Would you like to make this site your homepage? It's fast and easy...
Yes, Please make this my home page!
Anda Pengunjung ke:
443
Perayaan Yubileum 50 Tahun PERMESTA di Sulawesi Utara
Ini bukan cirita abad ke-19, Opo Dotulong deng opo Sigar da tangka tu Pangeran Diponegoro di Jawa ...

Ini juga bukang cirita tahun 1958-1961 ...

di mana sudara saling bunung ...
Maar ini cirita sekarang ...
Dunia so berubah,
dunia so maso Milenium ke-3, so banyak almenium beredar di pasaran ...
Sekarang fajar baru so basinar pa Minahasa pe alam ...

Pulau Manado Tua di muka Teluk sManado
22 Februari 2007
Rombongan pertama kawanua dari Jakarta yang mo iko acara Yubelium Permesta

Sampe di Bandara Sam Ratulangi di Mapanget...
23 Februari 2007
Mengenang Panglima Besar Permesta, Jenderal Mayor Revolusioner Alexander Evert Kawilarang,
Ziarah ke Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung, dimana jenasah Panglima Kawilarang terbaring...

Kolonel Alex Kawilarang ...
(1920-2000)
pendiri Kopassus
26 Februari 2007

Kota Manado yang kucintai... kita nyanda mo lupa...

Memori dan nostalgia

Arie W. Supit

Letkol Ventje Sumual deng Mayor D.J. Somba di Munas Jakarta 1957

Kolonel Joop Warouw, Panglima TT-VII/Wirabuana

Dua-dua orang Minahasa pe gaco' ... maar, dua-dua da mati di tangan anak buah sendiri ...
Letkol Joop Warouw mati dibunuh tahun 1960, Letkol Adolf Lembong mati dibunuh 1950.
Satu oleh mantan anak buahnya waktu Permesta (Bri 999), satu mantan anak buahnya waktu
Revolusi Kemerdekaan Indonesia (KRIS, kemudian membelot ke APRA).
Potret diri dua pemimpin militer Minahasa, foto tertanggal 18 Januari 1950, seminggu
sebelum Letkol Adolf G. Lembong tewas di Bandung
28 Februari 2007
Ibadah pemindahan dan pengburan kembali kerangka Prof. DR. Med. Samuel Jusof Warouw &
istrinya Rosalia Wulankajes Tilaar dari Makassar ke kelurahan Bitung di kota Amurang.
Dari rumah alm. Prof. Warouw di Kakaskasen III, terus ke rumah keluarga di Bitung, lalu
dikuburkan di pekuburan umum kelurahan Bitung, Amurang.

Inilah rumah Prof. DR. Med. S.J. Warouw, mertua Ventje Sumual

Prof DR. Med. Semuel Jusof Warouw
(Amurang, 23 Februari 1900 - Ujung Pandang, 22 Oktober 1983)
Mantan Perdana Menteri Negara Indonesia Timur (NIT)
Mantan Rektor pertama UKIT (PTTh)
Kamis, 1 Maret 2007
Peluncuran buku "Permesta Bukan Separatis" (wawancara Ventje Sumual oleh Benni Matindas) &
"Apa Beda Permesta dan PRRI" oleh B.E. Matindas, Bert Supit, J.H. Nainggolan diadakan di
Bukit Inspirasi Tomohon. Dengan pembicara a.l. Prof. DR. Adri B. Lapian, dll

Buku "Permesta Bukan Separatis"

Terbitan ulang, buku "Apa Beda Permesta dan PRRI"
Jumat, 2 Maret 2007
Ini tampa acara puncak HUT ke-50 Tahun (Yubileum) PERMESTA ...
Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Utara, di Jl. 17 Agustus Manado

Bendera Permesta tegar mekar di muka Kantor Gubernur Sulut ...

Ini lei tu satu...

Gubernur Sulut, Drs. Sinyo H. Sarundajang bilang,
Cita-cita Permesta itu butul...
Waktu itu kita masih kecil, (NB: SHS lahir tanggal 16 Januari 1945)
kita mo mendaftar jadi pasukan (Corps Tentara Pelajar)
maar kita pe badang masih pendek, jadi nda da trima ...

Sinyo sedang memberikan kata sambutan
Sammy Supit, Benny Tengker, Ventje Sumual, Frans Tular, dll


images/

Opa Ventje Sumual

ex. Mayor Beto Umboh

Benny Tengker alias Benteng

Ketua Korps Permesta Sulut, Sammy Supit, Mrn. Eng. sedang diwawancarai

Ketua Panitia, Ibu Greity Kawilarang

Opa Jantje Malingkono, termasuk terakhir menyerah kepada Pusat karena merasa tidak adil
rekan-rekan sesama ex Permesta diperlakukan Tentara Pusat saat ex Permesta disalurkan
ke masyarakat dan "ditawan" di kamp rehabilitasi di Jawa Timur.

Ada tu opa bilang, tu meriam PSU di muka kantor gub ini kacang-kacang deng dia da pegang waktu
Permesta dolu-dolu.
Sabtu, 3 Maret 2007


Minggu, 4 Maret 2007
Perayaan Yubileum Permesta diadakan acara ibadah syukur di desa Kotamenara, di kaki gunung Soputan.
Dulu di sini ada markas pusat pemerintahan sipil Permesta. Ada kantor D.J. Somba, Percetakan Permesta,
Radio Zender Permesta, dll.
Perayaan dirangkaikan dengan HUT desa Kotamenara.
Tunggu dulu kote'! Tu kubur Permesta di desa Senduk, perbatasan Kabupaten Minahasa dan Minsel,
dorang ndak da kase bersih depe rumpu kong ba ziarah akang.
Kasiang, padahal kuburan itu jelas skali depe nama di gapura da ta tulis pe besar-besar...
Spanduk selamat datang menyambut para tamu di pertigaan Malenos-Tumpaan-Amurang...


sama kang...

Torang lewat di Gereja GMIM Malenos baru. Tampa ini dulunya adalah lapangan tampa "Penyelesaian Permesta" -
Perdamaian antara Permesta-Tentara Pusat tanggal 4 April 1961. Di sini D.J. Somba menyatakan
"kembali ke pangkuan ibu pertiwi"


TUGU PERINGATAN: PENYELESAIAN PERMESTA -- 4 APRIL 1961
Pernyataan Panglima KDM-SUT Permesta untuk Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi
tanggal 4 April 1961 di Malenos
1. Setelah membatja seruan Menteri Keamanan Nasution/KSAD tertanggal 3 Maret 1961;
2. Mengingat keputusan terachir dari putjuk pimpinan Angkatan Perang Revolusioner;
3. Menimbang, bahwa persengketaan antara kita dengan kita jang telah berlangsung
selama 3 tahun ini, telah meminta pengorbanan jang tidak terhingga dari rakjat
Indonesia pada umumnja dan rakjat Sulawesi Utara dan Tengah pada chususnja
sehingga kami telah sampai pada kesimpulan bahwa keadaan sematjam ini tidak
dapat dibiarkan terus;
4. Demi untuk keselamatan dan kesentosaan bangsa Indonesia, rakjat dan daerah
Sulawesi Utara/Tengah chususnja, persengketaan tersebut perlu segera dihentikan.
Maka oleh karenanja dengan ini menjatakan bahwa mulai tanggal 4 April 1961,
kami dengan seluruh pasukan dan rakjat Permesta jang berada dalam lingkungan
pimpinan kami telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi;
5. Segala persoalan jang timbul sebagai akibat daripada penghentian persengketaan
ini, akan diatur oleh jang diwajibkan untuk itu oleh pemerintah RI;
6. Semoga Tuhan Jang Maha Esa melimpahkan rahmat, hidajat serta taufikNja atas
kita sekalian.
Disaksikan/mengetahui Ditempat, 4 April 1961
Panglima KODAM XIII/ Panglima K.D.M. S.U.T.
Penguasa Perang Daerah
Sulawesi Utara/Tengah ttd
ttd
Soenandar Prijosudarmo (D.J. Somba)
Kol. Inf. Nrp 10827
Ini komang torang so maso di desa Kotamenara...





Sambutan H.N Sumual
Pada Ibadah Syukuran Yubelium Permesta dan Pencanangan Permesta Resort Tanggal 4 Maret 2007 di Kota Menara
Salam sejahtera bagi kita semua.
Para hadirin sekalian, para Pejabat Sipil - Pemerintah Provinsi Sulut dan Pemda Kabupaten Minahasa Selatan, serta segenap jajarannya. Pejabat Militer dan Kepolisian, para pemuka agama dan tokoh masyarakat, serta semua undangan yang hadir. Teristimewa seluruh mantan pejuang, pembela Piagam Perjuangan Semesta.
Puji syukur kepada Tuhan, karena pada hari ini dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Piagam Permesta ke 50, kita boleh melaksanakan acara ibadah syukuran sebagai puncak sukacita iman kita orang beragama. Saya tau, pada saat saat seperti ini ada banyak kegiatan perayaan diselenggarakan untuk memperingati hari bersejarah peristiwa 50 tahun silam di Makasar. Saya mendapat informasi di Amerika dan juga di Eropa serta beberapa negara lain di luar negeri, ada perayaan perayaan serupa diadakan. Ini membuktikan bahwa jiwa dan semangat Permesta tidak mati bahkan telah mendunia.
Saudara saudara sekalian.
Merayakan suatu peristiwa yang bersejarah memang pantas dan perlu. Akan tetapi kita hendaknya harus mampu memberi makna pada event seperti ini, agar tidak sekedar seremonial dan akhirnya mubasir. Memang, ada anggapan bahwa merayakan suatu peristiwa bersejarah, penting untuk terus mengobarkan jiwa dan semangat dari peristiwa yang dirayakan itu. Seperti yang kita rayakan sekarang ialah untuk membangkitkan, melestarikan, dan menggelorakan terus jiwa dan semangat Piagam Permesta. Akan tetapi saya ingin bertanya, apakah kita semua yang merayakan ini, paham dan benar benar menghayati jiwa dan semangat Permesta itu?.
Mungkin di antara kita, ada yang salah kaprah mengira semangat yang harus terus kita kobarkan adalah semangat tempur, tidak gentar terjun ke medan laga seperti yang kita pernah tunjukkan hampir 50 tahun silam. Memang benar, heroisme itu perlu kita dalam arti sebenarnya. Tetapi hendaknya diingat bahwa heroisme itu juga berlaku dalam berbagai bidang kegiatan hidup manusia, dan bukan hanya melulu untuk bertarung. Heroisme itu harus kita tampilkan sesuai dengan konteks zaman. Kita harus jeli membaca tanda tanda zaman. Ketika kita berada di era reformasi, kita harus menjadi reformis yang herois. Ketika kita memasuki era pembangunan, kita juga harus menjadi pahlawan pembangunan. Pendek kata kita harus menjadi manusia manusia yang mampu beradaptasi, mengatasi dan menguasai kondisi setiap gerak perkembangan zaman. Jangan lupa kita sedang memasuki era baru yaitu era globalisasi. Hanya manusia manusia yang telah mempersiapkan diri yang akan survive memasuki era baru ini. Type manusia dimaksud adalah manusia yang kaya paripurna. Kaya paripurna, adalah kaya spiritualitas, kaya intelektualitas dan kaya materialitas. Proses menuju kesana, untuk terbentuknya komunitas yang kaya paripurna sesuai dengan ciri falsafah baku beking pande sesuai budaya mapalus yang kita miliki.
Saudara saudara, saya bangga melihat jiwa dan semangat Permesta yang berkobar kobar dalam diri saudara, baik bagi generasi pelaku maupun generasi muda penerus. Tetapi jangan lupa, ide yang terkandung dalam piagam Permesta itu, hidup dan berkembang sesuai dengan kondisi dan tuntutan zaman. Apa yang menjadi aspirasi dan tuntutan kita di masa silam, ada yang sudah terwujud dan perlu dikembangkan. Tetapi pasti ada pula yang sudah tidak relevan dan kadaluwarsa. Itu sebabnya jiwa dan semangat Permesta, itu tetap tumbuh dan berkembang sesuai konteks saman.
Saya saluut perakarsa yang diambil Rukun Sukuyon melakukan perayaan Yubelium Permesta dengan cara dan gaya yang lain. Tempat yang dipilih yaitu tempat terpencil tapi sangat bersejarah, membuktikan bahwa Permesta memang tetap menyatu dan memperjuangan kepentingan rakyat. Saya lebih terkesan lagi karena pokok acara yang dilakukan adalah ibadah syukuran. Ini membuktikan adanya kekayaan spiritualitas. Kemudian dirangkaikan dengan pencanangan objek Wisata Permesta Resort, yang antara lain diwujudkan dengan kegiatan arenisasi. Kemitraan yang dijalin dengan Pemerintah Kabupaten Minsel dan pihak Yayasan Masarang, mencerminkan adanya pola pikir yang kaya intelektualitas. Kemudian upaya mengintensifkan penanaman pohon aren, jelas adalah sebuah pandangan futural yang mampu melihat jauh kedepan. Kita tahu bahwa dunia kini sedang mengalami krisis energi. Tidak lama lagi planet bumi kita akan mengalami kekeringan bahan bakar fosil, karena kandungannya semakin menipis. Para akhli dari negara negara industri maju sedang menguras otak untuk menciptakan sumber energi alternatif. Kita di Indonesia lebih khusus di daerah kita, memiliki sumber energi alternatif yang sangat kaya, yaitu etanol. Dan etanol itu, berada di pohon pohon aren yang ada di sekeliling kita. Hanya tinggal melalui sentuhan teknologi yang tidak rumit, kita dapat memproduksi bio fuel yaitu etanol. Dan ini adalah sumber kekayaan yang kita miliki. Karena itu pada kesempatan ini, saya serukan mari kita rame rame tanam pohon aren. Jadi kaya, Tole.... Dulu pohon seho, tampa torang basambunyi. Sekarang mari torang beking pohong seho tampa torang for jadi kaya.
Akhirnya, sekali lagi saya saluut atas prakarsa yang dilakukan oleh Rukun Sukuyon.
Saya sangat berkerinduan, hadir dan bergembira bersama saudara saudara saat ini, tetapi kondisi fisik saya tidak memungkinkan.
Tetapi percayalah, hati dan jiwa saya tetap menyatu dengan saudara saudara. Doa saya menyertai kamu semua.
Tuhan kiranya beserta kita.
Pakatuaan wo pakalawiren.
Selamat Berjuang.
Kakaskasen, 4 Maret 2007.
Para eksponen Permesta: ex CTP, Ikaselanpe, dll ba foto:



Generasi muda Permesta...

Senin, 5 Maret 2007
Ke rumah alm. Bernard John Salendu (Cimahi, 7 Oktober 1936 - Jakarta, 26 Agustus 1992), ex Kapten
Kompi Combat Intellegence Permesta di WK-III.


Ketua Umum Panitia Pulang Kampung dari Jakarta (baju merah tua), Ventje Memah

HIDUP PERMESTA ...!!
Script by: PIO
Anda Pengunjung ke: 443

