|
Australia
Terlibat dalam Pemberontakan PRRI/Permesta
Tangerang, Kompas - Australia disinyalir terlibat dalam pemberontakan
Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)/Permesta yang
berlangsung pada tahun 1957-1958. Keterlibatan Australia dalam
PRRI/Permesta tersebut berbentuk dukungan logistik yang dipusatkan di
Singapura. Demikian penegasan Hadi Soebadio, penulis buku berjudul Keterlibatan
Australia dalam Pemberontakan PRRI/ Permesta pada acara bedah bukunya
yang digelar di Tangerang, Selasa (13/8). Bedah buku Hadi Soebadio
menghadirkan dua pembahas, yakni Setiadi Sulaeman dari Universitas Negeri
Jakarta dan peneliti dari Centre for Strategic and International Studies
(CSIS) Indra J Piliang.
"Seluruh jajaran kapal-kapal Australia pada waktu itu disiapkan di
Singapura untuk memberikan dukungan logistik kepada PRRI/Permesta. Yang
menjadi masalah, di Indonesia sampai saat ini tidak ada yang mengatakan
bahwa Australia tersangkut gerakan PRRI/Permesta tersebut. Adnan Buyung
Nasution saat di Belanda pernah menyebutkan dengan bahasa kira-kira.
Pertanyaannya, apakah orang-orang Departemen Luar Negeri begitu bodoh atau
Australia yang pintar menyimpan rahasia?" kata Hadi Soebadio.
Hipotesis Soebadio mengenai alasan Australia terlibat dalam
pemberontakan PRRI/ Permesta disebabkan, negara itu mendukung politik
Amerika Serikat (AS) dan Inggris sebagai negara-negara pelindung
Australia. Kedua, dukungan diberikan dalam rangka mewujudkan politik
pertahanan Australia bekerja sama dengan AS dan Inggris.
Selain itu, Australia membantu PRRI/Permesta dalam usahanya mendukung
Belanda berkaitan dengan sengketa wilayah Irian Barat (Papua) antara
Indonesia dan Belanda, demi kepentingan keamanan dan pertahanan Australia,
juga dalam rangka ikut serta mewujudkan politik pembendungan yang dipimpin
AS sebagai salah satu negara pelindungnya terhadap komunisme. Gerakan
PRRI/Permesta adalah gerakan yang menentang komunisme.
Pembahas Setiadi Sulaeman menilai, secara keseluruhan pembaca buku
karya Hadi Soebadio akan mendapatkan banyak informasi menarik dan unik
dari sisi pandangan kesejarahan. Tidak hanya politik dan hubungan luar
negeri.
Indra J Piliang mengatakan, melalui buku tersebut dapat dipahami wajah
angkuh Australia ternyata sudah dibangun sejak lama. Bagi Australia,
politik sekadar permainan atau lips service, berbeda dengan
Indonesia yang memandang politik adalah ideologi. (LOK)
Sumber:
Kompas Online
Soal Australia dalam perpecahan di indonesia, bisa dibaca dalam resensi yang
saya tulis soal buku dibawah. Resensi ini pernah dimuat di Majalah Tempo (2
September 2002). Para pejabat Australia memang menyatakan tahun 1950-an akan
lebih senang Indonesia terpecah-belah menjadi sejumlah negara, dan
diceritakan dalam buku ini. Terbukanya Australian Archieves memberikan
kejelasan itu.
Buku ini laris manis, hendak dicetak ulang, tetapi rencananya mau ditambahin
dengan riset lanjutan di Australia, Inggris, Singapura. Pak Hadi mengatakan
bahwa pejabat kedubes Australia denganbecanda bilang padanya: "Pak Hadi,
kami akan beli buku itu, lalu membuangnya ke laut, he..he...he".
Waktu diluncurkan, saya kebetulan membedah buku ini. Pak Hadi ini juga bekas
boss tempat saya bekerja di STIE Pramita Tangerang. Beritanya dimuat Kompas.
Kalimat saya yang dimuat Kompas, sejak awal saya kutip dari Ketua Partai
Buruh (Oposisi) Australia, yang menyatakan bahwa sebagai wakil sheeriff
Howard jauh lebih "galak" dari Sheeriffnya, USA. Juga ada berita detik.com.
Sampai kini, belum ada kelanjutan berita ini.
=======================================
Resensi Buku:
Kanguru Meloncat dalam PRRI/Permesta
Judul : Keterlibatan Australia dalam Pemberontakan PRRI/Permesta
Penulis : Hadi Soebadio
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002
Halaman : 359 & xxxvii
Bisik-bisik keterlibatan Amerika dan Australia dalam PRRI/Permesta sudah
lama terjadi di kalangan sejarawan. Leirissa menyebutkan bahwa pendapat yang
mengatakan PRRI/Permesta adalah buatan CIA bertentangan dengan data yang
dikumpulkan dalam bukunya, PRRI/Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa
Komunis (PT Pustaka Utama Grafiti, 1997, hal. 194). Bahkan buku Hilman Adil,
Hubungan Australia dengan Indonesia 1945-1962 (Djambatan, 1993, hal. 159)
hanya berisikan pernyataan resmi Menteri Luar Negeri Australia, R.G. Casey,
bahwa Canberra akan setia pada kebijaksanaan “netralitas yang tegas” atas
situasi pergolakan di Sumatera dan Sulawesi. Padahal usaha untuk
mengungkapkan keterlibatan asing itu sudah dilakukan, terutama lewat
penuturan pelaku sejarah, seperti tertulis dalam monograf Barbara S. Harvey,
Permesta: Half A Rebellion (Publication No. 57, Cornell Modern Indonesia
Project, Southeast Asia Program, Cornell University, Ithaca, New York, 1977,
hal. 106-107, sub judul “Foreign Assistance”). Tetapi informasi ini tertutup
rapi, mengingat belum tersedianya dokumen-dokumen tertulis.
Baru setelah terbitnya laporan Audrey R. Kahin dan George McT. Kahin
berjudul Subversi Sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA
di Indonesia (Pustaka Utama Grafiti, 1997) berbagai informasi terhidang
tentang peranan Central Intelligence Agency (CIA) dalam sejumlah gejolak
hubungan pusat dan daerah, terutama sepanjang tahun 1950-1963, usai
penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia akhir tahun 1949.
Seolah melengkapi apa yang sudah diungkapkan oleh suami-istri Kahin, Hadi
Soebadio memberikan paparan yang lebih lugas dan rinci dalam buku berjudul
Keterlibatan Australia dalam Pemberontakan PRRI/Permesta ini. Sekalipun
tidak disebutkan dalam bukunya, buku ini rencananya menjadi bahan disertasi
Soebadio di salah satu universitas di Australia yang sayangnya tak selesai.
Tapi sumbangan buku ini tak kurang artinya bagi kemajuan ilmu pengetahuan,
menjelang usia Soebadio yang ke-68 tanggal 1 Desember 2002 nanti.
Buku ini terdiri dari 7 bab, tetapi hanya tiga bab yang menguraikan hubungan
Indonesia-Australia. Bab 4: “Wujud Politik Australia terhadap Indonesia
1949-1962” secara substansi sebangun dengan buku Hilman Adil, yaitu lebih
menyangkut kasus Irian Barat yang hendak direbut Indonesia dari tangan
Belanda. Baru Bab 5: “Keterlibatan Australia dalam Pemberontakan
PRRI/Permesta” menguraikan perspektif Australia dalam episode pergolakan di
sejumlah daerah di Indonesia ini.
Selanjutnya, Bab 6: “Dinamika Perang Dingin Terhadap Hubungan
Australia-Indonesia” memperlihatkan pasang-surut pilihan politik pemerintah
Australia, terutama berkaitan dengan pemberontakan, juga status Irian Barat.
Pergulatan pikiran kalangan pemerintahan Australia juga digambarkan,
termasuk perubahan politik luar negeri Australia yang sebelum Perang Dunia
II adalah: “Doktrin bahwa Australia akan pergi kemana Inggris pergi dan
berperang dimana Inggris berperang,” menjadi bersifat “Khas Australia” usai
Inggris menarik diri dari Pacifik. Sedangkan Bab 7: “Kesimpulan” merupakan
ringkasan keseluruhan isi buku dalam sebelas item.
Soebadio lumayan berhasil memberikan informasi tambahan dari dokumen rahasia
pemerintah Australia yang sudah bisa diakses publik. Intinya, dilema
Australia menghadapi Perang Dingin, khususnya meluasnya pengaruh kelompok
komunis di sekitar pemerintahan Soekarno di Jakarta; dan trauma Perang Dunia
II sebelum Amerika terlibat sehingga Australia terus ketakutan menghadapi
bahaya invasi militer Jepang di Pasifik. Ketakutan Australia juga terjadi
sehubungan dengan sikap Amerika yang lebih memilih berunding dengan negara
induk Australia, yakni Inggris, ketimbang “melirik” ke Australia. Dalam
fase-fase paska PD II inilah, terjadinya PRRI/Permesta yang memberi ruang
inovasi bagi Australia untuk meningkatkan perannya, sebagai sekutu baru
Amerika dalam membendung pengaruh komunisme di Asia Pasifik.
Buku 359 halaman ini, ditambah dengan 37 (xxxviii) halaman pendahuluan,
sebetulnya relatif sedikit menguraikan judul bukunya. Hanya halaman 210-211
dan diteruskan dengan halaman 223-264 (keseluruhan 43 halaman) yang
menguraikan judul buku. Soebadio rupanya belum berhasil memastikan apa
bantuan persenjataan Australia benar-benar ada, atau “baru sekedar wacana”,
sebagaimana kecenderungan yang berkembang di Indonesia sekarang. Soebadio
menulis: “Walaupun keterlibatan Australia dalam pemberontakan ini sukar
ditentukan secara pasti, terutama peran ASIS (Australian Secret Intelligence
Service), namun terdapat bukti yang makin banyak bahwa pemerintah Australia
pada saat itu terlibat pemberontakan dan memberikan dukungan kepada CIA
dengan bantuan departemen pertahanan (hal. 212). Bentuk keterlibatan
Australia itu bukan hanya berupa simpati, tetapi Australia sesungguhnya
memberikan bantuan berupa perangkat lunak, serta berupa bantuan berupa
peralatan perang dan fasilitas-fasilitas lain (hal. 226).
Kesimpulan umum buku ini terdapat dalam kalimat: “Kalau dipelajari dengan
seksama, dokumen-dokumen yang ada di Australian Archives yang disimpan di
Canberra, menunjukkan bahwa politik Australia terhadap pemberontakan dalam
negeri Indonesia antara ucapan di muka umum dan tindakan pemerintah
Australia sangat berbeda” (hal. 228-229). Yang menjadi penghubung “bantuan
simpati” adalah Soemitro Djojohadikusumo dari pihak PRRI/Permesta, dan
Critchley sebagai Australian High Commisioner di Malaysia, terutama dengan
keluarnya semacam memorandum tanggal 24 Desember 1957.
Sedangkan jenis bantuan material hanya disebutkan Casey sudah diserahkan
dari berbagai markas (hal. 249), tetapi tidak sedetil bantuan senjata oleh
CIA yang beberapa kali disinggung dalam buku ini.
Sekalipun kurang begitu meyakinkan bahwa Australia benar-benar terlibat
dalam pemberontakan PRRI/Permesta, Soebadio memberikan sistem berpikir dalam
politik hubungan luar negeri Australia dan Amerika. Mudahnya Australia
mengalihkan dukungan kepada Nasution dan kawan-kawan di Jakarta, juga
keterkejutan atas cepatnya pergerakan pasukan Angkatan Perang Republik
Indonesia menduduki Pekanbaru dan Padang, serta mulainya kesadaran Amerika
dan Australia bahwa Nasution dan kawan-kawan juga anti pada komunis,
menunjukkan identitas politik luar negeri Australia dan Amerika untuk
mengutamakan kepentingan mereka sendiri. Membaca uraian dalam buku ini
memperlihatkan bahwa Australia dan Amerika relatif belum berubah dalam
memberlakukan rezim politik dan militer Indonesia, baik dalam kasus Timor
Lorosae, maupun dalam menggalang kekuatan menghadang kelompok terorisme
internasional. Hal itulah yang menutupi sejumlah kelemahan teknis, juga
kekurangan analisa, dalam buku ini, termasuk ketakterlibatan editor bahasa
sebagai koki yang mestinya akan memberi bobot tersendiri.
(Indra J. Piliang, peneliti politik dan perubahan sosial Center for Strategic
and International Studies (CSIS), Jakarta. Lulusan Ilmu Sejarah Fakultas
Sastra UI.)
Sumber: Info & Arsip Milis Nasional: http://www.munindo.brd.de/milis/
|