|
Jumat, 2 November 2001 Ribuan Eks Permesta, Banjiri Bukit Inspirasi Ikaselanpe Akan Dirikan Perguruan Tinggi
TOMOHON-Bukit Inspirasi kemarin (2/11/2001) menjadi ajang reuni
para eks pejuang Permesta. Dihadiri langsung oleh mantan komandan Permesta om Ventje Sumual, apel
akbar ini mampu menyedot ribuan mantan pejuang Permesta yang tersebar di tanah Toar Lumimuut ini
untuk menghadirinya. Kemeriahan acara ini turut ditambah pula dengan kehadiran mantan Gubernur
Sulut EE Mangindaan yang akrab disapa Lape.
Apel akbar ini selain merupakan ajang baku dapa sesama mantan pejuang Permesta, juga merupakan acara
pengukuhan dan pelantikan pengurus Ikaselanpe (Ikatan Persaudaraan Alumni Sekolah Peralihan Permesta)
Sulut. Dengan ketua umumnya Prof Ir Octavianus Rondonuwu Mec.
Gedung kebanggan masyarakat Kota Tomohon kemarin benar-benar ditutupi oleh ribuan manusia yang
berpakaian hitam, merah, dan bahkan seragam tentara yang dipakai oleh para eks Permesta yang rata-rata
sudah berusia lanjut. Meski pun begitu, tidak membuat semangat mereka untuk datang menjadi kendor.
Pelantikan pengurus Ikaselanpe Sulut sendiri dilakukan langsung oleh ketua umum Ikaselanpe Jakarta
yakni Benny Tengker dan pengukuhannya oleh panglima Permesta om Ventje Sumual. Pelantikan dan
pengukuhan pengurus Ikaselanpe ini sendiri ditandai dengan bunyi dentuman drumband yang dibawakan
kelompok drum band dari AMI Bitung.
Dalam sambutannya Rondonuwu menyampaikan, untuk program jangka pendek ke depan ini Ikaselanpe Sulut
akan mendirikan lembaga pendidikan dalam hal ini mendirikan perguruan tinggi permesta. Lebih spesifik
lagi perguruan tinggi yang bakal didirikan itu adalah Sekolah Tinggi Manajemen. Lokasinya sendiri
kata Rondonuwu, berada di Minahasa karena lahannya sudah tersedia.
Lahan tersebut berada di Lopana Kecamatan Tombasian-Amurang. ''Lahan itu merupakan sumbangan dari
EE Mangindaan kepada Ikaselanpe,'' tutur Rondonuwu sembari menyatakan terima kasih kepada Mangindaan
yang saat itu turut hadir. Pernyataan itu langsung mendapat sambuatan meriah dari ribuan massa yang
ada. (jkt)
Eks Permesta Berkumpul Lagi Dalam Apel Akbar Melepas Rindu Bersama Sang Panglima Tommy Waworundeng & Arline Tandiapa
EMPAT puluh tiga tahun lalu, atau pada tahun 1958, di mana pecahnya perang atau perjuangan
semesta (Permesta), waktu tempuh yang jaraknya dari daerah Tonsea menuju ke Tomohon kurang lebih
enam jam. Maklum saat itu selain belum ada kendaraan umum, para pejuang Permesta tak menggunakan
jalan umum untuk bepergian dari daerah satu ke daerah lain -nanti ketemu tentara pusat. Akhirnya
jalan satu-satunya masuk keluar hutan.
Tapi sekarang dari daerah Tonsea ke Tomohon hanya bisa ditempuh dengan waktu satu sampai dua jam,
tentunya dengan menggunakan kendaraan mobil. Namun rupanya kemajuan zaman itu entah tak disadari
atau ada sisa-sisa disiplin yang baik sebagai pejuang Permesta, tak disadari oleh EKY Worotikan
dan Uce Lasut, dua orang eks Permesta yang mengaku datang dari salah satu desa yang masih daerahnya
Tombulu dan berbatasan dengan daerah Tonsea itu datang sekitar pukul 10.00.
Padahal jadwal apel akbar para mantan pejuang Permesta sudah diumumkan akan berlangsung pukul 14.00
Wita, atau jam dua menjelang sore. Namun kedua eks Permesta ini sudah tiba di lokasi atau tempat
pelaksanaan apel akbar di Auditorium Bukit Inspirasi Tomohon, lima jam lebih awal dari jadwal
pertemuan.
Kedua lelaki yang tampaknya sudah berusia 70-an itu, mengaku datang dari kampungnya sekitar pukul
08.00 Wita. ''Torang dulu kwa waktu Permesta kalau ada pertemuan di Desa Woloan atau Tara-Tara jam
12 malang, torang datang dari kampung sekitar jam enam sore. Karena perjalanannya dari kampung
sampe di Tomohon biasa jaga anam jam,'' kata kedua pria yang sudah lanjut usia itu.
Mereka tidak tahu kalau dulu jalan kaki dan sekarang naik kendaraan. Ketika mereka datang dari
kampung pukul 08.00, pada pukul 10.00 Wita sudah tiba di Tomohon. Dan rupanya bukan hanya Lasut
dan Worotikan yang tiba lebih awal dari jadwal. Tampak ada puluhan eks Permesta lainnya juga yang
tiba di lokasi apel akbar sejak pagi, padahal acaranya siang menjelang sore.
Auditorium Inspirasi siang itu suasananya tampak penuh dengan rasa haru. Lasut mengaku baru kali
ini kembali bertemu langsung dengan om Ventje Sumual, panglima mereka pada masa pergolakan, setelah
sekitar 40 tahun berpisah. Ada beberapa eks Permesta yang tampaknya sudah tak lagi saling mengenal.
Mereka saling berbisik satu sama lain, menanyakan kepada teman mereka, apakah mantan komandan mereka
di masing-masing batalion ada hadir atau tidak. ''Len Karamoy ada datang atau nyanda?'' tanya
seorang pria tua kepada temannya di samping. Lefrand Karamoy adalah saudaranya Dan Karamoy, mantan
panglima batalion Sambar Nyawa. Sambar Nyawa adalah salah satu pasukan batalion milik Permesta yang
sangat ditakuti saat itu.
Ada juga yang bertanya, ''Nun Pantaouw ada datang atau nyanda?'' Serta nama-nama mantan pemimpin
lainnya. Mereka tampaknya rindu untuk bertemu kembali dan memberi salam kepada teman-teman sesama
eks pejuang Permesta.
Suasana makin haru ketika sang panglima Ventje Sumual tampil di podium dan meneriakan yel hidup
Permesta. Suara itu pun disambut dengan pekikan yang sama 'hidop Permesta.' Walau pun umumnya
sudah lanjut usia, namun tampaknya masih mau kalau disuruh berperang lagi dan masuk ke luar hutan.
Usai meneriakan yel hidop Permesta, Ventje Sumual yang masih gagah dan tegap, lantas menyampaikan
sambutannya. Pertama, selaku penasehat Ikaselanpe, satu-satunya organisasi milik Permesta, ia
menegaskan kalau Permesta atau perjuangan semesta itu ditujukan untuk memperjuangkan pembangunan
secara semesta dan pembangunan multi dimensional.
Pembangunan semesta meliputi pembangunan segala bidang yang merata bagi seluruh masyarakat dan
semua daerah, ditopang oleh pemerataan partisipasi politik masyarakat atau yang lazim disebut
sistem demokrasi, berikut segala implikasinya seperti otonomisasi daerah serta penegakan hukum
untuk keadilan dan hak asasi manusia.
Mantan panglima teritorium VII/wirabuana ini menegaskan, di sinilah kebangkitan kembali Permesta
lewat kehadiran Ikaselanpe beserta segenap komponen masyarakat. Ia menyentil soal sistem
demokratisasi, otonomisasi daerah, penegakan keadilan dan HAM yang saat ini tidak nyata dalam era
reformasi. Padahal hal-hal demikianlah yang sedari awal diperjuangkan oleh permesta.
Dalam akhir amanatnya kepada para eks pejuang permesta dan kepada Ikaselenpe, Sumual menegaskan
kalau saat ini merupakan saat yang tepat untuk menjadikan daerah sebagai sarana yang membawa
kebahagiaan anak cucu sekaligus menjadikan daerah ini sebagai mercusuar yang menjadi pusat teladan
kehidupan politik, eknomi dan kebudayaan yang unggul.
Selanjutnya ketua umum Ikaselanpe Jakarta Benny Tengker dalam sambutannya, menyatakan kalau
nilai-nilai perjuangan Permesta sejak 44 tahun lalu sudah diyakini kebenarannya. Sebab itu
nilai-nilai perjuangan permesta itu wajib ditumbuhkembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan
situasi dan kondisi saat ini dan antisipasi terhadap perkembangan di masa datang, karena hal ini
merupakan wujud nyata dari rasa tanggung jawab semua terhadap NKRI, Pancasila dan UUD 1945.
Atas nama Permesta, Sumual dan Tengker kemudian menyampaikan penolakan keras dan menentang Piagam
Djakarta dan syariat Islam untuk diagendakan dalam setiap sidang DPR RI dan MPR RI. Juga menolak
dan menentang setiap upaya pelanggaran hukum dan hak asasi manusia di seluruh RI termasuk aksi
sweeping yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak berwenang. Serta, menolak dan menentang
adanya komunis dalam pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (***)
Sumber:
|
Copyright © 2003 Permesta Information Online™
Silahkan menyalin atau mengutip isi atau sebagiannya dengan mencantumkan sumber
"dikutip dari Permesta Information Online"