|
|
 |
|
Rabu, 30 April 2003 |
|
|
|
|
|
|
|
Minahasa Dilirik Jadi Pangkalan Peluncuran Roket Rusia
Manado, Sinar Harapan
Pemerintah Rusia dikabarkan sedang melirik wilayah Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara
untuk dijadikan salah satu pangkalan peluncuran roket maupun pesawat ulang alik ataupun
bisnis satelit dunia lainnya. Daerah yang bakal beruntung itu letak persisnya yakni di
Kecamatan Belang (sekarang Minahasa Selatan, webmaster). Selain Minahasa, daerah
lainnya yang dilirik yakni Biak di Provinsi Papua.
Direktur Pemasaran Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) Manado-Bitung, Ir. JWT
Lengkey yang dimintai konfirmasi, Selasa (29/4) membenarkan hal tersebut. Menurutnya,
pihak Lembaga Pengembangan Angkasa Luar Nasional (Lapan) bahkan telah menanyakan hal
tersebut ke pihak Kapet Manado-Bitung. Tak itu saja, sebab ternyata sudah ada calon
investor yang menanyakan kemungkinan Belang dijadikan lokasi tersebut. "Kami sedang
menyiapkan negosiasi dengan calon investor tersebut bersama Lapan agar mengalihkan
lirikan peluang itu dari Biak ke Belang saja," kata Lengkey.
Diakuinya, sebenarnya lirikan negara asing terhadap Belang untuk bisnis angkasa luar
seperti itu sudah pernah diutarakan calon investor dari Amerika Serikat beberapa waktu
lalu. "Namun, karena ketika itu ada ribut-ribut penolakan masyarakat di Belang terhadap
operasional PT Newmont Minahasa Raya, maka calon investor mundur. Alasan mereka, takut
tersinggung dengan masyarakat dan mereka menseriusi Biak," katanya. Namun, pasca
kunjungan Presiden Megawati ke Rusia, hal itu mencuat lagi. "Calon investor sudah
menghubungi Lapan, dan pihak Lapan mengontak kami. Peluang ini harus kita tangkap,"
katanya. Mengapa Belang dan Biak yang dipilih, Lengkey mengatakan, kalau secara
geografis posisi Indonesia, khususnya Belang dan Biak tepat berada di sekitar satu
derajat Lintang Utara di garis katulistiwa. Dengan posisi ini, peluncuran roket maupun
pesawat ulang alik lebih murah biayanya. Artinya, jika meluncurkan roket maupun pesawat
angkasa luar dari Biak ataupun dari Belang Minahasa maka roket ataupun pesawat tersebut
akan lebih cepat keluar dari orbit bumi.
Berbeda dengan pangkalan angkasa luar yang ada di Rusia maupiun di negara Eropa ataupun
di Amerika Serikat, di semua kawasan itu, roket ataupun pesawat ulang alik begitu
ditembakkan dari bumi, masih harus mengitari orbit bumi sebanyak 2 hingga 3 kali dulu
baru kemudian bisa masuk ke angkasa luar.(nov)
Sumber: Sinar Harapan Online. Rabu, 30 April 2003
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0304/30/nus05.html
Referensi:
|
Jumat, 21 Januari 2000
|
Pemda Setuju Pembangunan Bandara Antariksa
Investasi 1 miliar dolar, DPRD Sulut juga siap mendukung
Manado, MP
Megaproyek Bandara Antariksa (landasan peluncuran roket) yang rencananya akan dibangun
di Sulut akhirnya disetujui pemerintah daerah (Pemda). Dan sebagai langkah awal, Tim
Lapan pusat bersama Tim Pokja yang sudah dibentuk di Sulawesi Utara awal Maret 2000
mendatang, akan menggelar seminar sehari, sekaligus sosialisasi proyek yang nilai
investasinya sekitar 1 miliar dolar Amerika Serikat itu.
Wakil ketua tim leader swasta nasional penggarapan proyek bandara Antariksa si Indonesia
Ir JWT Lengkey ketika dicegat wartawan usai presentai di DPRD Sulut kemarin mengaku,
Pemda Sulut melalui Wagub HA Nusi telah setuju. Persetujuan pembangunan proyek tersebut
diimpementasikan lewat penandatanganan berita acara.
Dengan demikian lanjut Lengkey, proyek prestisius bagi warga Bumi Nyiur Melambai ini,
tidak jadi dipindahkan dari daerah lain, seperti permohonan daerah lain yang dekat
garis katulistiwa berdasarkan hasil riset itu yaitu di Palembang, Tarakan, Maluku dan
Irian Jaya.
Sementara itu, dalam pemaparan di DPRD Sulut, Lengkey yang didampingi tim Pokja
diantaranya Ny Telly Pallar secara umum dan tehnis telah mnjabarkan berbagai perencanaan
awal dari proyek tersebut. Demikian juga, awal pelaksanaan sosialisasi dan
program-program lainnya yang berkaitan erat dengan kepentingan Bandara Antariksa itu.
Menanggapi pemaparan itu, kalangan DPRD Sulut yang dipimpin langsung oleh wakil ketua
Fredy Sualang pada prinsipnya merespons akan pembangunan proyek tersebut. Bahkan melalui
Djitro Tamengge, ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan mengatakan, karena proyek ini
benar-benar besar, maka perencanaan dan pengelolaannya betul-betul harus profesional.
"Kalau bukan ahli di bidang ini, jangan sampai dilibatkan," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Fauzi Wartabone, salah seorang anggota DPRD Sulut.
Menurutnya, proyek ini harus ditunjang sepenuhnya dari berbagai kalangan, karena hal
tersebut sangat erat kaitannya dengan masa depan Sulawesi Utara khususnya di bidang
teknologi dan kemakmuran masyarakat secara keseluruhan. Rapat presentasi di DPRD Sulut,
selain dihadiri para Sekwilda se-Sulut, juga ketua Bapedda dan unsur instansi teknis
terkait lainnya.
Seperti yang sudah pernah dilansir harian ini, Bandara Antariksa ini dibangun di Sulut,
sudah berdasarkan survei, dimana lokasinya sangat dekat dengan garis Katulistiwa.
Pihak Investor, General Electric sudah menyiapkan dana sekitar 1 miliar dolar AS. "Bila
proyek ini sudah jalan akan menyerap tenaga kerja sekitar 10 ribu orang dari berbagai
disiplin ilmu," tutur Lengkey yang juga Treasurer Indonesia British Construction
Industry Group (IBCIG).
Soal lokasi pembangunan, menurutnya ada dua lokasi yang dekat dengan garis katulistiwa
yakni di Bitung dan Belang. "Jadi antara Bitung atau Belang," tuturnya.
Proyek Bandara Antariksa ini memang cukup cerah karena selama 10 tahun (tahun 2000-2010)
saja sebanyak 2.500 satelit akan diluncurkan. "Kalau setiap ada peluncuran banyak
wisatawan yang berkunjung di daerah, sekaligus para investor," tandasnya.
Dampak kehadiran dari proyek ini kata Lengkey memang sangat menyentuh masyarakat luas,
terutama para petani-petani sekitar yang nantinya akan menyediakan hasil-hasil bumi
seperti rica tomat serta sayur-sayuran lainnya untuk menyuplai kebutuhan proyek.
Demikian juga rekrutemen tenaga kerja di daerah ini. Belum lagi soal dampak lainnya
seperti akan adanya sekolah antariksa, dan universitas antariksa.
Sumber: Manado Post. Jumat, 21 Januari 2000
|
|