|
Ketua Umum Korps Permesta (Sammy Supit Mrn.Eng.) Usulkan Menlu Filipina peningkatan
Kerja sama Perikanan dan Pariwisata
Pertemuan Menlu Philipina Blas F.Ople
dengan Tokoh Sulut usulkan peningkatan kerjasama Ekonomi
Dalam undangan Busines Lunch
di Grand Ballroom Hotel Ritzy pada hari Sabtu tanggal 3 Mei 2003 yang
dihadiri oleh Pihak pimpinan Sulut dan Minahasa yaitu Wakil Gubernur Freddy Sualang dan
Walikota Manado Wempie Frederik serta Wakil Bupati Minahasa.
Dalam kata sambutannya, Menlu Filipina mengharapkan agar kerja sama bisnis
regional antara Filipina dan Sulawesi Utara dapat ditingkatkan
terutama antara para mitra pengusaha Sulut dan Filipina.
Dalam acara tersebut juga bapak Jefry Massie pimpinan harian Komentar
mengajukan pertanyaan khusus mengenai kerjasama keamanan Amerika Serikat
dan Filipina dalam memerangi Terorisme di Filipina selatan.
Hal itu mendapat tanggapan dari Menlu Filipina bahwa perang melawan terorisme
dan Separatis Muslim di Mindanao sedang digiatkan. Juga melalui kerjasama dengan pihak
Amerika tentu saja hal itu akan berdampak langsung terhadap keamanan di
Sulawesi Utara sehingga pihak Teroris tidak dapat mendarat (Landing) di Sulut.
Dalam Usulan Ketua Umum Korps Permesta Sulut (Sammy Supit, Mrn.Eng.)
menyatakan perlu adanya solusi terhadap kerancuan exploitasi daerah dalam hal
perikanan Zone Ekonomi Eksklusive (ZEE) dimana beberapa waktu yang lalu
Kapal Nelayan Filipina "ditenggelamkan" oleh pihak Angkatan Laut Indonesia.
Sammy Supit juga menandaskan bahwa kalau dapat dibangun suatu kerja sama dari
perusahaan perikanan Filipina dengan pengusaha/nelayan lokal Sulut maka akan sangat
bermanfaat dalam mengeksploitasi hasil perikanan di ZEE yang menjadi
kenyataan tidak mampu dikelola oleh nelayan/pengusaha lokal Sulut,
mengingat pihak Filipina mempunyai Teknologi dan Modal sedangkan di Sulut dapat
dikoordinasi para nelayan atau tenaga kerja lokal dalam mengeksploitasi
Perairan Zone Eksklusif di Sulawesi Utara. Lebih lanjut Sammy Supit
mengharapkan agar operasi pembersihan Filipina dari terorisme semoga berjalan
dengan sukses sehingga dampak stabilitas dan keamanan di Filipina
dan akan ikut mewarnai situasi dan kondisi stabilitas di Sulawesi Utara,
tentu saja di Sulut bukan saja aparat kepolisian yang bertanggung jawab sepenuhnya
melainkan kerja sama dengan masyarakat terutama para milisi seperti
Milisi Waraney, Brigade Manguni, Pisok dan Korps Permesta
ikut dalam pengamanan dan stabilitas di Sulut terutama didalam mengantisipasi teroris lokal
yang menamakan dirinya Laskar Jihad, Laskar Mujahidin dll.
Acara terlambat 2 Jam:
Patut disayangkan, acara
yang dalam undangan semestinya dimulai pukul 10.00 tapi harus ditunda
karena menunggu kedatangan Wakil Gubernur Freddy Sualang yang akan
mewakili Pemprov Sulut karena orang nomor satu Sulut Gubernur A.J.Sondakh
sedang ada urusan partai Golkar di Jakarta. Sangat ironis seorang Menlu Negara
sahabat (Filipina) harus menunggu seorang Wakil Gubernur Provinsi, walau akhirnya
Wagub memasuki ruangan sekitar jam 12.00. tanpa diketahui alasan pasti karena
beliau tidak mengucapkan kata sambutan. Memang hal ini sering terjadi
di Sulut dimana pernah beberapa waktu lalu Duta besar Belanda datang ke Manado
dengan membawa delegasi perdagangan dari Belanda tapi ternyata tidak
ada tuan rumah (Gubernur/Pemprov lainnya), sehingga terjadi rumor bahwa
kebanyakan pimpinan eksekutif dan legislatif Sulut selalu menghindari pertemuan
yang berbau internasional karena umumnya mereka tidak mampu berkomunikasi dalam
bahasa internasional (Inggris), hal mana tersebut terlihat juga disaat Walikota
Manado Wempie Frederik memberikan kata sambutannya, yang dalam Intronya
dibawakan dalam bahasa Inggris yang lancar namun ternyata pidatonya disampaikan
dalam bahasa Indonesia sehingga so pasti Menlu Filipina tidak mengerti sama sekali.
Perlu diketahui bahwa hubungan antara Sulawesi Utara dan Filipina
secara tetangga sangatlah penting sebagai peribahasa menyatakan:
“hubungan tetangga adalah lebih penting dari pada saudara yang tinggalnya jauh”.
Sumber: Dokumentasi Sammy Supit, Mrn.Eng.
|