|
In Memoriam AE Kawilarang
oleh: S.E.Panggey Rasanya semua orang di Kawasan Timur Indonesia dimasa kepemimpinan Presiden Soekarno, bukan hanya mengenal tapi pasti mengagumi tokoh militer yang namanya A.E.Kawilarang atau yang biasa mereka panggil Bung Lex. Malahan karena keterlibatannya dalam banyak peristiwa perang kemerdekaan di Jawa danSumatra, hampir dapat dipastikan nama putra Manado kelahiran Jakarta itu, sangat dikenal luas di seluruh nusantara, bahkan sampai ke Istana Merdeka. Bung Lex pernah menjadi kebanggaan Presiden Soekarno ('anak mas', webmaster), karena keberhasilannya menumpas Pemberontakan Republik Maluku Selatan, yang dianggap Bung Karno telah membangkang. Ketika itu ia meninggalkan posnya seagai Atase Militer RI di Washington pada tahun 1958 dan pulang ke Manado bergabung dengan Permesta. Maka dari itu, meninggalnya Kolonel (Purn) Alexander Evert Kawilarang (80), bertepatan hari jadi Bung Karno pada Selasa (6/6) lalu menjadi topik pembicaraan. Bukan saja oleh keluarga besar Kawanua, bahkan di kalangan politisi dan petinggi militer negeri ini. Memang, nama besar Kawilarang, sulit dipisahkan dengan jalannya sejrah Negara Kesatuan Republik Indonesia, terutama yang erat kaitannya dengan upaya menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Ia diketahui pernah menjadi Panglima TT I Bukit Barisan di Sumatra, kemudian Komandan TT VII Indonesia Timur bermarkas di Makassar pada tahun 1950. Dan pada saat itu, ia ersama Letkol Slamet Rijadi telah ditugasi memimpin Operasi Senopati untuk menumpas Republik Maluku Selatan (RMS). Setelah sukses menumpas RMS, ayah dari pengusaha Edwin Kawilarang ini, kembali diber tanggung jawab berat menjadi Panglima TT III Siliwangi. Pada saat itu, ia merintis pembentukan pasukan khusus yang semula diberi nama Kesatuan Komando Territorium III. Cuma setahun usia PAsukan KOmando TT III itu, telah diambil alih oleh Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Dan ini cikal bakal lahirnya Komando Pasukan Khusus (Kopassus), pasukan elit TNI-AD. makanya jenasah mantan Panglima Tentara & Territorium III (kini Kodam III Siliwangi) telah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra Bandung, Kamis kemarin. Buku Pengabdian Korps Baret Merah Abad XX terbitan Markas Komando Kopassus TNI AD (Jakarta: Januari 2000) menyebutkan, putera Manado (sulawesi Utara) Kelahiran Jakarta 23 Februari 1920 ini termasuk penggagas berdirinya Korps Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD. Sebagai Panglima Tentara Territorium VII/Indonesia Timur tahun 1950 dia bersama Letkol (Inf) Slamet Rijadi, terlibat akti dalam operasi militer bersandi "Operasi Senopati" menumpas gerakan makar pasukan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku. "Saat menggempur RMS, saya melihat pasukan paratroop RMS sangat hebat," katanya kepada sebuah majalah Ibu Kota setahun silam mengenang gagasan Slamet Rijadi untuk membentuk pasukan komando yang tangguh dan dapat diandalkan itu. Maka saat dipercaya menjabat Panglima TT III/Siliwangi, Alex Kawilarang mulai membentuk pasukan khusus itu. Meski sejarah mencatat peran besar Alex kawilarang sebagai salah satu pengagas erdirina Kopassus TNI AD, namun nyatanya baru setahun lalu- persis ketika Kopassus memperingati HUT ke-47 tanggal 15 April 1999- mendiang secara resmi menerima brevet komando kehormatan, pisau komando, dan baret merah- tanda resmi menjadi anggota kehormatan Korp Baret Merah. Panglima Besar Permesta Setiba di Manado, Kawilarang langsung dipercaya pucuk pimpinan Permesta menjadi pimpinan tentara, sehingga digelari Panglima Besar. Yang unik dalam melaksanakan tugasnya sebagai pucuk pimpinan Angkatan perang permesta, Kawilarang nampak begitu santai saat terjun memeriksa pasukan. Malahan sering terjadi anekdote, di mana pasukan Permesta apalagi mereka yang tidak berlatar belakang pendidikan militer, mencegat sang Panglima Besar dengan kasar. Tapi begitu (tahu) bahwa yang mereka hadapi adalah justru Kawilarang, tak jarang banyak yang berbalik menjadi gemetaran. Kisah lain yang unik, begitu diketahui oleh Pusat (sebutan untuk pasukan TNI oleh Permesta) bahwa Kawilarang berada di lokasi yang menjadi sasaran operasi, konon mereka tidak menembak betulan, hanya layaknya latihan, sebaliknya pasukan Permesta juga berbuat serupa. Kabarnya lakon itu terjadi, karena pasukan yang diterjunkan adalah justru bekas anak buahnya Kawilarang. Malahan tidak jarang, ada bekal dari TNI yang tertinggal atau mungkin sengaja ditinggalkan. Satu hal yang pasti, di mana Panglima Besar Permesta itu terlibat pertempuran, hampir pasti tidak ada yang korban. Tapi gara-gara keterlibatan langsung Kawilarang dengan Permesta itu pula, secara ertahap tapi pasti, nama esarnya mulai dipreteli. Buktinya di Manado sendiri. Untuk menghormati kebesaran Alex Kawilarang, sebuah taman di pusat kota Manado (tepatnya di Pasar 45) pada tahun 50-an telah diberi nama Taman Lex Kawilarang. Namanya sudah diubah menjadi Taman Sapta Marga, kemudian terakhir diubah lagi menjadi Taman Kesatuan Bangsa. Bukan cuma nama besarnya yang dicoret dari Manado, tapi pangkatnya. Gara-gara Permesta itu, sejak tempo dulu sampai wafatnya tetap saja Kolonel. Sekalipun harus diakui, bahwa di masa kepemimpinan Presiden Soeharto, tokoh militer yang satu ini, cukup lama dipercaya sebagai penasihat militer. Skeptis Tentang Bung Karno Seperti telah diutarakan semula, mengutip keterangan para kerabat Kawilarang, Bung Karno yang pernah amat mengaguminya, belakangan menjadi gusar karena keputusannya bergabung dengan Permesta. Gayng rupanya bersambut, ternyata figur militer yang satu ini, juga sulit menyembunyikan kekesalannya terhadap Bung Karno. Hal itu tersirat dari percakapan awal pertemuannya dengan JJ Pitoy yang dihadiri penulis. Saya sendir tidak tahu persis, bentuk dan sifat pertemuan itu. Tapi yang pasti, Pitoy yang waktu itu datang ke Woloan, Tomohon, atas penugasan pemerintah pusat, begitu berjabat tangan, langsung membuka percakapan dengan kata-kata: "Bagaimana denagn Soekarno-mu ?". Ia terus melanjutkan kata-kata yang bernada sindiran terhadap Bung Karno begitu berjabat tangan tangan dengan penulis yang oleh Mr Pitoy diperkenalkan sebagai wartawan Permesta yang baru saja keluar bui (penjara). Memang penulis lebih dua tahun berada dalam tahanan karena sebagai wartawan telah ikut mendarat ke Morotai dengan Permesta pimpinan Sumual-Nun Pantouw. Dari situ, tergambar bahwa Kawilarang juga bersikap skeptis terhadap Bung Karno. Boleh jadi juga karena ketika yang bersangkutan menjadi Panglima TT III Siliwangi, ia pernah terlibat dalam pertarungan politik yang cukup seru, bahkan pernah nyaris menangkap seorang Menteri. Selamat Jalan Prajurit, The Old Soldier Never Die!!! Sumber: Harian
Telegraf No.222/TH.II - Jumat, 9 Juni 2000
Jumat, 9 Juni 2000 AE Kawilarang Dimakamkan Bandung, Kompas Jenazah Kolonel (Purn) Alexander Evert Kawilarang, Kamis (8/6) dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra Bandung dalam upacara militer. Pangdam Siliwangi Mayjen TNI Slamet Supriyadi yang bertindak selaku inspektur upacara, menilai almarhum adalah sosok prajurit profesional yang senantiasa hidup dalam kesederhanaan hingga akhir hayatnya. "Beliau hidup sederhana dan tak pernah macam-macam. Kesederhanaan dan semangat keprajuritannya yang antara lain mencetuskan gagasan pembentukan Korps Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat (dulu bernama RPKAD), perlu ditiru oleh generasi penerus," ujar Pangdam Siliwangi. Dalam upacara yang diwarnai tembakan salvo oleh satu regu Kopassus TNI AD tersebut tampak hadir sejumlah mantan tokoh militer yang juga sesepuh Jabar, di antaranya Letjen TNI (Purn) Mashudi dan Letjen TNI (Purn) Solihin GP. Sementara di antara keluarga almarhum tampak, Ny Nelly Betsy Kawilarang (istri) dan tiga putra-putrinya, yakni Aisa Kawilarang, Edwin Kawilarang, dan Pearl Kawilarang. Sebelum diberangkatkan ke kompleks TMP Cikutra, jenazah mantan Panglima Tentara Teritorium III tahun 1951 (kini Kodam Siliwangi) itu disemayamkan di markas Kodam Siliwangi. Putra Minahasa kelahiran Jakarta 23 Februari 1920, meninggal dunia di Jakarta Selasa lalu karena sakit. Almarhum terakhir berdinas sebagai Atase Militer di Washington DC (AS) tahun 1956-1958. Semasa hidupnya almarhum sekurangnya menyandang sembilan tanda jasa dari negara. Di antaranya, Bintang Gerilya. (nar) Sumber: KOMPAS Cyber Media - Jumat, 9 Juni 2000 Kamis, 8 Juni 2000 Kolonel (Purn) Alexander Evert Kawilarang (80) yang akrab dikenal dengan panggilan Alex atau AE Kawilarang, Selasa (6/6) pukul 23.20, meninggal dunia setelah beberapa waktu menderita sakit. Seperti diungkapkan salah satu keponakan almarhum, Kikin, kepada Kompas, menurut rencana, jenazah mantan Panglima Tentara Teritorium III (kini Kodam III) Siliwangi ini akan diberangkatkan menuju Bandung, Jawa Barat, Kamis pukul 05.00, untuk kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra Bandung. Buku Pengabdian Korps Baret Merah Abad XX terbitan Markas Komando Kopassus TNI AD (Jakarta: Januari 2000) menyebutkan, putra Manado (Sulawesi Utara) kelahiran Jakarta 23 Februari 1920 ini termasuk penggagas berdirinya Korps Komando Pasukan Khusus (Ko-passus) TNI AD. Sebagai Panglima Tentara Teritorium VII/Indonesia Timur tahun 1950 dia bersama Letkol (Inf) Slamet Rijadi terlibat aktif dalam operasi militer bersandi "Operasi Senopati" menumpas gerakan makar pasukan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku. "Saat menggempur RMS, saya melihat pasukan paratroop RMS itu sangat hebat," katanya kepada sebuah majalah Ibu Kota setahun silam mengenang gagasan Slamet Rijadi untuk membentuk pasukan komando yang tangguh dan dapat diandalkan itu. Saat menjabat Panglima TT III/Siliwangi, Alex Kawilarang mulai membentuk pasukan khusus yang belakangan disebut Kesatuan Komando Teritorium III yang setahun kemudian diambil alih oleh Markas Besar Angkatan Darat. Meski sejarah mencatat peran besar Alex Kawilarang sebagai salah satu penggagas berdirinya Kopassus TNI AD, namun nyatanya baru setahun lalu -persisnya ketika Kopassus memperingati HUT ke-47 tanggal 15 April 1999-mendiang secara resmi menerima brevet komando kehormatan, pisau komando, dan baret merah-tanda resmi menjadi anggota kehormatan Korps Baret Merah. Di luar dinas ketentaraan sebagai Panglima TT 1 Bukit Barisan Sumatera Utara, Alex Kawilarang sempat menjadi Atase Militer di Kedubes RI di Washington DC sejak September 1956-Maret 1958. Almarhum meninggalkan istri, Ny Henny Olga Kawilarang-Pondaag, dan tiga anak. (ryi) Sumber: KOMPAS Cyber Media - Kamis, 8 Juni 2000
Biodata | Biografi Singkat | Kopassus | In Memoriam [1] | In Memoriam [2] |
||||||||||||||||||||||||
Copyright © 2003 Permesta Information Online™
Silahkan menyalin atau mengutip isi atau sebagiannya dengan mencantumkan sumber
"dikutip dari Permesta Information Online"