya para juru foto
Republik yang pernah diterbitkan pemerintah atau swasta, baik untuk bacaan umum
maupun kalangan akademis, jumlahnya tak sampai 200-an gambar, yang terus diulang-ulang
pemakaiannya dari satu publikasi ke publikasi lainnya.
Bila dihitung dari sekitar 22.000 negatif IPPHOS yang berasal dari kurun waktu 1945-1949 saja,
jumlah itu berarti tak sampai 1%-nya!
Yang lebih mengejutkan lagi 99% foto karya Alex Mendur dan kawan-kawan yang belum pernah
dipublikasikan itu justru memperlihatkan sebuah pandangan yang sangat bertentangan dengan
gambaran yang disuguhkan oleh buku-buku sejarah dan kronik resmi tersebut.
Sebagian besar adalah mengenai manusia biasa, petani, pedagang, buruh, wanita, anak-anak,
dan tentara rendahan, bahkan ada pula pelacur, calo dan pemadat.
Banyak yang menggambarkan kaum Republik, tapi tidak sedikit pula yang memperlihatkan
orang-orang Belanda. Dalam kesemuanya, bahkan dalam sebagian besar potret para pemimpin,
yang ditekankan adalah sisi mereka yang manusiawi. Dari sinilah, misalnya,
lahir foto Bung Karno yang asyik menonton para supir kepresidenan mereparasi mobil,
juga sosok Amir Syarifuddin yang larut dalam tragedi Romeo and Juliet-nya Shakespeare
di atas gerbong kereta yang membawanya ke hadapan regu tembak.
Dari sini kita diajak merenung betapa warga Indo-Belanda bekas tawanan Jepang yang akan dipulangkan
sama menderita dan berharapnya seperti keluarga campuran yang baru tiba di Tanjung Priok.
Foto-foto itu membuktikan betapa heroisme bukan hanya milik orang-orang besar dengan tindakan-tindakan
besar mereka, atau cuma terjadi pada orang Indonesia saja, tapi juga berlaku bagi semua manusia yang
di tengah-tengah badai sejarah yang menyeret mereka masih harus pula bergulat dengan kemanusiaannya yang
boleh jadi sepele dan konyol --melawan lapar dan dahaga, mengatasi rasa takut dan bosan, berharap.
Dan itu membawa kita kepada hakekat yang paling penting bagi penyelenggaraan
Tahun-Tahun Mukjizat: Karya Foto IPPHOS dari Zaman Kemerdekaan 1945-1950.
Dari sisi fotografi, apa yang dilakukan Alex Mendur dan rekan-rekannya tidak kurang dari perombakan
terhadap konsep-konsep estetika yang pada saat itu telah seabad lebih mengakar di kepulauan Indonesia.
Dengan kamera kecilnya yang lincah dan ringkas, dengan pengendapan pengalamannya,
para fotografer IPPHOS bukan cuma menghilangkan suasana kaku dan berjarak yang begitu terasa
pada fotografi Hindia-Belanda, tapi juga segala bentuk diskriminasi sosial.
Dalam bidikan mereka, untuk pertama kalinya manusia Indonesia menjadi utuh, tersenyum,
bahkan berdiri tegap berdampingan dengan manusia-manusia dari belahan bumi lainnya.
Ia tidak lagi sekedar bayang-bayang buram yang berjongkok di kaki tuan Belanda-nya
dalam potret-potret "tempo doeloe".
Dari sisi politik, karya-karya IPPHOS yang 99% itu menggugat dan menghancurkan
seluruh konsep rezim Orde lama maupun Orde Baru yang memperlakukan sejarah ibarat
sebuah galeri yang sekadar berisi potret-potret para penguasa dan pemenang.
Sebaliknya, rekaman foto Alex Mendur dan kawan-kawan menjadi bukti visual
yang paling gamblang bahwa kemerdekaan Indonesia pada awalnya dan pada intinya
adalah sebuah semangat humanisme yang universal dan mendalam,
yang berlaku bagi setiap orang apapun warna kulit atau jabatannya,
dan yang menjangkau bahkan sampai ke kelompok yang karena perjalanan
sejarah terpaksa menjadi musuh-musuhnya.
Melalui pameran dan buku ini --yang menampilkan beberapa contoh foto-foto
yang sudah terlalu lama dibiarkan terpendam itu-- semoga kita akan mulai merestorasi
karya Alex Mendur dan kawan-kawan dalam arti yang sesungguhnya,
yakni sebagai sebuah bentuk kesadaran yang membebaskan kita dari segala belenggu
dan rantai-rantai penindasan serta pembodohan.
Yudhi Soerjoatmodjo,
Direktur "i see" &
Kurator Tahun-Tahun Mukjizat: Karya Foto IPPHOS dari Zaman Kemerdekaan 1945-1950
IPPHOS & Rekaman Revolusi
Hari-hari setelah Proklamasi Kemerdekaan,
Jepang masih tetap berkuasa. Bendera Hinomaru terus berkibar. Serdadu Nippon masih berjaga-jaga.
Rakyat hidup dalam ketakutan dan serba kekurangan, sama seperti yang mereka lalui
selama 3 tahun masa pendudukan.
"Dapat dikatakan suasana dalam masyarakat melempem adanya," demikian kenang wartawan Rosihan Anwar
tentang periode ini. "Pemuda mendapat kesan Sukarno-Hatta ragu-ragu...Akibatnya tidak ada gerak."
Pasalnya, pemerintah RI bukan hanya tak punya uang, tapi juga tidak memiki aparat.
Sebagian pangreh-praja pribumi justru menganggap kemerdekaan Indonesia akan merongrong wibawa
yang pernah mereka nikmati di bawah penjajahan Belanda dan Jepang.
Berbeda dari penggambaran populer, tidak ada teriakkan "Merdeka!".
Tidak ada pemuda dengan rambut panjang dan ikat kepala merah-putih
yang mengacung-acungkan bambu runcing ke arah musuh.
Kenyataannya, adalah para juru foto yang pertama mengambil inisiatif pada hari-hari "melempem" itu.
Tanpa perintah, tanpa dana, tanpa lembaga yang jelas dan, yang lebih penting lagi,
tanpa menunggu kehadiran media pendukung seperti koran dan majalah.
Jepang masih menguasai seluruh sarana informasi umum bahkan hingga bulan Oktober 1945.
Berita Indonesia yang dianggap sebagai koran Republik pertama baru terbit 13 September 1945.
Itu pun dalam bentuk stensilan. Harian Merdeka menyusul pada 1 Oktober, cuma 4 halaman.
Kamera tetap menjadi barang terlarang, kecuali bagi segelintir wartawan pribumi
yang bekerja untuk pers Nippon. Belakangan, peralatan itu pun sengaja disembunyikan
Jepang sebagai cara mengekang bawahannya sendiri. Akibatnya, fotografer M. Sayuti dan
Abdoelkadir Said harus bergantian menggunakan satu-satunya tustel Contax yang berhasil
mereka ambil dari Domei. Sineas dan fotografer R.M. Soetarto terpaksa menodongkan pistol
ke pelipis atasannya di Nippon Eiga Sha untuk mendapatkan beberapa kamera dan film.
Sementara itu, Alex dan Frans Mendur berada dalam kejaran sensor.
Rekaman foto Alex dari jalan Pegangsaan Timur 56 disita oleh atasannya yang orang Jepang.
Besar kemungkinan karya itu musnah bersama dokumen lain yang diperintahkan untuk dibakar
oleh kepala Domei. Frans, yang mengetahui kejadian itu menyembunyikan klisenya di tempat
yang paling aman --di dalam tanah, di halaman belakang kantor Asia Raya.
Foto-foto itulah --yang baru bisa diterbitkan untuk pertama kalinya pada Februari 1946
oleh harian Merdeka -- satu-satunya bukti yang kita miliki sekarang dari peristiwa bersejarah tersebut.
Selain memotret Alex juga sibuk mendirikan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi
bersama tokoh-tokoh lainnya. Frans sempat membantu Barisan Pelopor dan Angkatan Pemuda Indonesia
melucuti serdadu Jepang menjelang rapat besar di lapangan IKADA.
Lantas, pada tanggal 1 Oktober 1945, ia bersama B.M. Diah dan rekan-rekan bekas Asia Raya
merebut percetakan De Unie dan mendirikan harian Merdeka. Tiga hari kemudian kakak-beradik
tersebut meliput pertemuan antara Kabinet RI pertama dengan wartawan asing.
Pada tanggal 17 November terjadi pertemuan pertama Indonesia-Belanda di Jakarta.
"Dari pertemuan itulah keluar sebuah foto yang dibuat oleh Ipphos memperlihatkan Sjahrir
yang kecil berdiri diapit oleh dua orang bule yang jangkung yaitu Christison dan Van Mook.
Sejak itu koran-koran mulai memberi julukan 'Bung Kecil' kepada Sjahrir,"
kenang wartawan Rosihan Anwar.
Alhasil, ketika para pemuda baru mulai bergerak untuk merebut jawatan tram dan kereta api
serta mencorat-coret tulisan "Milik Repoeblik Indonesia" di dinding-dinding bangunan,
Alex Mendur dan kawan-kawan sudah melalui 3 bulan pertama yang paling menegangkan tapi
produktif dalam karir mereka. Hingga ibu kota Republik pindah ke Yogyakarta, Alex dan Frans Mendur
telah membuat lebih dari 2500 gambar --beberapa di antaranya adalah momen yang selama 50 tahun
terakhir ini dianggap sebagai puncak-puncak sejarah revolusi oleh buku-buku sejarah.
IPPHOS & Ikon Revolusi
Di mata seorang pemimpin seperti Bung Karno yang cerdas,
karismatik, dan memahami pentingnya citra, apa yang dibuat oleh IPPHOS, Antara dan BFI menjadi teramat penting.
Seperti yang diuraikan sejarawan Robert Cribb dalam buku Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949,
negara RI yang baru didirikan sangat lemah karena tidak memiliki sumber keuangan, angkatan bersenjata,
maupun sistem komunikasi yang memadai.
Akibatnya, "republik lebih bergantung kepada ideologi dan retorika sebagai satu-satunya alat
untuk memelihara hukum dan ketertiban. Dan itu bukanlah alat yang dapat diabaikan."
Sejak semula pemerintah RI memanfaatkan kejelian dan loyalitas para juru foto Indonesia.
Bung Karno, demikian kesaksian para wartawan zaman itu, takkan pergi ke mana-mana
tanpa didampingi juru foto; sebaliknya, para fotografer sendiri selalu diperlakukan secara istimewa.
Seperti kata RM Soeharto, "wartawan foto itu dulu seperti raja.
Sementara wartawan tulis cuma berdiri di pojok, fotografer bisa memotret hingga satu meter
dari Bung Karno." Maka, para menteri dengan senang hati menyelundupkan film dan barang-barang
lain milik para juru foto di atas kereta api khusus. Bung Karno biasa mengajak Alex dan Frans Mendur
sarapan pagi. Demikian pula, juru kamera BFI, RM Soeharto,
masih ingat ketika suatu hari di tengah jalan sebuah sedan besar berhenti didekatnya.
"Bung Karno sendiri membukakan pintu dan menawarkan saya tumpangan," tuturnya.
Sepanjang revolusi, kedekatan itu menciptakan suatu kameraderi yang nyaris tak terulang lagi,
khususnya di zaman Orde Baru. Di satu pihak, persahabatan dan rasa saling menghormati ini memungkinkan
para fotografer seperti IPPHOS untuk membuat potret-potret eksklusif dan dramatis.
Di pihak lain, hubungan itu juga bisa membuat para juru foto kehilangan obyektifitasnya.
Antara dan BFI yang bermula sebagai lembaga independen, belakangan memilih untuk menjadi
pegawai negeri dibawah Kementerian Penerangan RI. IPPHOS satu-satunya yang mempertahankan
kemandiriannya. Tapi, hanyut oleh romantisme perjuangan saat itu, adakalanya Alex Mendur
dan kawan-kawan melepaskan kontrol terhadap gambar-gambar yang mereka buat.
Yang menjadi masalah, dengan perjalanan waktu potret-potret itu tumbuh menjadi ikon-ikon
yang seolah-olah terlepas dari fakta yang sebenarnya ketika pertama dibuat.
Foto-foto itu tidak lagi mendeskripsikan suatu peristiwa nyata yang terjadi pada subyeknya,
tapi telah menjadi sebuah simbol yang maknanya tergantung pada siapa yang menggunakan
atau membacanya. Di tangan seorang penguasa yang cerdik, atau sejarawan yang terampil,
foto-foto itu bisa direduksi atau dipelintir lebih jauh lagi.
Dengan cara hanya menerbitkan foto-foto yang memperlihatkan sosok Letnan Kolonel Soeharto,
misalnya, para penulis sejarah dengan mudah menggiring pembacanya kepada kesimpulan yang diinginkan:
bahwa aktor utama Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah Presiden kedua RI tersebut,
bukan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Demikian pula, ada banyak foto Bung Tomo, tapi berkat buku-buku sekolah dalam benak kita
selalu hanya ada satu Bung Tomo: yakni yang menggambarkan dirinya sedang berpidato di atas mimbar
dengan payung garis-garis dan corong bundar, dengan lengan yang teracung dan mata membara,
serta pistol di pinggang kanannya. Dalam setiap kronik revolusi, foto ini akan muncul
pada saat para penyusunnya sedang mengisahkan pertempuran Surabaya '45 --betapapun semua kesaksian
dan data yang kita miliki sekarang menunjukkan bahwa potret itu dibuat pada tempat,
waktu dan kejadian yang lain dari peristiwa termahsyur itu.
Ambil pula sebagai contoh foto yang dibuat oleh Frans Mendur di serambi rumah kepresidenan RI
di Yogyakarta, beberapa waktu setelah Aksi Polisionel Belanda yang kedua. Selama setengah abad terakhir,
foto Bung Karno merangkul Jenderal Sudirman itu dijadikan bukti betapa antara sipil dan militer RI
tak pernah terjadi keretakan akibat perbedaan sikap mereka terhadap insiden tersebut.
Para penulis pun seperti berlomba-lomba mencari kalimat yang bisa menyaingi drama dalam gambar IPPHOS itu.
Tak ada yang menyadari bahwa pada kenyataannya foto ini adalah hasil dari sebuah adegan ulang
--atas permintaan Presiden Soekarno-- dan tak ada yang memperhatikan betapa dalam pengulangan
itu sang Jenderal masih saja terlihat tegang dan kaku terhadap pimpinan tertingginya.
Tapi, barangkali semua itu bukan persoalan. Bukankah sejarawan terkemuka Taufik Abdullah
sendiri pernah menulis: "Revolusi tidak sekedar situasi real, tetapi juga suasana pikiran dan hati."
IPPHOS & Fotojurnalisme Moderen
Beberapa hari setelah proklamasi kemerdekaan
para juru foto Indonesia merebut kembali apa yang menjadi hak setiap manusia:
mencitrakan dan mengabadikan diri mereka sendiri sebagai insan merdeka.
Sebuah dimensi baru segera muncul dalam karya-karya Alex Mendur dan kawan-kawan,
yakni yang memperlihatkan kesetaraan dan kebersamaan di antara manusia.
Untuk pertama kalinya, manusia Indonesia tidak lagi digambarkan sebagaimana
dalam potret-potret "tempo doeloe" --sekadar bayang-bayang buram yang selalu berjongkok
di kaki tuan Belanda-nya-- tapi secara utuh. Nyaris setiap bingkai yang dibuat Mendur bersaudara
dan "Nyong" Umbas dipenuhi oleh manusia biasa yang saling berdesakkan, berebut perhatian, bergelora.
Ada beberapa faktor yang mendukung perkembangan ini:
Salah satu yang paling penting adalah latar belakang profesional para fotografer itu sendiri.
Di abad ke-19, para juru foto umumnya adalah fotografer komersial yang bekerja dari studionya.
Di awal abad ke-20, banyak bermunculan fotografer amatir. Sebaliknya, sejak awal karirnya,
para fotografer IPPHOS, Antara dan BFI adalah wartawan di lapangan.
Perbedaan ini menjadi sangat mendasar. Alex Mendur, misalnya, bukan cuma bekerja
pada harian Java Bode dan majalah Wereld Nieuws di tahun 1930-an,
tapi juga menjadi kepala foto kantor berita Domei di zaman Jepang.
Walaupun para fotografer itu memulai karirnya di media Belanda dan Jepang,
pengalaman yang mereka dapatkan sebagai wartawan telah mendorong kemampuan mereka
untuk melihat berbagai persoalan secara kritis dan lebih luas.
Dalam pada itu, para juru foto IPPHOS beruntung bisa mengawali formasinya pada tahun-tahun
yang dianggap sebagai zaman keemasan majalah berita bergambar.
Kendati sebagian besar terbitan berkala Hindia-Belanda masih terkesan kolot,
beberapa di antaranya --seperti D'Orient atau Wereld Nieuws-- secara terbatas
mulai memperlihatkan inovasi seperti esei foto yang dipengaruhi oleh majalah-majalah
Jerman dan Rusia. Dengan kehadiran Jepang, kecenderungan ini terus mendapatkan dorongan.
Terlepas dari tujuannya sebagai propaganda, salah satu hal baik yang dibawa oleh
pendudukan fasis adalah penggunaan foto-foto yang jauh lebih dinamis lagi, yang didapatkan
melalui sudut-sudut pengambilan gambar yang ekstrim --dari ketinggian dan kerendahan;
dari jauh dan dekat. Tak heran bila salah satu yang harus dibawa oleh seorang fotografer Domei
adalah sebuah tangga pendek. Tapi, selain perkakas sederhana itu para juru foto Indonesia
juga menggunakan berbagai teknologi mutakhir yang memungkinkan mereka untuk memotret dan
memproses filmnya dalam beragam situasi dan kondisi. Alex dan Frans Mendur, misalnya,
memakai kamera Leica yang sangat ringkas dan menggunakan film gulungan.
Selain mudah diselundupkan dari medan perang, jenis film ini bisa merekam gambar lebih banyak,
serta bisa dipakai untuk mengambil gambar dalam kondisi cahaya yang tak terlalu baik.
Sebagian besar foto-foto yang paling penting dari zaman revolusi --proklamasi kemerdekaan,
contohnya-- dibuat dengan kamera merek Jerman ini. Sementara itu, untuk situasi khusus
para fotografer IPPHOS juga menggunakan tustel dalam format yang lebih besar,
di antaranya Roleiflex dengan ukuran film 6 x 6 cm yang banyak dipakai saingannya
dari pers Belanda dan Amerika Serikat. Pengalaman dan pengetahuan yang kaya ini
terangkum dalam setiap foto yang dibuat IPPHOS. Dari berbagai liputannya, jelas terlihat
betapa Alex Mendur dan kawan-kawan selalu menjalankan suatu proses kerja kewartawanan yang
sistematik, profesional, dan cerdas. Tak jarang mereka bekerja sebagai tim yang terdiri
dari dua, tiga orang fotografer sekaligus (yang artinya seluruh fotografer yang ada di setiap biro).
Masing-masing menempati lokasi dan sudut pandang berbeda.
Dengan cara ini, setiap fotografer akan membuat foto yang unik sekaligus melengkapi karya rekannya.
Ini yang mereka lakukan, misalnya, saat membuat potret Bung Hatta yang tiba di stasiun Manggarai,
8 Juni 1947. Ini pula yang mereka lakukan ketika meliput kepulangan Bung Karno ke Jakarta,
tanggal 29 Desember 1949. Dari foto-foto yang dibuat dan beberapa kesaksian, kita bisa menyimpulkan
bahwa paling tidak ada tiga orang juru foto IPPHOS yang hadir pada hari itu: Alex Mendur, "Nyong" Umbas
dan Melvin Jacob. Satu orang memotret sambil berlari-lari di antara kerumunan rakyat yang
menyambut rombongan Presiden RI; seorang lagi, boleh jadi Alex Mendur,
menunggu di tangga istana tempat Bung Karno akan memberikan pidatonya; sementara "Nyong" Umbas
yang ganteng dan parlente kemungkinan besar berdiri di susur tangga, dengan sepatu putihnya yang
baru disemir dan sebatang rokok di tangan, siap untuk mengabadikan momen bersejarah itu dengan
sebuah kamera Bush-Pressman 6 x 9 cm.
IPPHOS & Elegi Kehidupan
Menurut survei Galeri Foto Jurnalistik Antara,
tahun 1997, koleksi IPPHOS terhitung 250.000 negatif asli. Yang berasal dari kurun waktu 1945-1949
saja berjumlah 22.700 gambar. Sebagian besar, sekitar 90%, masih dalam kondisi yang sangat baik.
Tapi, seandainya kita membolak-balik buku-buku sejarah yang terbit selama 50 tahun terakhir ini,
maka kita akan menemukan bahwa karya para juru foto Indonesia yang pernah dimuat di berbagai publikasi
tersebut tak pernah melebihi 200-an gambar. Itupun nyaris sama pilihannya, baik dari segi substansi
maupun bentuk. Artinya, apa yang pernah diperlihatkan kepada kita di sekolah dan museum-museum sejauh
ini baru sebagian kecil --sangat, sangat kecil-- dari apa yang sebenarnya terjadi selama revolusi.
Maka, jangan heran bila 99% foto-foto yang dibiarkan terpendam itu memberikan gambaran
yang sangat bertolak-belakang dari 1% yang dimunculkan dalam berbagai kronik sejarah.
Terutama adalah gambaran kehidupan yang oleh IPPHOS diperlihatkan sangat inklusif,
merangkul hampir segala lapisan masyarakat dan segala kegiatan manusia.
Semua orang yang terlibat dan menderita di dalam perang kemerdekaan --Indonesia,
Belanda dan Tionghoa; pemimpin, prajurit dan masyarakat biasa-- tercakup di sini.
Darimana IPPHOS mendapatkan gambar-gambar itu?
Foto-foto itu lahir dari kenyataan hidup:
Perang bukan cuma sebuah dunia yang dihuni pahlawan, tapi di sana juga ada para pengkhianat,
pengecut, dan pecundang yang sekadar ikut-ikutan. Perang bukan hanya pemimpin dan perwira,
tapi juga korban-korban mereka. Untuk setiap lelaki yang memanggul bedil, maka akan ada lelaki
lain yang harus mencangkul di sawah. Akan ada yang lain yang mesti mendorong truk angkutannya
yang mogok di tengah hutan. Akan ada seorang janda atau anak yatim yang terpaksa menjual pakaiannya,
menggembel, atau bahkan menggadaikan tubuhnya untuk bertahan hidup. Lagipula pelacur juga bisa
menjadi pahlawan; di Tangsi Penggorengan, adalah para wanita tuna-susila yang bertugas mencuri
senjata prajurit Gurkha.
Foto-foto itu lahir dari kemauan hidup, karena di hadapan maut jantung manusia biasanya
akan berdegup lebih cepat. Maka, di Jakarta atau di Yogyakarta, lampu-lampu jalanan terus
menyala di malam hari. Perusahaan film terus membuat lakon baru.
Bioskop terus mempertunjukkannya. Ring tinju atau gulat dipenuhi penonton dan pejudi.
Para remaja terus dansa-dansi. Opas masih harus bangun pagi dan berangkat ke kantor
setiap pagi, pelukis tetap melukis dan bertikai satu dengan yang lain,
sementara si pemilik sampan di Ciliwung tak henti mengayuh perahunya hilir-mudik
ketepian mengangkut penumpang atau tangkapan.
Maka, foto-foto itu lahir dari kecintaan terhadap segala yang hidup.
Hidup buruh-buruh pabrik gula yang sepanjang hari berpeluh keringat,
atau bocah-bocah yang kegirangan menyaksikan atraksi pilot-pilot RI.
Hidup seorang prajurit Tiongkok yang berbagi rokok dengan seorang laskar
di hari-hari terakhir ketika langit Surabaya diselimuti asap-asap hitam.
Juga hidup tuan tanah Belanda yang sama ketakutannya seperti petani yang
lari tunggang-langgang ketika pesawat musuh menjatuhkan bom di kebun.
Dan yang paling penting, foto-foto itu lahir dari pengalaman hidup para pembuatnya;
sebagai inlander, sebagai pejuang, sebagai minoritas Minahasa beragama Kristen,
sebagai wartawan kere --pendek kata, sebagai manusia-manusia yang di setiap zaman --kolonial,
penjajahan Jepang, maupun kemerdekaan-- selalu harus membuktikan keberadaannya.
Alhasil, kesaksian Mendur dan Umbas bersaudara menjadi terlalu luas, terlalu rumit,
terlalu hidup untuk direproduksi ke halaman-halaman kusam kitab sejarah.
Foto-foto IPPHOS berbicara tentang toleransi dan penghormatan terhadap
seluruh manusia, tentang hidup, sementara para sejarawan cuma mau ngomong
tentang kejayaan masa silam dan raja-raja yang sudah lama mati.
Kisah tentang foto Bung Karno merangkul jenderal Sudirman yang kembali dari gerilya, 8 Juli 1949.
Kesaksian berikut ini bisa memberi gambaran
betapa besarnya kekuatan fotografi, dan seberapa dalam pemahaman para pemimpin RI terhadap kekuatan itu:
Pada Aksi Polisionel Belanda yang ke-II, Desember 1948, hubungan antara militer
dan sipil RI mengalami keretakkan. Panglima Besar Jenderal Sudirman yang terus
bergerilya walau dalam keadaan sakit keras kecewa terhadap sikap Presiden Soekarno
dan Wakil Presiden Hatta. Soekarno, kendati pernah berjanji akan ikut bertempur,
membiarkan dirinya ditahan ketika tentara Belanda menyerbu Yogyakarta.
Pada tanggal 7 Juli 1949, setelah Belanda dipaksa mundur dan Soekarno-Hatta
kembali ke Yogyakarta, Letnan Kolonel Soeharto yang didampingi fotografer
Frans Mendur dari IPPHOS dan wartawan tulis Rosihan Anwar ditugaskan untuk
menjemput Jenderal Sudirman dari markas gerilyanya di dekat Wonosari.
"Untuk menghindari kesan telah terjadi perpecahan," Rosihan Anwar mencatat.
Keesokan harinya, Frans Mendur ikut rombongan Sudirman yang bertolak menuju Yogyakarta;
dari perjalanan yang menembus hutan dan bukit inilah ia membuat seri foto terkenal
yang menggambarkan Sudirman ditandu prajuritnya. Saat itu, sang Jenderal hidup dengan
paru-paru yang tinggal sebelah. Di Yogyakarta, Soekarno dan Hatta menanti di beranda
depan kediaman Presiden yang luas. Beberapa wartawan sudah berkumpul di sana.
Di antaranya adalah fotografer Antara Abdoelwahab Saleh dan M. Sayuti.
Kebetulan keduanya pada hari itu tidak memotret karena kehabisan persediaan film.
"Ketika kami tiba, suasana sangat tegang," tutur Tjokropranolo, pengawal pribadi Panglima Besar
(belakangan menjabat Gubernur DKI). Soedirman hanya berdiri kaku dengan sebelah tangannya
menggenggam tongkat, tapi Soekarno serta-merta merangkul sosoknya yang ringkih.
Seketika itu pula matanya menangkap sosok Frans Mendur yang memegang kamera.
- "Momennya dapat tidak?" tanya Bung Karno kepada Frans Mendur.
Kepala IPPHOS di Yogya itu menggeleng.
- "Terlalu cepat," jawabnya.
Pada saat itu kepala BFI R.M. Soetarto yang datang terlambat, tiba di serambi.
Ia, sebagaimana M. Sayuti, mendengar instruksi Presiden RI kepada Frans Mendur.
- "Kalau begitu diulang adegan zoentjesnya," kata Bung Karno.
Frans Mendur mematuhi perintah presiden. Demikian pula sang Jenderal.
Puluhan tahun kemudian, foto inilah yang muncul di buku-buku sejarah. Dibawahnya besar
kemungkinan kita akan mendapatkan kalimat yang bombastis, yang salah satu contohnya
bisa kita baca dalam buku berjudul Merdeka atau Mati karya Yusni Y. Bahar (1983):
"Panglima Tertinggi Bung Karno dan Panglima Besar Sudirman laksana kakak-adik
yang telah sekian lama tak bersua...Rindu yang tertanam dan tertahan,
menjelmakan sikap yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata."
(c) 2001: Yudhi Soerjoatmodjo, Kurator
Belajar dari Dokumentasi Sejarah
22 Feb 2001
Banyak harapan dan impian muncul ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan
kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Namun, harapan tinggallah harapan,
kemakmuran dan kesejahteraan tetaplah sebuah tujuan mulia yang masih sulit
digapai bangsa ini. Pameran fotografi tentang kemerdekaan RI,
yang diadakan di Pusat Kebudayan Polandia dari tanggal 22-28 Februari ini
bisa menjadi refleksi. Pameran ini memajang foto-foto karya Mendur dan
Alex dan Frans Umbas.
Mewujudkan kemerdekaan hakiki ternyata bukan persoalan mudah.
Kalau kemudian mulai muncul rasa frustasi rakyat, sesunguhnya itu bisa dipahami.
Keterkungkungan dari penindasan membuat mereka mulai bertanya-tanya,
apakah hakekat sebenarnya dari kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan?
Mencermati foto demi foto yang ada, kita seakan-akan di giring ke masa lalu
ketika rakyat rela mengorbankan semuanya demi kebebasan dan kemerdekaan bangsanya.
Foto tentang pertempuran Surabaya misalnya.
Moment ini menggambarkan betul bentuk heroisme dan kenekatan rakyat dalam
memperjuangkan hak-hak mereka. Keberanian mereka dengan segala resiko yang
ada adalah wujud bukan saja keteladanan, tetapi juga simbol sikap kebangsaan.
Kemampuan para fotografer yang tergabung dalam IPPHOS, berdiri 2 oktober 1946,
meski masih dalam bentuk hitam putih, tergolong modern. Melihat peralatan serta
teknologi yang mereka gunakan, karya-karya mereka terbilang hebat.
Sebagai seorang jurnalis, karya-karya Mendur dan Umbas bersaudara ini bisa
menggambarkan betul rangkaian peristiwa saat itu. Termasuk foto-foto
tentang pemberontakan PKI Madiun 1948. Tentang pemberontakan ini terdapat
sebuah foto yang menunjuk terjadinya penghakiman massa terhadap anggota PKI.
Kemarahan dan kebencian masyarakat begitu tampak dalam peristiwa itu.
Seolah menggambarkan terjadinya konfrontasi ideologis yang begitu kental.
Padahal kebanyakan dari mereka adalah masyarakat miskin dan buta politik.
Apalagi pemahaman mereka tentang ideologi Komunis-Marxis yang dikembangkan Muso.
Sebuah gambar memang merujuk pada peradaban dan citra yang hadir dan berkembang saat itu.
Demikian halnya dengan karya-karya ketiga fotografer ini. Hasil bidikan mereka dengan
menggunakan kamera Leica dan Roleiflex menjadi bahan menarik untuk dikaji.
Termasuk makna yang terdapat dalam setiap moment sejarah itu.
Rakyat sungguh menanti kemerdekaan mereka! (Kun Wahyu)
Sumber:
http://www.matamata.com/general/readart.cfm?ID=686
|
Kantor Berita & Dokumentasi IPPHOS
|
Direktris: Ny. Y. Meity Mubagio-Mendur
Alamat Kantor: Jl. Kampung Melayu besar 3F, Jakarta Timur 13320 Telp.021-8509804/8509809
Alamat Rumah: Kali Mulia, Depok Telp.021-7782355 HP.0816-909415
|
| Perusahaan IPPHOS serupa |
| Nama Majalah | : | FOTO IPPHOS |
| Nama Perusahaan / Penerbit | : |
Yayasan IPPHOSS |
| Nomor & Tanggal SIUPP | : |
1611/SK/MENPEN/SIUPP/99 - 19 Agustus 1999 |
| Alamat & Nomor Telepon | : |
Jl. Urip Sumoharjo No. 9 Telp.(031) 5343174, Surabaya |
| Pemimpin Umum | : |
Haddy J. Y. Warokka |
| Pemimpin Redaksi | : |
Haddy J. Y. Warokka |
| Pemimpin Perusahaan | : |
Wandi R. Kusuma |
| Isi Penerbitan | : |
Berita foto segala bidang |
| Bahasa | : |
Indonesia |
|