Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Headline News: Eksponen Minahasa Deklarasikan Front Permesta

    
MENU UTAMA
FAKTA PERMESTA
SEJARAH
TOKOH
WAWANCARA
ALBUM FOTO
PUBLIKASI
ARTIKEL
KONTRIBUSI
PRESS RELEASE
REUNI
BUKU TAMU
WEBMASTER
KEBIJAKAN SITUS
LINKS
Webmail:

 



PENGUNJUNG KE: 39
39


HEADLINE NEWS:


Minggu, 31 Oktober 1999

Eksponen Minahasa Deklarasikan Front Perjuangan Permesta

Bahwa realitas pluralitas bangsa Indonesia yang diikrarkan sebagai potensi pemersatu dan potensi pembangun telah mengalami politisasi dan komersialisasi yang bermuara pada diskriminasi, pengucilan dan peminggiran, baik dalam kategori suku, etnis, dan bahkan agama. Realitas pluralitas kita harus selamanya disadari sebagai benih disintegrasi, sepanjang budaya politik masyarakat kita masih sangat mudah dikotak-kotakkan secara ideologis dan penuh purbasangka atau masih jauh dari kondisi ideal masyarakat terbuka (open society). Demikian salah satu diktum dari Deklarasi Perjuangan Semesta (Permesta) yang dikemas dalam wahana Front Permesta oleh eksponen Minahasa yang berdomisili di Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi-Depok pada hari Minggu, 31 Oktober 1999 di Hotel Pondok Sawangan, Depok, Jawa Barat. Deklarasi Perjuangan Semesta ditandatangani oleh :

    ·        Willy H.Rawung (Sekretaris Dewan Pembina Kerukunan Keluarga Kawanua/KKK),
    ·        Johny A.Rumokoy (Sekjen Angkatan Muda Reformasi Semesta/AMARTA),
    ·        Jopie Lasut (Wartawan Radio Hilversum),
    ·        Benny Matindas (Presidium Forum Masyarakat Minahasa untuk Reformasi),
    ·        Otje R. Sumampouw (Ketua Umum AMARTA),
    ·        Charlie Sondakh (Mantan Sekjen Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Minahasa di Djakarta/IPPMMD),
    ·        Bert Supit (Purnawirawan TNI-AD/Mantan Bupati Minahasa),
    ·        Wailan E.Langkay (Aktivis Pemuda),
    ·        Audy L.Punuh (Aktivis Pemuda/Pilot Merpati),
    ·        Audy WMR Wuisang (Kepala Biro Pemuda, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia/PGI),
    ·        Boy MW Saul (Sekretaris KKK),
    ·        Max Wilar (Sekjen Masyarakat Kawanua Indonesia/MKI), dan
    ·        Marsma (Purn) F. Pontohkukus (Penasihat Badan Perjuangan 14 Pebruari 1946).

Front Permesta yang dipimpin oleh presidium dengan ketua Willy H. Rawung, Sekjen Audy WMR Wuisang dan Sekretaris Boy WM Saul, sehari-hari berkantor di Jl. Bekasi Timur IV No. 3-A, Jatinegara, Jakarta Timur, Tel +62.21.850.3924. Diketahui juga sebagai kantor HN Ventje Sumual, mantan Panglima Teritorium VII Indonesia Timur yang bermarkas di Makassar.
Email: permesta@ciputat.wasantara.net.id.

“Dengan kesadaran penuh sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia yang senantiasa berperan terdepan dalam setiap tahapan sejarah perjuangan maka Front Permesta akan Berjuang untuk menegakkan keadilan, pemberdayaan, dan pemerdekaan masyarakat Kawanua sesuai dengan prinsip The right of self determination,” demikian akhir butir deklarasi.

For More Information Contact:
Lembaga Pengkajian Strategi Reformasi Pembangunan
PO Box # 2057, Pondok Gede, Kodya Bekasi 17420, Indonesia
Tel:+ 62-21-846-6594
FAX: + 62-21-846-6594
Internet: maxwilar@yahoo.com

Kirim e-mail ke maxwilar@diplomats.com untuk pertanyaan mengenai site ini
Hak Cipta  © 1999 Lembaga Pengkajian Strategi Reformasi Pembangunan
Terakhir di Update : November 02, 1999

Sumber: Siaran Pers LPSRP http://www.geocities.com/Pentagon/Base/7967/Siaran_Pers/pr01.htm





Selasa, 2 November 1999
Sejumlah Pemuda Sulawesi Utara Dirikan Front Permesta

Keresahan masyarakat di Sulawesi Utara meski ditekan oleh pihak Pemda dan militer, nampaknya masih terus berlanjut. Sejumlah pemuda telah mendirikan Front Permesta. Berikut ini wawancara dengan Wailan Langkay, anggota Presidium Front Permesta, terdiri dari sejumlah tokoh-tokoh pemuda Minahasa.

Radio Nederland (RN): Bung Wailan mengapa akhir-akhir ini begitu banyak organisasi pemuda yang muncul di Sulawesi Utara khususnya di Minahasa yang menggunakan nama Permesta?

Wailan Langkay (WL): Yah Permesta, dalam kondisi sekarang ini di mana rakyat Minahasa mengetahui bahwa kondisi tersebut telah sangat merugikan rakyat Minahasa dan selama ini bangsa serta tanah Minahasa kelahiran organisasi-organisasi tersebut itu juga bukan hanya kekecewaan yang mendasar ini, yang dilakukan oleh rejim pemerintah Indonesia, khususnya pemerintah Soeharto, tetapi mereka sekarang mengerti bahwa bangsa Minahasa secara serius mempunyai pemikiran-pemikiran dan perasaan demokrasi yang telah ada semenjak leluhur mereka, ditambah dengan ajaran-ajaran Kristen yang sangat demokratis. Kedua ajaran ini begitu terharmonis tetapi selama ini tidak mendapatkan tempat dalam sistim pemerintahan Indonesia yang terjadi selama 54 tahun.

RN: Tetapi konotasi Permesta itu sebenarnya kan menyangkut seluruh Indonesia Timur. Selama ini orang tahu kalau Permesta itu mencakup seluruh wilayah Indonesia Timur dan dicetuskan di Makassar.

WL: Ya itu konsilasi politik dahulu, pada waktu Permesta dicetuskan di Makassar. Itu memang Permesta membawa misi mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Tetapi kondisi dinamika dan konflik sekarang ini, membuat Front Permesta di mana saya termasuk presidium, itu sangat berhati-hati untuk mengatas namakan Indonesia Timur. Kita sebagai bangsa turut prihatin dengan rakyat Indonesia Timur yang di luar Minahasa. Tetapi untuk perjuangan kita akan mengkonsentrasikan dan memprioritaskan Minahasa terlebih dulu. Itu salah satu tujuan Front Permesta. Dan juga tujuan Permesta yang lampau secara politik maupun secara militer akhirnya pada tahun 1960 dan 1962 itu hanya diperjuangkan oleh orang-orang asal Minahasa. Dalam kalimat yang lain, secara langsung maupun tidak langsung itu dilakukan oleh rekan-rekan dari Indonesia Timur lainnya. Jadi di sini kita pilih pengalaman untuk berpikir kritis dan berdiri sendiri.

RN: Tapi Permesta itu dulu juga diperjuangkan di Jakarta. Hingga banyak orang-orang dari Sulawesi Utara yang ditahan di Jakarta, misalnya setelah terjadi pemberontakan Puskhas di Bandung. Dan juga ada pemboman istana oleh penerbang Maukar, bukan begitu?

WL: Nah inilah di situ suatu bukti benari kejadian-kejadian tersebut. Memang kalau dilihat dari definisi sekarang, itu mungkin juga emosional. Tetapi kalau dilihat dari aspek yang lampau, dalam konteks tanggung jawab dan semangat demokrasi Minahasa dan juga terhadap perjuangan rakyat Minahasa, plus untuk menegakkan Republik Indonesia, di situ ada hubungan yang sangat stabil antara tokoh-tokoh dan masyarakat Permesta dimana hubungan yang sangat stabil itu untuk sama-sama membangun, itu tidak dipunyai oleh, yah maaf saja, oleh pemimpin-pemimpin yang di luar Minahasa. Jadi di sini masalah kwalitas sebagai pemimpin yang mempunyai tanggung jawab untuk menuju suatu bangsa yang baik, bangsa yang penuh kesejehateraan, di mana itu cita-cita dari Republik Indonesia, yang kenyataannya sudah dikhianati. Jadi terutama Permesta menilai perjuangan itu akan dilanjutkan.

RN: dr. Bert Supit Ketua Permesta Indonesia Timur yang tidak ikut pada pemilu yang lampau, masih tetap aktif, mengatakan bahkan untuk suatu negara bagian, atau suatu negara federal masih dibutuhkan waktu transisi satu sampai lima tahun. Bagaimana pandangan kalangan Front Permesta?

WL: Ya mengenai soal waktu, saya pikir lebih cepat, lebih baik, lebih tenang di majui lebih progresif. Itu mengenai pendapat Front Permesta. Kami dari Front Permesta yang lebih muda itu mempunyai suatu percaya diri bahwa lebih cepat, lebih baik, lebih tenang dan lebih progresif. Dan kita pikir kita sanggup. Jelas kita juga membutuhkan solidaritas dari orang-orang Minahasa di seluruh dunia untuk membantu aktivitas Front Permesta ini dan untuk mencapai suksesnya itu kan masalah bagaimana tentang persatuan organisasi atau Front Permesta. Waktu itu akan kita tentukan. Itu juga tergantung dengan lawan-lawan politik dan lawan-lawan Front Permesta lainnya. Itu kita akan mempunyai suatu sistem tersendiri.

RN: Tapi dalam piagam Front Permesta antara lain disebut mengenai hak untuk menentukan nasib sendiri. Apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan itu?

WL: Yah kita lihat saja dalam arti kemerdekaan pada jaman sekarang, itu semua orang ingin merdeka atau dalam bahasa asingnya otonom. Jangankan sekelompok masyarakat, seorang diri saja saya ingin merdeka menentukan jalan hidupnya. Menentukan kawan-kawannya, bisa menentukan siapa kawan siapa lawan dan apalagi dalam kelompok masyarakat yang ingin menyelamatkan tanah air dan bangsa Minahasa. Di mana penyelamatan ini selama 50 tahun tidak dirasakan seperti waktu negara Republik Indonesia sekarang ini didirikan. Jadi itu sangat penting mengenai otonomi.
(Radio Hilversum, Selasa 2 November 1999)

Sumber: http://groups.yahoo.com/group/ambon/message/3270

 


Copyright © 2003 Permesta Information Online™
Silahkan menyalin atau mengutip isi atau sebagiannya dengan mencantumkan sumber "dikutip dari Permesta Information Online"