Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Headline News: Pergerakan Reformasi Semesta (Permesta)

    
MENU UTAMA
FAKTA PERMESTA
SEJARAH
TOKOH
WAWANCARA
ALBUM FOTO
PUBLIKASI
ARTIKEL
KONTRIBUSI
PRESS RELEASE
REUNI
BUKU TAMU
WEBMASTER
KEBIJAKAN SITUS
LINKS
Webmail:

 



PENGUNJUNG KE: 130
130


HEADLINE NEWS:


* OTONOMI DAERAH MERUPAKAN BATU UJIAN BAGI PEMERINTAHAN GUS DUR

Masalah otonomi daerah akan menjadi salah satu batu ujian bagi Presiden Abdurrahman Wahid dalam mengendalikan pemerintahannya selama satu tahun pertama. Ini terbukti dari maraknya demo-demo yang menuntut kemerdekaan dan federalisme di perbagai propinsi dalam minggu pertama pemerintahannya. Laporan Syahrir dari Jakarta.

Rakyat Aceh marah kepada Gus Dur. Pernyataan Presiden Abdurrahman Wahid seolah-olah pihak militer tidak pernah melakukan pembunuhan di Aceh ternyata menimbulkan gelombang kemarahan rakyat setempat. Caci maki yang dialamatkan kepada kepala negara ini terdengar di berbagai tempat. Ucapan Gus Dur itu perlu diluruskan. "Saya tahu persis kalau militer melakukan pembunuhan terhadap rakyat Aceh", kata anggota DPRD Aceh Abdullah Saleh kepada Suara bangsa di Banda Aceh, Jumat pagi. Dikatakannya juga 'alangkah baiknya kalau Gus Dur tak asal bicara, apalagi dalam kondisi Aceh sekarang ini', kata Ketua MUI Aceh Iman Suja'i seraya menambahkan 'inilah pernyataan yang tak benar, dan akan menambah luka rakyat di sini'. Gus Dur dalam suatu pertemuan dengan pengurus Kadin mengatakan, pembunuhahn yang dilakukan di aceh bukan dilakukan Tentara Nasional Indonesia, tetapi dilakukan oleh orang-orang yang memakai seragam TNI.

Sementara itu aksi-aksi pro-kemerdekaan atau negara federal mau pun otonomi luas, masih terus berlanjut di wilayah Indonesia bagian timur. Setelah aksi semacam itu mereda di Sulawesi Selatan, karena empat anak daerah Sulsel diangkat sebagai menteri, kini muncul demo di Kendari Sulawesi Tenggara. Sebagian masyarakat di sana pun menginginkan kemerdekaan. Sehari sebelumnya juga muncul tuntutan yang sama dari kelompok-kelompok Permesta. Baik di Menado, Sulawesi Utara maupun di Halmahera, Maluku Utara. Sedikitnya tiga kelompok masyarakat dalam dua hari terakhir melakukan aksi unjuk rasa dan parade di jalan-jalan protokol Menado.

Ketuanya James Karinda mendeklarasikan berdirinya Pergerakan Reformasi Semesta, atau Permesta di DPRD Sulut, dengan tujuan memprotes keras pemerintahan Gus Dur-Megawati, karena tak menghargai orang Sulawesi Utara. Kelompok yang lain yaitu Yayasan Permesta, pimpinan Renata Tikonuwu, tegas-tegas ingin melanjutkan Perjuangan Rakyat Semesta tahun 1957. Menteri Otonomi Ryaas Rasyid melihat aksi-aksi ini hanya bersifat temporer dan tidak ada maksud mereka untuk memisahkan diri dari negara kesatuan. Ini hanya menyangkut kewewenangan daerah saja katanya. Yang minta federalisme atau kemerdekaan sebenarnya hanya menuntut kewewenangan saja, katanya dalam suatu wawancara televisi.

Menurut Rasyid kemampuan daerah tidak semuanya sama. Ada yang mampu, ada yang tidak mampu jika benar-benar diberikan kewewenangan oleh pusat. Tetapi ia melihat dari pihak Presiden Gus Dur sudah ada 'political wil'. Kalau sampai gagal, maka eksistensi negara yang dipertaruhkan. Bagi Ryaas Rasyid sekarang tergantung menteri-menteri yang bersangkutan di pusat. Tapi kalau dahulu semuanya tergantung pada pusat apa yang mau diserahkan, kini tergantung pada daerah wewenang mana yang mau diserahkan kepada pusat. Namun yang pasti pusat akan tetap mempertahankan lima bidang, yaitu yang menyangkut hubungan luar negeri, pertahanan, keuangan, agama dan peradilan.

Hanya Aceh saja yang akan diberikan kewenangan soal agama. Kewenangan soal perijinan kehutanan, perkebunan, pertanahan dan sebagainya jelas harus diserahkan pusat kepada daerah. Tugas pusat sekarang hanya supervisi saja. Yang menjadi persoalan nanti adalah soal implementasi di daerah, sebab daerah-daearh umumnya belum sipa secara mental. Dalam pada itu tokoh asal Indonesia Timur Ventje Sumual menyatakan selama pembangunan belum merata di seluruh Indonesia, khususnya di Indonesia Timur, maka perjuangan rakyat daerah akan terus dikobarkan.

Lebih lanjut pencetus proklamasi Permesta atau Perjuangan Semesta tahun 1957 menegaskan, Permesta akan jalan terus, hanya sekarang yang diperlukan adalah suatu mekanisme untuk memperjuangkan cita-cita Permesta itu yang pada dasarnya bertumpu pada keinginan rakyat bagi keadilan ekonomi dan pemerataan hasil pembangunan. Menurut Ventje Sumual, tuntutan bagi pembangunan yang bersifat kerakyatan sudah didengungkan semenjak proklamasi 2 Maret 1957 di Makasar. Tetapi hasrat rakayat wilayah Indonesia Timur itu ditumpas dengan kekerasan oleh pemerintah pusat. Namun bagi Ventje Sumual hasrat dan keinginan rakyat itu ternyata masih relevan setelah 42 tahun.

Seorang pengamat di Menado mengakui bahwa cita-cita para pencetus Permesta seperti Ventje Sumual dan M. Jusuf ternyata merupakan keinginan yang laten, yang selama Orde Baru tersembunyi dan kini muncul kembali. Bagi mantan panglima tentara dan Teritorium 7 yang mencakup seluruh wilayah Indonesia Timur termasuk Sunda Kecil dan Bali itu, negara bagian atau propinsi sama saja. Yang penting adalah konstruksi hukumnya. Otonomi a la Yasser Arafat adalah yang paling ideal karena kewewenangannya lebih dari pada satu negara bagian. Otonomi a la Palestina memang memberikan kewenangan bagi Palestina untuk memiliki polisi dan angkatan bersenjata sendiri.

Maka bagi Ventje Sumual pengertian otonomi dan federal bisa luas dan bahkan tidak ada perbedaan. Seorang mahasiswa di Makasar sebaliknya berpendapat, kalau semua propinsi sudah menjadi negara merdeka maka langkah berikutnya adalah untuk bertemu kembali di Asean yang kokoh.

Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui ranesi@rnw.nl

Copyright Radio Nederland Wereldomroep. Source: RNW berita list manager Date: Fri, 29 Oct 1999 17:25:03 +0200 --------------------------------------------------------------------



 


Copyright © 2002 Permesta Information Online™
Silahkan menyalin atau mengutip isi atau sebagiannya dengan mencantumkan sumber "dikutip dari Permesta Information Online"